Posisi Khilafah dan Jihad dalam Konteks Kebangsaan

Posisi Khilafah dan Jihad dalam Konteks Kebangsaan

- in Suara Kita
1063
1
Posisi Khilafah dan Jihad dalam Konteks Kebangsaan

Ada begitu banyak praktik politik kekuasaan dan kejahatan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang saya temui. Mereka-mereka ini selalu melegitimasi keduanya ke dalam dua stigma pembenar yaitu khilafah dan jihad. Sebagaimana, mereka seperti kehausan untuk menginginkan tegaknya negara berbasis khilafah yang dianggap “sesuai” dengan ajaran Islam. Lalu seenaknya berbuat onar, merusak rumah ibadah milik agama lain dan bertindak zhalim mengatasnamakan “kebenaran” jihad itu.

Tentunya, secara sosial-historis, kita mungkin tidak bisa menyangkal. Adanya sistem kekhilafaan yang ada dalam bentang sejarah perjalanan (umat Islam) di masa lalu. Kita perlu mempelajari dan memahami itu dengan benar dimensi itu. Pun, kita tidak pernah mengenyampingkan konsep jihad dalam Islam itu sendiri.

Namun, ada begitu banyak eksploitasi yang memanfaatkan khilafah dan jihad sebagai “alat pembenar” untuk mencuri kekuasaan. Serta, merusak dan berbuat zhalim di negeri ini. Maka, jangan biarkan khilafah dan jihad itu dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu. Lalu dengan mudahnya dijadikan alat untuk merusak tatanan dan merebut kekuasaan yang ada di negeri ini. Dengan membawa embel-embel khilafah dan jihad.   

 Beginilah Posisi Khilafah dan Jihad dalam Kehidupan Kita Hari ini

Pertama, posisi khilafah dalam konteks keberagaman dan kemanusiaan kita hari ini. Tentu, kita perlu melihat dari dua sisi tersebut. Di mana, jika kita telusuri, konsep kekhilafaan itu adalah (sistem politik) yang dimiliki oleh umat Islam di masa lalu. Tentu, sebagaimana, sistem politik itu basis-nya kebijakan yang dibangun atas dasar (situasi-kondisi) di era-nya. Maka di era kita hari ini, jauh berbeda dengan di era sebelumnya.

Jadi, sistem kekhilafaan di masa lalu itu bukan (ajaran agama) secara formal yang harus diajarkan di era saat ini. Itu hanya dimensi (sejarah kaum muslimin) yang layak membutuhkan perbaikan, penghapusan atau-pun pembenahan secara kontekstual, jika diterapkan justru berakibat mudharat dan merusak. Karena, ini perlu melihat dan mempertimbangkan situasi dan kondisi kita saat ini. Sebab, kehidupan kita hari ini sejatinya jauh berbeda dengan apa yang ada di masa lalu.

Misalnya di negeri ini. Kita memiliki sistem politik bernegara yang (demokratis, bersatu di tengah keragaman dan saling menghargai). Jadi, keberagamaan kita berada dalam wilayah (damai, aman dan nyaman). Bahkan, secara nilai-nilai kemanusiaan, kita sangat-sangat menjunjung-tinggi akan hal itu dan sangat menolak para pelanggar kemanusiaan

Maka, secara subtansial, posisi kekhilafaan dalam kehidupan kita itu bukan sebagai simbol untuk menguasai. Jadi, jangan biarkan siapa-pun yang membangun stigma menegakkan negara khilafah yang sesuai dengan syariat Islam. Sebab, kekhilafaan yang kita miliki atau sistem kepemimpinan yang kita miliki saat ini telah mengemban dua nilai. Bagaimana dalam segi keberagamaan condong (saling menghargai, aman, nyaman dan damai). Secara kemanusiaan kita sangat-sangat diutamakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, posisi jihad dalam konteks keberagaman dan kemanusiaan kita saat ini. Di mana, jihad terkadang selalu dijadikan “alat” untuk berbuat zhalim dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Seakan, jihad selalu berkonotasi membunuh dan merusak tatanan.

Padahal, jihad dalam konteks keberagaman misalnya, kita saat ini tidak sedang diperangi, dizhalimi dan dilarang pergi ibadah ke Masjid. Maka, apa alasan kita untuk membunuh? Atau menghancurkan tatanan yang ada? Karena, jihad di dalam Islam itu memiliki pemahaman (bersungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya). Maka, apakah kezhaliman dan merusak tatanan itu ajaran-Nya?

Maka, di sinilah sebetulnya kita perlu paham (posisi) jihad dalam kehidupan kita hari ini. Sebagaimana, jihad secara kontekstual, kita bisa menjadikan jalan jihad di setiap aktivitas kita. Misalnya, bersedekah sebagai jalan jihad kemanusiaan. Atau, jihad mengajar seorang murid agar memiliki ilmu pengetahuan. Dengan orientasi untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Bahkan, jika kita pahami, jihad itu selalu berkonotasi dengan apa yang diperjuangkan oleh Nabi dan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Kita tahu, Nabi tidak pernah berbuat zhalim dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan lalu mengatasnamakan jihad. Pun, Al-Qur’an tidak ada satu ayat sedikit-pun yang membenarkan tindakan zhalim dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan itu.            

Karena Al-Qur’an hanya memiliki tiga syarat untuk memerangi orang yang memerangi, mengusir dari tanah airnya dan melarang beribadah. Dalam arti pengertian, jihad (membela diri) yang dibenarkan. Bukan jihad melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya sangat dilarang oleh Nabi dan Al-Qur’an itu sendiri.

Facebook Comments