Ptotisma dan Fenomena-Fenomena Berani Malu

Ptotisma dan Fenomena-Fenomena Berani Malu

- in Suara Kita
889
0
Ptotisma dan Fenomena-Fenomena Berani Malu

Dalam sebuah adegan di tiktok tampak seorang yang berhijab tengah memakan daging babi. Tak sekedar itu, banyak beredar pula di media-media sosial lainnya seorang yang juga berhijab ngeclub laiknya para perempuan urban yang cenderung memilih kehidupan malam untuk melepaskan kepenatan hidup. Pun di pusat-pusat perbelanjaan sejenis mall, telah jamak kini orang-orang berjambang dan bercadar berlalu-lalang dan ngerumpi laiknya ABG dan kaum sosialita yang terpaksa membangun citra diri yang tak ndesa demi status kesosialitaannya.

Apa yang pernah saya sebut sebagai fenomena-fenomena wis wani wirang semacam itu sepertinya telah menjadi tuntutan zaman dimana kategori-kategori atau parameter lama, bahkan paradigma lama, terasa menggelikan ketika ingin kembali “sok suci” dan berupaya mengubah dunia.

Beberapa waktu yang lalu sejumlah tokoh yang diklaim sebagai tokoh-tokoh nasional mendeklarasikan sebuah gerakan yang, menurut klaimnya pula, ingin melawan stigmatisasi Islam yang radikal, intoleran, dan teroristik. Gerakan itu dinamakan sebagai Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI).

Ada beberapa poin yang menjadi tujuan didirikannya gerakan dengan semangat lama tersebut. Beberapa di antaranya, yang bagi saya terasa menggelikan, adalah himbauan pada semua pihak untuk tak mengarahkan narasi moderasi beragama pada liberalisasi, sekularisasi atau yang cukup membuat terkekeh disebut mereka sebagai “pengambangan keyakinan” (ptotisma) (https://nasional.sindonews.com).

Pertanyaan yang patut saya ajukan di sini untuk pertama kalinya pada gerakan dengan semangat lama semacam itu adalah ke mana sajakah mereka selama ini? Menghidupi kehidupan kudet yang terbingkai waham? Atau tengah clash dengan anak-anak mereka yang belum tentu memiliki kehidupan yang seturut dengan pengharapan mereka yang telah telat?

Damikan mereka pun pada moderasi beragama yang tengah gencar-gencarnya digelorakan oleh pemerintah juga terkesan telat laiknya celotehan orang yang baru bangun dari tidurnya. Mereka menganggap bahwa moderasi beragama cenderung mengarah pada liberalisasi, padahal pada ranah gerakan pemikiran telah lama orang yang di labeli “liberal” selama ini di Indonesia justru tampak bersemangat menyebarkan Islam-Islam sufistik yang pernah dinilai sebagai tradisional yang bagi mereka sendiri konon “kolot.”

Dengan demikian, gerakan semacam GNAI tersebut jelas adalah sebuah gerakan “masturbasif” yang mencoba menggelorakan aspirasi politik lama yang terbukti gagal. Saya tak akan mengaitkan gerakan keagamaan semacam ini dengan pilpres 2024 yang, ketika masih memakai langgam lama, terasa membosankan karena ibarat menonton telenovela telah banyak orang yang sudah tahu roll model, plot, sutradara hingga aktor-aktor lapangannya, dan bahkan hingga penata artistik dan penata musiknya.

Tapi satu hal yang pasti, dan yang bagi saya baru, adalah tudingan mereka pada moderasi beragama yang mengarah pada ptotisma. Setelah bertahun-tahun belajar Islamic Studies, baru kali ini saya mendengar istilah “ptotisma” yang oleh GNAI diartikan sebagai “pengambangan keyakinan” yang jelas berkonotasi buruk.

Dalam konsep besar hubungan antara agama dan negara, Islam dan Pancasila, jelas sebagian besar orang Indonesia berdiri di ruang ambang yang ketika mempraktikkannya dalam keseharian tak pernah merasa mengambang. Tak usah kembali saya mengulang sebuah ide yang terasa “masturbasif” dan tak produktif untuk diperdebatkan kembali. Sebab, sebagai sesuatu yang das Sein hal itu sudah menjadi keseharian bangsa Indonesia.

Taruhlah Nahdlatul Ulama dengan konsep nasionalisme-religiusnya atau Bung Karno dengan gagasan ketuhanan yang berkebudayaan-nya. Dua gagasan besar yang merepresentasikan keseharian sebagian besar orang Indonesia ini jelas adalah sebuah keyakinan yang sama sekali tak menambah ataupun mengurangi derajat keimanan seseorang, seumpamanya, ketika menganutnya, akan menjadikan seseorang tak lagi shalat atau puasa, dst. Entah disebut sejenis ptotisma atau tidak yang jelas fenomena semacam ini adalah—untuk meminjam istilah Husserl—sebuah “lebenswelt” yang lebih konkrit dan lebih keseharian daripada dunia waham yang merupakan dunia gagasan yang sarat kepentingan.

Maka, dalam hal ini, orang patut bertanya bahwa bukankah ptotisma adalah yang justru tengah dialami oleh tokoh-tokoh GNAI dan bukannya sebagian besar orang Indonesia yang mereka khawatirkan itu? Ptotisma, sebagaimana definisi mereka, adalah justru sangat tampak buah dari orang yang dalam pertumbuhan hidupnya tak akrab dengan agama atau spiritualitas.

Facebook Comments