Pidato Muhammad dan Semangat Perdamaian di Bulan Ramadhan

Pidato Muhammad dan Semangat Perdamaian di Bulan Ramadhan

- in Suara Kita
2198
1
Pidato Muhammad dan Semangat Perdamaian di Bulan Ramadhan

Bias kontestasi politik tahun 2019 menyisakan luka mendalam terhadap bangsa ini. Kebencian, serta perpecahan menjadi pisau tajam yang menggores dan mengoyak wajah Indonesia. Salah satu yang menjadi faktor terjadinya hal itu adalah overload informasi. Konten provokatif dan sarat akan kebencian mempengaruhi sebagian masyarakat untuk membenci bahkan menghakimi satu sama lain. Alhasil, kegaduhan menjadi budaya yang sangat lekat dengan bangsa yang katanya cinta akan kedamaian ini.

Hiruk-pikuk yang terjad saat ini harus kita sudahi. Masyarakat harus bangkit dan menjalin persaudaraan kepada seluruh elemen yang ada di Indonesia. Terlebih, saat ini masyarakat mayoritas di Indonesia sedang melakukan puasa di bulan Ramadhan. Bulan suci nan penuh keberkahan dan perdamaian.

Momen ini sebaiknya menjadi pondasi awal penyebar kedamaian dan kebaikan secara semesta. Karena Rasullah telah berpesan bahwa di bulan ini, bukan hanya muslim melainkan seluruh umat manusia harus memperbanyak berbuat kebaikan. Hal tersebut terlihat dalam salah stau hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, di mana khutbah Rasul dalam perintahnya memakai kata “an nas” (manusia) bukan “muslim” saja.

Semangat Perdamaian

“Wahai manusia, sungguh bulan agung dan penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai ibadah sunnah.Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan tersebut, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.”

Baca juga : Ramadan, Fathu Makkah dan Rekonsiliasi Ala Rasulullah

“Ramadhan itu adalah bulan kesabaran; sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah bulan pertolongan. Pada bulan itu rezeki orang-orang mukmin ditambah.”

“Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang  yang berpuasa di bulan itu, maka ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka.  Orang itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya, tidak berkurang sedikit pun.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tak semua dari kami memiliki makanan untuk berbuka bagi orang lain.” Rasulullah menjawab, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu.” Nabi pun melanjutkan, “Dialah Ramadhan, bulan yang permulaannya dipenuhi dengan rahmat, hari pertengahannya dipenuhi dengan ampunan, serta pada hari terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka.”

“Barangsiapa yang meringankan beban pekerjaan pembantu-pembantu rumah tangganya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari api neraka.”

“Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, hendaklah kamu sekalian dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. (Untuk meraih) dua bagian yang pertama, hendaklah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. (Untuk meraih) dua bagian yang kedua hendaklah memohon (dimasukkan ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka.”

“Siapa yang memberi minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku, suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya, sehingga ia masuk ke dalam surga.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah: 1780; al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman: 3455. Redaksi hadits di atas riwayat Ibn Khuzaimah)

Apa yang disampaikan kepada Rasul di atas merupakan pesan damai untuk seluruh umat manusia. Terutama di bulan Ramadhan. Bahkan, Rasul menegaskan kepada para sahabat, bagi mereka yang tidak bisa berbagi kepada saudaranya di bulan tersebut, cukup baginya untuk memberi sebutir kurma, beliau berkata, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu”.

Dari hadis itu, kita bisa melihat begitu cintanya Nabi kepada kedamiaan. Sehingga dalam pidato khusus di bulan Ramadhan itu, beliau memakai kata manusia yang berarti umum, bukan muslim saja.

Jadi, Apabila masih ada masyarakat Indonesia yang mengaku cinta dan pengikut Nabi Agung Muhammad, namun masih menebar kebencian di bulan suci tersebut, maka perlu dipertanyakan, ajaran Rasul yang mana yang ia ikuti?

Facebook Comments