Puasa Hoaks untuk Rekonsiliasi

Puasa Hoaks untuk Rekonsiliasi

- in Suara Kita
453
0
Puasa Hoaks untuk Rekonsiliasi

Ramadan merupakan bulan diturunkannya Alquran sebagai pedoman hidup bagi manusia untuk menempuh jalan hidup yang benar. Dalam bulan ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia melaksanakan puasa, salah satu dari rukun Islam. Puasa bukan hanya menahan dahaga dan lapar mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, tetapi juga sebuah bentuk pengekangan terhadap ego dan keinginan yang ada dalam diri yang dapat mewujud dalam perilaku yang melanggar aturan dan norma.

Tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa adalah untuk mencapai ketakwaan, suatu keadaan yang mampu menjaga diri dari berbuat keburukan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah:183). Bentuk peningkatan ketakwaan kepada Allah Swt. yang direpresentasikan oleh ibadah puasa ialah kepekaan sosial orang-orang yang berpuasa. Termasuk, kepedulian mereka untuk menjaga ukhuwah antarsesama.

Salah satu perusak ukhuwah yang kini marak beredar ialah informasi hoaks. Hal ini karena marak hoaks menyebar informasi yang mengarahkan pada narasi adu domba antara satu golongan dengan golongan lain. Apalagi masih dalam nuansa tahun politik, hoaks dari pendukung paslon peserta Pemilu marak disebar, meskipun hajatan demokrasi sudah selesai dihelat pada 17 April 2019 lalu. Tak heran, berdasarkan survei yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada 7-9 Februari 2017 terhadap 1.116 responden di Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 44,30 persen masyarakat menerima berita hoaks setiap hari. Ironinya, 17,20 persen menyatakan menerima berita hoaks lebih dari sekali dalam sehari.

Baca juga : Memviralkan Konten Perdamaian di Bulan Ramadhan

Dari itu, puasa atau menahan diri dari menyebarkan berita hoaks menjadi hal krusial yang harus dilakukan. Terlebih, bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, menyebarkan hoaks akan merusak pahala puasa. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh kepada perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum” (HR. Al Bukhari)

Rekonstruksi Cara  Beragama

Sebagai umat beragama, kehilangan nilai ibadah di mata Tuhan yang disembah tentu merupakan bencana yang tidak pernah diharapkan. Maka, rekonstruksi cara beragama menjadi hal penting agar terhindar dari perbuatan negatif atau sia-sia. Yang bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga semakin menjauhkan diri dari Tuhan meskipun telah bersusah payah dengan rajin melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, sudah susah payah berpuasa, ternyata sia-sia karena tidak diterima Tuhannya karena menyebarkan informasi hoaks.

Psikolog Gordon W Allport, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Pertama, yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Dia berpuasa, shalat, sedekah, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya. Ajaran agama hanya digunakan untuk memukul dan mencelakai orang lain yang berbeda dengannya. Hoaks pun bisa saja disebarkan dengan dalih mengatasnamakan agama, meski hal tersebut dilakukan hanya demi kepentingan individu atau kelompok tertentu saja.

Kedua, yang intrinsik memandang agama sebagai nilai-nilai yang harus diwujudkan dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari.

Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Sementara keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggung jawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.

Perlu dipahami, kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Saling mengasihi, saling berdamai, saling bantu-membantu, saling merasa aman dan nyaman satu sama lain merupakan wujud kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan manusia di dunia.

Maka itu, marilah kita rekonstruksi cara kita beragama. Memandang agama sebagai wadah untuk menebarkan rahmat bagi seluruh umat manusia. Mengingat, mengaku sebagai hamba Tuhan, berarti harus merepresentasikan sikap Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Menerima segala macam perbedaan tanpa menghendaki pecah-belah. Mengasihi dan menyayangi tanpa memandang agama, ras, ataupun etnis. Tidak menyebarkan informasi hoaks, karena Tuhan hanya menghendaki kebaikan, keindahan, dan kebenaran.

Jadi, momentuk bulan Ramadan ini merupakan saat tepat untuk melatih diri berpuasa menyebarkan informasi hoaks. Melatih diri agar tidak terjebak informasi provokatif dan adu domba. Ketika ini benar dilaksanakan oleh setiap orang yang berpuasa, niscaya dunia maya penuh dengan informasi sejuk dan damai. Sehingga, genderang rekonsiliasi dapat ditabuh dengan kencang, terdengar ke seluruh penjuru Nusantara. Akhirnya, retak-retak persaudaraan yang timbul karena perbedaan dukungan politik pada Pemilu 2019 dapat diselesaikan tanpa ada perpecahan dan konflik destruktif. Semua bisa kembali berdamai dan harmonis seperti sedia kala. Wallahu a’lam.

Facebook Comments