Perlukah UU Ceramah Anti-Intoleransi dan Pemecah-Belah?

Perlukah UU Ceramah Anti-Intoleransi dan Pemecah-Belah?

- in Suara Kita
180
0
Perlukah UU Ceramah Anti-Intoleransi dan Pemecah-Belah?

Cobalah kita renungkan. Selama ini, ketika kita ada kesadaran dalam hati, ingin merajut kehidupan sosial yang harmonis satu-sama lain di tengah keragaman. Hal itu selalu gagal dan sering terhambat. Karena, ada begitu banyak oknum penceramah keagamaan yang terus mengajak umat berpecah-belah. Serta, mengajak umat menutup ruang sosial dengan dalih prinsip iman. Lalu enggan untuk hidup berdampingan satu-sama lain di tengah keragaman.  

Kondisi yang semacam ini tentunya tidak bisa kita diamkan. Lantas, perlukah di negeri ini membangun semacam UU ceramah yang steril atau anti terhadap intoleransi dan pemecah-belah? Sebab, keberadaan aktor penceramah yang doyan menyebarkan kebencian, doyan mengajak umat berpecah-belah dan merobek persatuan umat itu tidak bisa ditolerir lagi keberadaannya. Saya rasa, perlu adanya semacam benteng hukum untuk meng-counter setiap ceramah yang bernuansa intoleransi dan memecah-belah itu wajib dieksekusi.

Bahkan, jika kita bersifat permisif terhadap oknum-oknum ceramah yang demikian, niscaya bangsa yang kaya akan keragaman ini akan mengalami semacam “osteoporosis”. Di mana, persatuan kita akan retak dan kebersamaan kita akan terus keropos. Hingga, berujung pada konflik berdarah. Maka, di situlah kehancuran akan menjadi kenyataan jika tidak segera kita tolong.

Maka, dari sinilah sebetulnya penting bagi kita untuk membangun semacam regulasi hukum berupa UU yang berkaitan dengan ceramah intoleransi dan pemecah-belah itu. Dengan membentuk semacam aturan untuk tidak memberikan ruang-panggung terhadap siapa-pun yang berupaya mem-provokasi, menyampaikan ajaran agama atau-pun berkonfoi tentang ajaran agama yang mengarah ke dalam intoleransi dan memecah-belah. Maka, wajib untuk dilarang dan perlu adanya semacam sanksi yang sangat ketat.

Bahkan, cobalah kita pahami. Jika negara Singapura begitu tegas, ketat dan anti terhadap penceramah intolerant-pemecah-belah. Maka, kita sebagai negara yang kaya-raya akan perbedaan, harus lebih ketat, tegas dan anti terhadap oknum penceramah dengan kriteria demikian. Bahkan, jika negara Singapura basis-nya menolak masuk ke wilayahnya, kita harus menolak untuk tidak memberikan panggung bagi oknum penceramah yang demikian itu.

Karena, kebenaran sejati dalam agama itu tidak pernah mengajarkan umat manusia beriman lalu melupakan lingkungan sosial-nya. Bahkan, tidak ada kebenaran agama yang justru menjadikan kita penuh kebencian terhadap siapa-pun. Karena agama bukan alat untuk merusak kehidupan sosial-kemanusiaan menjadi kacau-balau. Melainkan hadir sebagai titik terang di mana, agama hadir sebagai tuntunan bagi siapa-pun untuk lebih saling memanusiakan manusia lain.

Kita mungkin pernah mendengar istilah dalam Islam, bahwa senyum itu ibadah. Ini menjadi satu pemahaman penting bagi kita untuk lebih sadar. Jika, sikap senyum yang kita lontarkan kepada orang lain itu sebagai bagian dari ibadah. Apalagi kita bisa bergandeng tangan untuk saling bersaudara, hidup harmonis dan saling hidup berdampingan tanpa berpecah-belah serta tidak saling mengganggu. Lantas, bukankah itu sebagai bagian dari ibadah yang sangat mulia untuk kita lakukan?

Jadi, bukan sebagai sesuatu yang melecehkan apalagi menganggap anti agama. Jika ada semacam penolakan seorang penceramah yang pernah intoleransi dan kebencian. Hal itu sebagai bagian dari jihad demi menjaga marwah agama sekaligus demi menjaga tatanan sosial kemanusiaan. Mengapa? Karena ajaran agama tidak pernah mengajarkan hal yang semacam itu dan ajaran agama selalu relevan dengan kemanusiaan.

Maka, sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Perlukan UU ceramah yang anti-intoleransi dan pemecah-belah? Tentu saya rasa perlu dan bahkan kita sebagai masyarakat Indonesia juga penting untuk menolak keberadaan penceramah-penceramah yang demikian. Sebab, di satu sisi penceramah yang intolerant dan memecah-belah akan menodai marwah agama-Nya serta akan merobek NKRI yang seharusnya kita jaga ini.

Facebook Comments