Persaudaraan Islam Harus Mempunyai Resonansi Perdamaian

Persaudaraan Islam Harus Mempunyai Resonansi Perdamaian

- in Suara Kita
1147
0
Persaudaraan Islam Harus Mempunyai Resonansi Perdamaian

Membangun imajinasi tentang sebuah bangsa bersama bukan perkara mudah. Pemuda Indonesia telah berhasil mengembangkan imajinasi kolektif itu dengan membangun rasa persatuan dan persaudaraan yang tidak melihat latar belakang primordial masing-masing. Indonesia berdiri kokoh di atas perjanjian luhur Pancasila yang tidak menghilangkan perbedaan, tetapi mengharmonikannya.

Peristiwa ini pula yang juga dialami oleh Nabi Muhammad ketika mengimajinasi sebuah peradaban madani yang dibangun atas jalinan persaudaraan. Ketika Rasulullah membangun komunitas, ia tidak dibangun berdasarkan pada keunggulan identitas keagamaan tertentu tetapi berdasarkan kesetaraan.

Penguatan pondasi peradaban Islam salah satunya dengan menyadari pentingnya ikatan persaudaraan, seperti yang dilakukan Rasulullah yang dapat mempererat persatuan muhajjirin (kaum pendatang) dan juga anshar.  Persaudaraan Islam tidak hanya berdasarkan pada sempitnya hubungan hanya sesama muslim. Persaudaraan Islam harus membuat resonansi ketenangan dan kedamaian bagi yang lain.

Dengan cara memperkuat persaudaraan seperti ini, Islam tentunya akan mampu menjamin kebebasan masyarakat lintas agama dan juga suku bangsa. Persaudaraan Islam bukan ingin membangun kegagahan, tetapi meresonansi ketenangan.  Lihatlah, di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan umat yang beragama di bawah konstitusi Madinah yang terdiri dari berbagai suku, agama serta keyakinan yang berbeda-beda. 

Persaudaraan Islam pada akhirnya membentuk suatu gugusan ide dan tindakan tentang persaudaraan madani. Persaudaraan yang membangun rasa kebangsaan, bukan malah meruntuhkan persaudaraan dengan adanya beberapa golongan yang mampu memecah belah persatuan bangsa.

Persaudaraan Madani seperti yang dibangun di Madinah bukan sekedar persaudaraan yang diikat dengan aturan. Persaudaraan Madani adalah persaudaraan yang dibangun dengan ikatan perjanjian untuk membangun suasana yang rukun dan damai. Perbedaan bukan suatu halangan untuk membangun persaudaraan.

Persaudaraan madani harus ditiru sebagai cara pandang dalam melihat keragaman dalam konteks bangsa dan negara saat ini. Persaudaraan itu telah mampu merajut persaudaraan lintas agama yang pernah ada dalam sejarah kerukunan dan perdamaian lintas agama dan bangsa.

Indonesia mempunyai modal yang cukup baik dalam merajut persaudaraan lintas suku, etnik, bahasa dan keyakinan. Peradaban nusantara bahkan bisa menjadi model dari konsep persaudaraan dunia yang multikultur. Lihatlah yang berbeda agama tidak saling terganggu, yang berbeda suku tidak merasa paling unggul dan yang berbeda etnik masih menerima yang pendatang untuk hidup bersama.

Persaudaraan Islam yang digaungkan harus mempunyai resonansi yang mempertegas persaudaraan kebangsaan. Persaudaraan Islam bukan membuat kongsi untuk kepentingan primordial semata. Tirulah persaudaraan madani yang dibangun berdasarkan persaudaraan Islam muhajirin dan anshar yang mempunyai komitmen untuk mengikat persaudaraan terhadap yang berbeda.

Jika merasa bersaudara dalam keyakinan tidak juga harus menganggap yang bukan keyakinan sebagai bukan saudara. Muslim Indonesia mempunyai ikatan persaudaraan kebangsaan yang penting dirawat dalam mengelola perbedaan.

Rumah besar Indonesia diisi oleh beragam saudara yang berbeda-beda, tetapi merasa dilahirkan dalam satu kandung ibu pertiwi Republik Indonesia. Semangat persaudaraan ini harus dijaga dari kelompok yang hendak menjual politik identitas dan komersialisasi perbedaan. Tujuan mereka hanya satu meraup keuntungan di tengah konflik sosial.

Karena itulah, dalam konteks bernegara dan berbangsa menjaga persaudaraan tidak sempit hanya klaim persaudaraan satu kelompok saja. Persaudaraan harus dibangun dengan wawasan yang luas yang menjadikan ikatan kebangsaan sebagai hubungan persaudaraan. Bukan semangat membangun persaudaraan jika masih memandang yang berbeda sebagai bukan saudara.

Facebook Comments