Puasa dan Pembinaan Fitrah Manusia

Puasa dan Pembinaan Fitrah Manusia

- in Suara Kita
145
0
Puasa dan Pembinaan Fitrah Manusia

Ibadah kepada Allah SWT  merupakan suatu hal yang penting. Karena itulah, Allah swt berkehendak menciptakan kita dan Dia pulalah pokok misi di dalam kehidupan. Allah mewajibkan ibadah kepada kita bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi justru untuk  kebaikan kita sendiri, agar kita mencapai derajat takwa yang dapat menyucikan kita dari kesalahan dan kemaksiatan, sehingga kita dapat keuntungan dengan keridhaan Allah dan surga-Nya serta dijauhkan dari api neraka dan adzab-Nya.

Manusia seyogyanya menggunakan potensi-potensi dirinya sebagaimana keharusannya sebagai makhluk psiko-fisik, berbudaya dan beragama untuk tetap mempertahankan dirinya sebagai makhluk yang paling mulia, sebab ketidak seimbangan itulah yang menyebabkan manusia memiliki nilai yang rendah.

Hal ini bisa ditimbulkan oleh nafsu, maka dengan pendidikan Ramadan akan membina potensi fitrah tersebut, mampu mengendalikan dan mengarahkan perilaku manusia agar lebih terarah, sehingga bisa menjadi manusia yang sesuai diharapkan oleh Allah yakni takwa, sebagai muara akhir dari ibadah puasa Ramadan. Ibadah puasa Ramadan adalah salah satu ibadah yang banyak memiliki keutamaan, diantaranya adalah setiap amal kebaikan akan dilipat gandakan nilai pahalanya. Oleh karena itu, jika telah mengetahui makna puasa maka perbanyaklah berpuasa karena mengharap ridho Allah SWT.

Puasa menjadi pondasi ibadah dan kunci mendekatkan diri kepada Allah swt. Di sisi lain puasa juga membentuk kepribadian seseorang, oleh karena itu puasa sangatlah penting untuk memperbaiki kualitas keimanan, dengan perbaikan kualitas keimanan berharap akan berdampak pada kualitas ketaqwaan seseorang. Fitrah manusia mampu dikembangkan dan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. Hasil aktualisasi potensi fitrah itu, jika diinfiltrasi dengan nilai-nilai Islam, maka akan terwujud dalam perilaku yang sesuai dengan tujuan ibadah puasa Ramadan yaitu menjadikan insan yang bertaqwa, dan ketaqwaan akan dibentuk dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Salah satu hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa dengan memperturutkan hawa nafsu akan membawa kebinasaan, oleh karena itu ibadah puasa Ramadan bukan menghilangkan, menghapus, dan membinasakan hawa nafsu, tetapi mengontrol hawa nafsu agar sesuai dengan ketentuan Allah SWT, berjalan di atas prosedurnya. Secara sederhana nafsu dibagi menjadi dua yaitu nafsu muthmainnah (baik) dan nafsu lawwamah (buruk), yang perlu dipahami jika nafsu buruk sudah mengendalikan diri seseorang maka akalnya akan hilang, oleh karena itu dibutuhkan pengendalian nafsu, caranya dengan ibadah puasa Ramadan. Maka Ramadan selain membersihkan jiwa juga akan banyak mengandung pelajaran terutama mendidik agar disiplin.

Puasa tanpa didahului dengan tujuan atau niat, hanya menghasilkan kesia-siaan. Diantara tujuan puasa adalah melindungi core values atau suara hari murni, sekaligus sebagai pelatihan untuk menghentikan segala bentuk pengabdian kepada selain Allah Yang Maha Esa. Inilah pelatihan yang metodenya langsung diberikan oleh Allah. Pelatihan ini sebenarnya dinanti-nantikan oleh orang yang mencari bentuk training efektif untuk melatih pengendalian emosi dan spiritual.

Kepribadian umat Islam dibina secara intensif melalui berbagai latihan selama bulan Ramadan, supaya pada saatnya nanti menjadi manusia yang memiliki akhlak yang terpuji, salah satu akhlak yang terpuji akan dihasilkan melalui pelatihan puasa. Disamping itu juga ketika berbuka harus memakan yang halal. Bila berbuka jangan terlalu banyak, jangan sampai melebihi makan malam ketika sedang tidak puasa. Artinya nanti tak akan ada bedanya yang biasanya makan dua kali digabungkan menjadi satu kali, karena tujuan puasa adalah menindas syahwat dan melemahkan daya maksiat selain itu juga diwaktu malam qiyamul lail sebagai wujud pengabdian untuk tetap sujud kepada Allah Swt. hal itu merupakan jalan menuju takwa yang sempurna.

Orang yang bertaqwa bisa disimpulkan bahwa akal, pikiran, hati nurani, perasaan, kemauan, tingkah laku perbuatan rohani dan perbuatan fisik seorang yang bertaqwa berbeda dengan orang yang tidak bertaqwa atau fungsi biologis tubuh manusia yang bertaqwa dipengaruhi oleh taqwanya. Rasulullah SAW bersabda: “Bulan Ramadan, bulan yang telah diwajibkan oleh Allah puasanya, dan aku mencontohkan kepada kamu bangun shalat malamnya. Maka barang siapa yang puasa dan shalat malam, benar-benar karena iman dan mengharapkan pahala Allah, akan keluar dosa-dosanya sehingga keadaannya bagaikan ketika dilahirkan dari perut ibunya.” (HR. Ibn. Majah dan Baihaqi)

Dengan demikian puasa yang benar-benar membentuk potensi fitrah manusia adalah puasa yang memang dilaksanakan karena iman dan mengharap ridho Allah SWT, bukan hanya berpuasa sekedar melepaskan kewajiban, tidak makan, minum, hubungan suami istri di siang hari. Melainkan perjuangan untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik dan terinternalisasi pada pribadinya yang akan bermuara pada ketaqwaan, sebab ketaqwaan adalah sebagai puncak kemuliaan seseorang dan akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari menjadi pribadi yang lebih baik dalam berhubungan dengan Allah (hablumminallah) dan dengan manusia (hablumminannas).

Facebook Comments