Pesan Imam Nawawi dalam Mewujudkan Bangsa Berakhlak

Pesan Imam Nawawi dalam Mewujudkan Bangsa Berakhlak

- in Suara Kita
849
1
Pesan Imam Nawawi dalam Mewujudkan Bangsa Berakhlak

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akhlak yang bagus; akhlak yang salin merawat satu sama lain, akhlak yang menerima perbedaan yang ada di masyarakat. Terutama Indonesia, bangsa yang multikultur etnis atau budaya harus memiliki akhlak agar menjadi bangsa yang lebih baik.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia besar karena akhlak masyarakat bisa menerima terhadap perbedaan yang ada dalam masyarakat. Baik bentuk dalam budaya, agama atau cara berpolitik. Ironinya, dalam masa kebebasan informasi ini, banyak orang yang merusak akhlak masyarakat dengan menyebarkan informasi-informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Untuk menjaga bangsa Indonesia, kita harus mengingat petuah dari Imam Nawawi bagaimana dalam berbangsa harus menjaga akhlaknya. Dalam kitab al-Futuhat al-Madaniyah fis Syu’ab al-Imaniyah karya beliau menyebutkan bahwa, akhlak suatu bangsa yang besar adalah saling menjaga antara penguasa dan masyarakat. Saling sinergi mewujudkan bangsa yang bermartabat.

Imam Nawawi dalam mewujudkan bangsa berakhlak menegakan bahwa masyarakat harus patuh kepada pemimpin (ulul amr).  Meskipun pemimpin tersebut berbeda golongan dari kita. Beliau juga menegaskan taat kepada pemimpin baik ia dari seorang budak buruk rupa. Masyarakat wajib menaatinya selama ada perintah yang baik.

Dalam kitabnya, Imam Nawawi menceritakan bahwa ada seorang non-muslim yang masuk ke daerah. Ia menyaksikan bagaimana masyarakat yang hidup damai dan rukun adalah masyarakat yang selalu menyabut suka-cita ketika seorang pemimpin datang. Ketika seorang non-muslim melihat lebih teliti, pemimpin tersebut seorang budak tetapi masyarakat tetap menghormati dan menaatinya.

Menaat pemimpin, harus diiringi dengan menjaga amanah yang dipercayakan masyarakat tersebut. Idealnya, seorang pemimpin harus mewujudkan rasa aman, dan adil dalam lingkungan masyarakat. Tidak mementingkan kepentingan kelompok tertentu, bahkan kepentingan dirinya sendiri. Ketika ini terjadi, maka mewujudkan bangsa berakhlak akan sulit.

Imam Nawawi menjelaskan beberapa akhlak yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti mengemban kekuasaan dengan adil pada poin ke-50. Pemimpin harus membuat keputusan dengan benar di tengah masyarakat. Hindari hawa nafsu yang hanya membawa pemimpin kepada ke pentingan segelintir orang dan mengabaikan kemaslahatan masyarakat luas. Kepemimpinan akan dipertang gungjawabkan di kehidupan dunia sekaligus akhirat. Masyarakat akan menilai apakah kepemimpinan berjalan dengan baik atau tidak. Allah juga akan mengganjar kepemimpinan baik dengan pahala atau bahkan siksaan.

Dalam konteks saat ini, menaat pemimpin dan menjadi pemimpin yang amahan adalah suatu kewajiban. Sebab, bangsa Indonesia menganut paham demokrasi yang pemilihan pemimpin di tangan rakyat langsung. Menaat pemimpin adalah menaat pilihan tangan sendiri. Dengan kata lain, kita sebagai masyarakat ikut andil dalam menjaga bangsa Indonesia, bangsa berakhlak.

Facebook Comments