Politik Identitas adalah “Racun” Bagi Bangsa dan Merampas Hak Demokrasi Kita!

Politik Identitas adalah “Racun” Bagi Bangsa dan Merampas Hak Demokrasi Kita!

- in Suara Kita
211
0
Politik Identitas adalah “Racun” Bagi Bangsa dan Merampas Hak Demokrasi Kita!

Di setiap moment menjelang pesta demokrasi, kita mungkin sering mendengar berbagai argumentasi deklaratif bernuansa religious. Seperti “Dia calon pemimpin panutan umat”, “Dia calon pemimpin yang taat beragama”, “Dia calon pemimpin yang layak dan sesuai dengan Syariat-Nya”, “Dia calon pemimpin yang meneladani ajaran Nabi” dan “Dia calon pemimpin yang akan membawa bangsa, sesuai dengan perintah-Nya” dan lain sebagainya.   

Semua argumentasi-argumentasi deklaratif yang semacam ini, adalah bagian dari cara kerja politik identitas. Di mana, ini akan menjadi racun bagi kemajemukan atau kebhinekaan kita di negeri ini. Juga, tanpa kita sadari, ini merupakan praktik “merampas hak demokrasi kita” dalam memilih atas dasar pemikiran dan kebijaksanaan kita sendiri. Karena kita “dibutakan” dengan berbagai-macam hasutan terbalut dengan nilai agama.

Lantas, mengapa saya sebut sebagai “racun” bagi kebangsaan atau kebhinekaan kita? Jelas, basis politik identitas dengan argumentasi dekralatif berbaju agama, sejatinya akan semakin “meretakkan” entitas keindonesiaan kita yang majemuk. Karena orang hanya diajak memilih seorang pemimpin yang sesuai dengan identitas personal. Memanfaatkan agama sebagai “kendaraan” untuk mengejar sebuah kekuasaan.

Sehingga, orang dibuat lupa akan kesadarannya. Tentang seorang pemimpin yang bisa merangkul semua pihak. Yaitu, bisa merangkul semua; multi-ras, multi-etnik, budaya, agama dan segala perbedaan yang ada di negeri ini. Agar, semua bisa hidup rukun, berdampingan, tanpa saling mengganggu. Saling memberi rasa aman, penuh tolerant dan disertai kedamaian.

Maka, di sinilah titik terang. Mengapa praktik politik identitas sebagai praktik politik yang akan menjadi “racun” karena mengorbankan kemajemukan bangsa ini. Banyak orang saling berkelahi dan bahkan saling membunuh hanya karena mereka sebagai korban dari politik identitas. Bahkan, politik identitas tentu hanya memiliki misi-kepentingan bagi kelompok-nya saja.

Bahkan, Indonesia pernah mengalami sejarah pahit. Di mana, perhelatan demokrasi kita dinodai oleh beragam konflik, kebencian, provokasi pemecah-belah dan arus permusuhan antar masyarakat Indonesia. Hanya karena permainan politik identitas ini. Maka, sangat mutlak saya katakan bahwa, politik identitas adalah “racun” bagi bangsa ini yang begitu majemuk.

Selain itu, politik identitas jelas sangat merampas hak ber-demokrasi kita. Mengapa? kalau kita renungkan kembali. Pernahkah kita berpikir tentang satu pemimpin yang didasari penalaran, pengamatan, kebijaksanaan memilih dan atas pertimbangan yang begitu ketat, demi masa depan bangsa ini? Tentu, ketika kita masih terbawa arus provokasi tentang pemimpin yang akan kita pilih. Hanya atas dasar hasutan dan provokasi untuk memilih si-A karena dia agamanya ini dan memiliki identitas ini.

Tentu, ini bagian dari praktik politik identitas yang (tanpa kita sadari) telah merebut hak kebebasan demokrasi kita. Sebab, kita memiliki hak kebebasan dalam demokrasi. Untuk memilih bukan atas dasar suruhan atau hanya ikut-ikutan kelompok tertentu atau terpengaruh dengan deklarasi berlabel-agama itu. Melainkan, memilih atas dasar komitmen dan pertimbangan dirinya sendiri. Semata-mata demi masa depan bangsa agar tetap aman, damai, nyaman dan penuh dengan toleransi satu-sama lain.

Oleh karena itulah, kita perlu menjauhi praktik politik identitas. Sebagaimana ciri atau corak-karakter politik identitas selalu berpihak pada satu identitas atau satu golongan. Maka, di sinilah nilai kebangsaan atau nilai kebhinekaan bangsa ini akan dikorbankan. Maka, mutlak saya katakan, bahwa politik identitas adalah “racun” yang harus kita hindari. Juga, politik identitas akan semakin merampas hak kebebasan demokrasi kita.

Facebook Comments