Radikalisme dan Nihilnya Sakralitas Sumpah Jabatan

Radikalisme dan Nihilnya Sakralitas Sumpah Jabatan

- in Suara Kita
443
0
Radikalisme dan Nihilnya Sakralitas Sumpah Jabatan

Amanat Undang-undang nomor 21 tahun 1975 tentang sumpah/janji PNS, Undang-undang nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara Pasal 66 ayat 1 dan peraturan pemerintah nomor 53 tahun 2010, kepada setiap pejabat yang baru dilantik ada janji kesetiaan, komitmen dan kesanggupan tidak menyia-nyiakan jabatan yang dipangku dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Satu poin penting dalam janji setia ASN adalah ikrar kesetiaan dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945 dan pemerintah. Dan ikrar tersebut diawali dengan berjanji kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bagi penganut agama Islam, mengucapkan “Demi Allah” saya bersumpah, yang beragama Budha mengucapkan “Demi Sang Hyang Adi Budha”, begitu juga dengan penganut agama yang lain bersumpah atas nama Tuhan.

Sumpah atas nama Tuhan ini sejatinya sangatlah sakral. Mengandung unsur relegiusitas yang begitu dalam. Karena atas nama Tuhan berarti berjanji langsung kepada-Nya. Oleh karenanya, melanggar sumpah setia tersebut berarti melanggar perjanjian dengan Tuhan.

Dalam agama Islam, melanggar janji, baik kepada Allah maupun sesama manusia, dihukumi berdosa. Hal ini telah sangat jelas diutarakan dalam al Qur’an, seperti dalam surat al Mukminun ayat 9, dan al Maidah ayat 89.

Walaupun begitu, tetap saja ada yang melanggar ikrar dan sumpah setia tersebut. Ironi memang. Sakralitas sumpah jabatan yang yang begitu relegius dianggap sebagai ucapan biasa dan dengan mudahnya dilanggar. Mulai dari pengabaian tugas sampai pada pelanggaran yang sangat krusial, yakni upaya merubah ideologi Pancasila dan UUD 1945 dengan ideologi yang berlabel Islam. Padahal, Pancasila merupakan saripati ajaran-ajaran Islam dan sama sekali tidak bertentangan universalitas agama Islam.

Masuknya ideologi transnasional ke dalam lingkungan ASN merupakan sesuatu yang sangat menggelikan sekaligus kenyataan yang sangat miris dan ironis. Mereka yang seharusnya berada di garis terdepan membentengi negara dari paham keagamaan yang radikal justru terjebak dan menjadi penganutnya. Tentu ini alarm bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau dibiarkan berkembang sama saja mengikhlaskan Indonesia bubar tinggal nama.

Untuk itu, pemerintah harus melakukan upaya penyadaran kepada semua ASN, termasuk TNI Polri dengan penekanan pengakuan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, taat hukum, toleransi antar umat beragama, dan menjaga hubungan baik atau silaturahmi kebangsaan antar sesama warga negara.

Ideologi transnasional dan jenis-jenisnya tidak lain merupakan gerakan politik yang memanfaatkan agama Islam. Hanya upaya sekelompok orang yang menggunakan simbol-simbol Islam untuk kepentingan meraih kekuasaan. Suatu gerakan pragmatis-opurtunis kelompok tertentu untuk memuluskan langkah meraih kekuasaan. Dalam konteks ini, agama Islam dijadikan tameng supaya orang menyangka bahwa mereka adalah pembela agama. Saat ini, banyak orang-orang Islam yang terpedaya masuk jebakan mereka. Termasuk sebagian ASN, padahal telah bersumpah atas Nama Tuhan untuk setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila.

Karenanya, ASN yang tertipu dan terpedaya oleh paham Radikalisme agama harus diketuk pintu hatinya, diberikan penyadaran, dan dibimbing ke jalan yang benar. Kalau masih bersikeras, maka diperlukan tindakan tegas dari pemerintah. Sanksi tegas sesuai Undang-undang yang berlaku harus diganjarkan kepada mereka.

Ingat, muslim yang baik adalah muslim yang mengikuti Rasul, dan salah satu ajaran beliau adalah cinta tanah air sebagaimana hadis Ibnu Abbas riwayat Turmudzi.  Sabdanya, “Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling kucintai. Andai saja dulu penduduk Makkah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal disini”.

Ini isyarat beliau dalam mengajarkan cinta tanah air (nasionalisme). Adagium “Hubbul Wathan Minal Iman” (Cinta tanah air sebagian dari iman) yang disuarakan NU sebagai Ormas terbesar di dunia bersumber dari hadis ini. Kemudia, atas inisiatif NU pula, seluruh ulama Nusantara awal tahun 1980 an mencetuskan satu gagasan kebangsaan menerima Pancasila sebagai asas tunggal bagi Indonesia. Sebagai ideologi bangsa yang sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dengan demikian, ASN yang terhanyut dalam paham radikalisme otaknya telah mengalami kekacauan. Bagaimana bisa mengangkangi janji suci untuk setia kepada Pancasila yang diikrarkan atas nama Tuhan?  Ingatlah, Tuhan dan seluruh rakyat Indonesia akan menagih janji setia itu.

Facebook Comments