The Power of Ramadan: Merajut Damai, Meneguhkan Kolektivitas Sosial

The Power of Ramadan: Merajut Damai, Meneguhkan Kolektivitas Sosial

- in Suara Kita
202
1
The Power of Ramadan: Merajut Damai, Meneguhkan Kolektivitas Sosial

Minggu-minggu ini, kita disibukkan oleh istilah people power dan segala turunannya. Pers, media sosial, para ahli,  tokoh agama serta masyarakat di tingkat bawah ramai-ramai membicarakannya. Mulai dari yang mendukung dan mengapresiasi;  yang melarang dan mengutuk efek yang ditimbulkan, sampai kepada aparat TNI dan Polri yang harus memastikan keamanan dan jalannya aksi. Akan tetapi, ada satu  power yang hampir luput dari perhatian kita bersama dan kita berada persis di dalamnya, yaitu the power of Ramadan.

Ramadan adalah bulan berkah nan suci di satu sisi, juga bulan yang mempunyai kekuatan dan daya dobrak di sisi yang lain. Selama ini, kita lebih banyak mengelaborasi keberkahan dan kesucian Ramadan, akibatnya sisi power dari Ramadan sering tertutupi.  Sejatinya sisi inilah yang harus terus menerus diperhatikan dan dipraktekkan di kehidupan bersama.

Kekuatan Ramadan itu terletak pada fungsinya dalam merajut damai. Taqwa sebagai output puasa (QS. 2: 183) sejatinya bertujuan untuk meciptakan kedamaian di muka bumi. Ketaqwaan bukan saja melahirkan insan-insan mampu berdamai dengan dirinya dengan cara melepaskan diri dari belenggu dunia dan kebinatangan, melainkan juga harus berani berdamai dengan linkungan sekitarnya dengan cara memepertajam kepekaan sosial dan ikut merasakan denyut nadi masyarakat, baik pada tingkat lokal, nasional, regional, bahkan dalam level hubungan internasional.

Polarisasi masyarakat baik sebelum pilpers maupan pasca penetapan rekapitulasi KPU; konflik internal yang sarat dengan kepentingan politik; manjamurnya hoax, provokasi, dan ujaran kebencian di media sosial; serta mudahnya masyarakat terbelah hanya dengan alasan ketidaksamaan preferensi pilihan politik, lahir dari ketidakmampuan kita menangkap kekuatan Ramadan ini.

Baca juga : Ramadan, Politik Berkedamaian, Dan Kemenangan Rakyat

Para pendahulu kita, secara konkrit dalam level nasional sudah membuktikan bahwa bagi mereka Ramadan bukan sekadar bulan mengumpulkan pahala, menahan lapar dan haus, atau hanya sekadar rutinitas tahunan belaka. Bagi mereka Ramadan adalah kekuatan, sarana mewujudkan kedamaian. Ini dibuktikan dengan peristiwa historis, bahwa bangsa ini merdeka dari belenggu penjajahan terjadi pada bulan Ramadan.

Merajut kedamaian sebagai refleksi dari ketaqwaan dalam hubungan berbangsa dan bernegara akan melahirkan kolektivitas sosial. Persatuan dan kesatuan tidak mungkin lahir bila tidak dibarengi dari jiwa-jiwa yang damai. Jiwa damai tidak akan muncul bila tidak ada perenungan yang dalam terhadap the power of Ramadan.

Kolektivitas sosial inilah yang menjadi modal para pendiri bangsa ini dalam melakukan kerja-kerja perlawan terhadap penjajah. Secara historis, bulan Ramadan adalah bulan yang istimewa bagi bangsa ini. Sebab, di bulan nan mulia ini, jihad kebangsaan digelorakan. Jatuhnya Horishima dan Nagasaki membuat Gerakan Angkatan Muda menculik Sukarno di Rengasdengklok, dan tidak sabar lagi agar kemerdekaan Indonesia cepat-cepat diproklamirkan. Ramadan sebagai bulan jihad kebangsaan ditandai dengan semangat aktif dan bergelora dari para pendiri bangsa.

Para Pemuda  menginkan revolusi besar-besaran. Mereka bertekad agar Indonesia merdeka dengan kekuatan sendiri, bukan dengan bantuan apalagi pemberian dari Jepang. Alhasil, proklamsi kemerdekaan pun dikumandakan pada  17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat, 9 Ramadan 1334 H. Perjungan dari sekian tahun lamanya akhirnya membuahkan hasil.

Tanggal 17 sebagai titik awal gerak negeri ini mempunyai dasar filosofis. Yudi Latif dalam Negara Paripurna (2011) menjelaskan, bahwa Sukarno sendiri memilih angka 17 dengan pertimbangan dan pemikiran yang sangat matang. Salah satu pertimbangan Sukarno adalah soal aspek religiusitas. “Tujuh belas angka suci… Mengapa Nabi Muhamamad SAW memerintahkan 17 rakaat, bukan 10, atau 20? Kerena kesucian angka 17 bukan buatan manusia,” demikian kata Bung Karno. Selain itu, 17 Ramadan sebagai turunnya Al-Quran, juga sangat dimuliakan dalam tradisi muslim di negeri ini. Dengan demikian, 17 rakaat kita melaksanakan salat, 17 Agustus kita merayakan kemerdekan, dan 17 Ramadan kita memperingati turunnya Al-Quran.

Menjadikan kedamaian dan kelektivitas sosial sebagai  the power of Ramadan mempunyai fakta historis. Fakta historis ini tentu tidak berguna, jika hanya dijadikan kenangan sejarah saja. Kita tidak bisa mengakata begitu saja, bahwa para pendahulu kita berjuang mati-matian di bulan Ramadan demi Indonesia. Tetapi, kita sendiri tidak bisa meneladaninya. Rasa lapar, haus, dan letih bagi mereka tidak ada apa-apanya jika dibandikan dengan kemerdekaan negeri ini. Tentu kita bisa merefleksikan diri, jika mereka bisa, mengapa kita tidak.

Facebook Comments