Polemik Gerakan ANNAS dan Ancaman Konflik Sektarian di Indonesia

Polemik Gerakan ANNAS dan Ancaman Konflik Sektarian di Indonesia

- in Narasi
505
0
Polemik Gerakan ANNAS dan Ancaman Konflik Sektarian di Indonesia

Peresmian gedung dakwah Aliansi Nasional Anti Syaih (ANNAS) di Bandung yang dihadiri Walikota Yana Mulyana menuai polemik publik. Ada setidaknya dua persoalan dalam hal ini. Pertama, gerakan ANNAS yang mengusung isu anti-syaiah berpotensi menimbulkan gejolak sosial.

Kedua, kehadiran Walikota Bandung dalam acara tersebut menjadi preseden buruk bagi pemerintah daerah. Pemimpin daerah idealnya melarang gerakan yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan nasional. Bukan justru hadir di acara kontroversial yang diinisiasi organisasi terlarang.

Dilihat dari namanya saja, gerakan ANNAS problematis. Organisasi ini mengusung agenda anti-Syiah. Sebuah agenda yang potensial menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Gerakan ANNAS cenderung mempersepsikan kelompok syiah sebagai aliran sempalan dalam Islam yang layak dicap sesat, bahkan kafir. Persepsi yang demikian lantas kerap dipakai sebagai alat untuk menjustifikasi tindakan diskriminasi, intimidasi, bahkan persekusi terhadap kaum Syiah yang notabene merupakan kelompok minoritas di negeri ini.

Sudah tepat kiranya pemerintah melarang organisasi ANNAS. Tersebab, jika dibiarkan, sentimen anti-Syiah yang diusung oleh kelompok ANNAS ini rawan menimbulkan konflik sektarian. Yakni benturan sosial-politik yang melibatkan kelompok atau sekte dalam sebuah agama. Dalam konteks ini, kita patut berkaca dari apa yang terjadi di Suriah. Konflik di Suriah memang kompleks, lantaran melibatkan kepentingan banyak pihak. Namun, awal munculnya konflik Suriah sebenarnya dimulai dengan munculnya adu-domba Sunni versus Syiah.

Adu Domba Sunni-Syiah Sebagai Strategi Kaum Radikal Merebut Kekuasaan

Upaya memecah belah umat dengan isu Sunni versus Syiah sebenarnya bukan fenomena baru. Di banyak negara Timur Tengah, isu Sunni versus Syiah telah menjadi semacam komoditas politik kaum konservatif-kanan untuk memecah-belah umat, memantik konflik, dan merebut kekuasaan. Skenario itu tampaknya ingin dimainkan di Indonesia. Salah satunya oleh gerakan ANNAS. Gerakan ini berusaha menebarkan propaganda dan provokasi kebencian terhadap komunitas Syiah di Indonesia. Tujuannya ialah menciptakan gesekan horisontal di kalangan umat Islam itu sendiri, yakni antara golongan Syiah dan Sunni.

Jika konflik itu benar terjadi, mereka akan tampil ke permukaan bak pahlawan dengan maksud merebut kekuasaan. Di titik inilah kita patut mewaspadai kebangkitan gerakan ANNAS sebagai gejala awal mencuatnya konflik sektarian. Umat Islam Indonesia harus bersatu-padu melawan segala gerakan yang memiliki agenda memecah-belah umat dari dalam demi memuluskan agenda merebut kekuasaan.

Langkah awal yang terpenting ialah membangun kesadaran di kalangan umat Islam bahwa munculnya dua aliran besar dalam Islam, yakni Sunni dan Syiah adalah sebuah keniscayaan sejarah. Umat Islam harus memahami bahwa Sunni dan Syiah muncul bukan karena konflik teologis, melainkan lebih karena dilatari motif politik. Perebutan kekuasaan di kalangan umat Islam sepeninggal Rasulullah melahirkan dua aliran teologis, yakni Sunni dan Syiah. Secara hakikat aqidah, kedua aliran itu tetap berpegang pada prinsip yang sama. Yakni percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad ialah utusan Allah. Keduanya juga meyakini bahwa Alquran adalah kitab suci dan sumber hukum Islam (syariah).

Membendung Propaganda Sektarianisme di Indonesia

Perbedaan antar kedua golongan tersebut hanyalah pada level khilafiyah yang tidak menyangkut prinsip akidah. Namun, dalam perkembangannya, isu Sunni-Syiah kerap dimanipulasi, dieksploitasi, bahkan dipolitisasi oleh kelompok tertentu. Terutama para politisi konservatif kanan dan golongan radikal-ekstrem. Tuduhan bahwa Syiah adalah golongan sesat dan kafir menjadi semacam fatwa yang menghalalkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Syiah. Di Indonesia, sejumlah kasus kekerasan fisik terhadap komunitas Syiah terjadi di banyak tempat. Mulai dari Madura, hingga Lombok.

Langkah kedua ialah mencegah agar provokasi konflik sektarian yang membonceng sentimen anti-Syiah tidak sampai meluas. Upaya ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, ormas keagamaan, dan para tokoh agama. Pemerintah wajib memastikan organisasi-organisasi pengusung sentimen anti-Syiah seperti ANNAS ini tidak bisa bermanuver. Pemerintah wajib menutup ruang gerak mereka melalui penegakan hukum yang tegas.

Sedangkan ormas keagamaan dan para tokoh agama bertanggung-jawab untuk menjalin komunikasi dan kerjasama demi mempererat ukhuwah di kalangan umat Islam. Dengan begitu, kita bisa meredam gejala konflik sektarian yang berusaha diskenariokan oleh segelintir oknum umat Islam. Ormas keagamaan dan para tokoh agama harus membangun kesadaran di tengah umat bahwa meski berbeda aliran, pemikiran, dan tata cara peribadatan, Sunni dan Syiah pada dasarnya tetaplah muslim yang saling bersaudara dan wajib saling menjaga.

Facebook Comments