Qurban: Menyembelih Ego Individualis untuk Mencapai Ridho Allah SWT

Qurban: Menyembelih Ego Individualis untuk Mencapai Ridho Allah SWT

- in Suara Kita
128
2

Qurban adalah salah satu ibadah dalam agama Islam. Qurban berasal dari bahasa Arab yang artinya dekat. Dalam Islam qurban disebut juga sebagai al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti hewan sembelihan seperti sapi, kerbau, kambing dan unta yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Qurban selalu identik dengan kisah Nabi Ibrahim AS dan putra tercintanya Nabi Ismail AS, dimana pada suatu malam Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi untuk menyembelih anaknya. Ia percaya bahwa mimpinya tersebut merupakan perintah dari Allah SWT. Lalu ia menyampaikan mimpinya kepada Ismail dan meminta pendapatnya. Nabi Ismail pun ikhlas jika itu adalah perintah Allah SWT. Karena ketaatan, ketaqwaan dan keikhlasan keduanya, sesaat sebelum Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Allah menggantinya dengan seekor domba.

Baca juga : Kurban: Ketika Ego Ditumbangkan dan Kepedulian Ditumbuhkan

Penggantian Nabi Ismail AS dengan domba ini terdapat dalam Al-Qur’an yang artinya , “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS Ash-Shaffat ayat 107).

Perintah dan Keutamaan Qurban

Menyisihkan sebagian harta kita untuk menyembelihan hewan qurban merupakan salah satu upaya untuk menghapus dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu dalil perintah berqurban adalah ayat yang cukup familiar di telinga kita, yakni surat al-Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: 

“Maka shalatlah karena Tuhanmu dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS: al-Kautsar: 2).

Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa tidak ada manusia yang lebih dicintai Allah pada hari raya Idul Adha selain berqurban. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan manusia yang lebih dicintai Allah pada hari Idul Adha, melebihi ibadah qurban. Karena qurbannya itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan darahnya akan menetes di tempat yang Allah tentukan, sebelum darah itu menetes di tanah. Untuk itu hendaknya kalian merasa senang karenanya.”(HR: al-Tirmidzi)

Adapun keutamaan berqurban diantaranya:

  1. Momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah
  2. Sebagai bentuk ketaatan dan ketaqwaan
  3. Sebagai saksi amal baik di hadapan Allah SWT
  4. Pembeda umat Islam dengan umat beragama yang lainya
  5. Bagian dari ajaran Nabi Ibrahim AS
  6. Mempererat rasa persaudaraan umat muslim

Refleksi Berqurban

Berqurban di hari raya Idul Adha merupakan bagian dari ibadah yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan seorang hamba untuk mencapai ridho Allah SWT dalam hidupnya. Tidak sedikit umat Islam yang rela menyisihkan uang hariannya selama satu tahun atau lebih untuk bisa membeli hewan qurban menjelang hari raya Idul Adha demi mencapai ridho Tuhannya.

Harga hewan qurban yang tergolong tidak murah tidak menyurutkan semangat umat Islam yang mampu secara materi dan kemauan untuk berqurban, padahal jika menuruti ego bisa saja ia menikmati nikmat rejekinya sendiri. Namun karna ketaatannya kepada Allah SWT, manusia berbondong-bondong untuk berqurban.

Seperti yang kita tahu bahwa hewan qurban akan di distribusikan kepada umat Islam tanpa memandang dari ras dan suku mana dia berasal, kaya atau miskin, hitam atau putih. Di hari itu umat Islam merasakan kebahagiaan dan keberkahan yang sama. Bagi yang mampu berqurban tentu merasakan betapa indahnya beribadah dan berbagi kepada sesama umat Islam, bagi yang belum mampu tentu merasakan betapa nikmatnya berkah berbagi dan indahnya ikatan persaudaraan dalam Islam.

Menyembelih hewan qurban sejatinya refleksi dari upaya menyembelih sikap individualis, ego, serakah dan rasa ingin menang sendiri. Menyembelih segala sifat serakah yang sejatinya bukan sifat asli manusia namun sering kita lakukan dalam kehidupan. Sebab sejatinya rejeki yang diturunkan oleh Allah kepada kita adalah milik-Nya dan apa yang kita miliki adalah ujian apakah denganya kita menjadikan kita manusia yang penuh keserakahan atau membawa kita dalam ketaatan, ketaqwaan dan keihkhlasan untuk mencapai keridhoan-Nya.

 

Facebook Comments