R20 : Masa Depan Agama sebagai Solusi Konflik Global

R20 : Masa Depan Agama sebagai Solusi Konflik Global

- in Editorial
478
0
R20 : Masa Depan Agama sebagai Solusi Konflik Global

Saat Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaran Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, November 2022 sebagai pemegang kursi presidensi, sisi lain organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) menginisiasi pertemuan yang juga tidak kalah pentingnya yakni Forum Religion of Twenty (R20) yang juga bertempat di pulau yang sama. Sama halnya dengan G20, R20 juga mengundang pemimpin agama sedunia dalam sebuah forum International Summit of Religious Leaders.

Ketua Umum PBNU menegaskan bahwa topik utama dalam pertemuan R20 tersebut adalah persoalan hubungan antar kelompok agama untuk menyembuhkan kepedihan dan beban masa lalu untuk membuka harapan baru tentang rekonsiliasi, persaudaraan dan perdamaian. Kegiatan yang diadakan dalam menyambut satu Abad NU ini juga akan membahas rekontekstualisasi norma-norma agama sebagai jalan perdamaian global. Hal ini penting dilakukan mengingat agama seringkali dijadikan pembenaran untuk konflik dan kekerasan.

Agenda penting lainnya yang tidak kalah menariknya adalah mengindentifikasi nilai-nilai universal setiap agama untuk dipegang bersama sebagai norma kehidupan berbangsa dan bernegara secara global. Titik temu nilai-nilai esensial dan perennial dalam agama ini nampaknya penting digali, dimunculkan dan diterapkan kembali di tengah kegersangan hubungan global saat ini.

Gagasan R20 merupakan kegiatan bersejarah yang akan diselenggarakan NU untuk membuktikan setidaknya tiga hal. Pertama, menjadikan agama sebagai solusi konflik bukan sebagai bencana kemanusiaan. Dalam dua dekade terakhir, agama acapkali menjadi persoalan sendiri ketika ditafsirkan dan digunakan sebagai pembenaran atas kekerasan dan konflik kemanusiaan. Agama dibajak menjadi pembenaran dalam aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keagamaan. Alih-alih menyumbangkan perdamaian di tengah konflik antar negara, agama nyatanya ditampilkan secara buruk oleh pemeluknya sebagai biang kekerasan global.

Membuka kembali tentang fakta kepedihan, sejarah kelam, dan duduk bersama secara jujur dan bersahaja dalam forum lintas agama menjadi modal berharga untuk masing-masing pemimpin agama berkomitmen menjadikan agama sebagai ruh perdamaian. Agama bahkan bisa diangkat kembali menjadi solusi konflik antar bangsa dan negara.

Kedua, Islam sebagai solusi konflik global. Tidak dipungkiri, Islam kerap sekali dijadikan obyek baik oleh kelompok Islam sendiri maupun kelompok di luar Islam sebagai agama yang menjustifikasi kekerasan. Islam ditampilkan oleh pemeluknya dengan ekspresi kekerasan dan diasumsikan oleh orang di luar Islam sebagai agama perang. Inisiasi NU sebagai ormas Islam terbesar akan mematahkan anggapan dan narasi islamofobia yang menganggap Islam jauh dari nilai perdamaian. Islam justru yang menginisiasi dan mengajak untuk merayakan kerjasama antar agama.

Ketiga, Islam Indonesia (baca: nusantara) sebagai kiblat perdamaian antar agama dan demokrasi. R20 akan menjadi pembuktian secara nyata tentang pujian berbagai negara-negara tak terkecuali negara muslim tentang Islam Indonesia yang ramah dan toleran. Kehidupan muslim Indonesia kerap dijadikan contoh tentang muslim yang dapat beradptasi dengan kehidupan demokrasi, keragaman dan kebudayaan. Islam bukan ajaran yang anti kebudayaan, anti keragaman dan anti semangat kebangsaan. Islam Indonesia adalah Islam yang rahmatan lil alamin.

Gagasan R20 yang sejalan dengan presidensi Indonesia di G20 seakan membuktikan bahwa Indonesia akan menjadi inisiator pemimpin agama sedunia untuk mengembalikan semangat agama sebagai solusi konflik global. Agama bukan sumber bencana, tetapi inspirasi bagi perdamaian.

Facebook Comments