Perusakan Masjid Ahmadiyah dan Bahaya Laten Egoisme Beragama

Perusakan Masjid Ahmadiyah dan Bahaya Laten Egoisme Beragama

- in Suara Kita
811
0
Perusakan Masjid Ahmadiyah dan Bahaya Laten Egoisme Beragama

Islam, bahkan agama-agama lainnya, sama sekali tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya beragama dengan cara pandang egois. Namun, praktek keagamaan seringkali (masih) didasarkan pada cara pandang egois. Perusakan tempat ibadah (masjid) milik Jemaat Ahmadiyah di Sintang, Kalimantan Barat yang terjadi belum lama ini adalah contohnya.

Betapa sensitivitas keagamaan diakumulasikan dengan pendapat pribadi atau suatu kelompok tertentu sehingga melahirkan laku pembakaran dan pengrusakan fasilitas ibadah. Semua ini, menurut hemat penulis karena egoisme beragama. Cara beragama seperti inilah yang kemudian akan melahirkan tafarruq (perpecahan), tatharruf (ekstrim), ghuluw (berlebihan), takabur (sombong/angkuh) dan hal lain yang dapat merusak kohesi sosial.

Islam misalnya, melalui baginda Nabi Muhammad SAW, mengajarkan bahwa egoisme beragama harus dikubur dalam dalam. Hal ini sebagaimana sabda beliau: “Janganlah menyatakan diri kalian suci. Sesungguhnya Allah yang lebih tahu manakah yang baik diantara kalian.” (HR. Muslim). Bahkan dalam hadis lain, secara tegas nabi bersabda: “ Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Egoisme dalam beragama bisa saja merujuk pada istilah lain seperti ekstrimisme, eksklusufisme, libertarianisme dan anarkisme. Dalam bahasa teolog Taiwan Choan Seng Seng, sebagaimana dikutip Dudy Effendi (2010) disebut pada hakikatnya adalah fanatisme buta. Fanatisme jika ditempatkan pada porsi yang semestinya tidak akan menjadi persoalan karena ia merupakan salah satu modal untuk loyal pada agama atau kelompok tertentu, tetapi jika fanatisme itu berlebihan (buta), maka sejatinya merupakan pengkhianatan terhadap agama itu sendiri. Lebih jauh lagi, sikap tersebut juga biang dari terjadinya konflik horizontal.

Bahaya Laten

Secara lebih rinci, egoisme dalam beragama memiliki bahaya laten sebagai berikut; pertama, bisa memicu terjadinya konflik di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang majemuk dan plural. Dengan demikian, egoisme dalam beragama merupakan ancaman nyata sendi-sendi persatuan sosial yang sejatinya merupakan salah satu esensi nilai-nilai agama.

Kedua, penghalang utama terealisasinya nilai-nilai moralitas sosial. Mark Leary dalam “The Problem of Self Centeredness and the Paradox of Religion” menegaskan bahwa  egoisme beragama telah menyumbang dengan sekala besar munculnya beragam perilaku anti-sosial dan perselisihan sosial. Dan inilah yang kita lihat hari ini; banyak praktek keagamaan yang justru menyelisihi nilai luhur agama itu sendiri karena mereka menjadi penghalang terealisasinya moralitas sosial.

Ketiga, menafikan kemashlahatan umum. Egoisme dalam beragama jelas lebih banyak mengundang madlarat (kerugian). Bahkan cara beragama seperti itu akan menciptakan dua masalah besar, yakni egoisme dalam pikiran dan perilaku beragama. Keduanya ini akan melahirkan tindakan yang menafikan kemashlahatan umum. Karena egoisme beraga akan selalu mengedepankan sikap merasa benar sendiri sehingga bisa melakukan apa saja terhadap orang atau kelompok lainnya.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa egoisme beragama sangat membahayakan kehidupan sosial dan dapat menggerus pentingnya nilai-nilai keagamaan secara humanis serta persatuan. Oleh karena itu, egoisme beragama tidak boleh berkembang di negeri yang plural ini.

Petunjuk Islam

Menyikapi maraknya fenomena egoisme beragama, maka perlu kiranya ditelisik lebih dalam lagi petunjuk Islam tentang bagaimana beragama yang tepat di alam yang majemuk dan plural seperti Indonesia. Hal ini tentu saja membutuhkan komitmen diri dan sosial dalam beragama yang dilandasi oleh beberapa hal.

Pertama, kedewasaan, kearifan dan keadilan. Tanpa ragu sedikit pun dapat kita katakan bahwasannya egoisme dalam beragama itu cara anak kecil. Oleh sebab itu, dibutuhkan kedewasaan dalam beragama agar tidak terjebak pada egoisme sehingga bisa bersikap dan bertindak arif dan adil kepada siapapun, termasuk di dalamnya orang atau kelompok yang berlainan pendapat dan keyakinan.

Kedua, tafahum. Munculnya egoisme dalam beragama merupakan salah satu dampak dari ‘minimalisnya’ pemahaman tentang ajaran agama. Oleh karena itu, perlu dipelajari lebih lanjut ajaran agama secara mendalam agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Sebagai contoh, dalam konteks keyakinan Islam, konsepsi tauhid semestinya bisa dipahami lebih mendalam, yakni sebagai keharusan untuk bersatu (ittihadul ummah), bukan malah sebaliknya, yaitu memperlebar jurang perpecahan.

Ketiga, tasamuh (toleransi). Secara bahasa, tasamuh memiliki arti rendah hati atau lapang hati. Namun, oleh pemikir Islam, tasamuh ini juga berarti merujuk pada toleransi. Islam adalah agama yang menghargai perbedaan. Sementara kewajiban seorang muslim terhadap orang yang memiliki perbedaan keyakinan bukanlah memusuhinya, namun mendakwahkan ajaran Islam yang benar. Urusan mau atau tidak, itu bukan ranah kita untuk memaksa. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang buta huruf, “Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 20).

Jika ketiga hal di atas sudah menjadi landasan dalam beragama, maka egoisme dalam beragama yang kerap diwujudkan dalam tindakan saling menghina, meremehkan, menyesatkan, dan menghukumi sepihak antar sesama saudara akan lenyap. Sebagai gantinya, tindakan yang lebih humanis dan pikiran yang jernih akan menghiasi cara kita dalam beragama.

Facebook Comments