Radikalisme Online dan Dakwah Toleransi di Media Sosial

Radikalisme Online dan Dakwah Toleransi di Media Sosial

- in Suara Kita
148
2

Di era serba online, internet merupakan gerbang utama pengetahuan umat dan anak muda masa kini. Karena informasi yang disajikan sangat luas, internet menjadi media yang sangat efektif untuk menyebarkan gagasan, mempengaruhi orang lain, dan berkomunikasi. Hanya saja, bagi kelompok radikal, internet digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai radikalisme. Bruce Hoffman (2006) dalam The Use of the Internet By Islamic Extremists oleh yang menjelaskan Internet sebagai sarana efektif bagi kelompok radikal untuk mempromosikan “dialektika global” dimana kebangkitan, kesadaran, aktivisme dan radikalisme dapat dirangsang di tingkat lokal dan dimobilisasi kepada proses yang lebih luas melalui protes dan perbedaan pendapat.

Tentu saja, penyebaran paham radikal melalui dunia maya menjadi ancaman serius bagi pertahanan dan keamanan dunia, termasuk Indonesia. Kejadian bom bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pemuda di salah satu Pos Pengamanan Polisi di Kartasura merupakan salah satu contoh nyata betapa berbahayanya radikalisme online.  Diketahui bahwa pemuda inisial RA (22) ini terpapar paham radikal ISIS dan mencoba untuk membuat bom hanya bermodalkan internet. Pada tahun 2016, remaja yang baru lulus sekolah menengah atas, IAH (18), melakukan aksi teror di gereja di Medan. Dia juga mengalami proses sama self-radicalization dengan belajar merakit bom melalui media sosial.

Dua Kategori

Secara garis besar, penggunaan jaringan internet oleh kelompok teroris dapat dikategorikan dalam dua hal (Bakti, 2015). Pertama, cyberterrorism, yakni penggunaan internet secara destruktif untuk menyakiti seseorang atau properti termasuk menyerang dan mengubah situs dengan menyebarkan virus, mengubah konten, merusak, atau menyisipkan pesan radikal di situs orang lain. Kedua, propaganda online di mana kelompok teroris memanfaatkan jaringan internet sebagai media komunikasi untuk kepentingan propaganda, radikalisasi, dan rekrutmen.

Baca juga : Membudayakan Berpikir Kritis Di Era Post-Truth

Apabila kita mengamati fenomena yang berkembang di jagat maya, dua macam bentuk teorisme tersebut telah marak beredar secara bebas. Hanya saja, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat propaganda terorisme bukanlah hal baru. Sebagaimana catatan Bruce Hoffman, kelompok teroris telah lama memanfaatkan ruang dunia maya dengan mendirikan ribuan situs dari berbagai bahasa. Perkembangan terkini mereka mulai merambah ke ajang media sosial. Pakar komunikasi, Gabriel Weimann (2014), menduga salah satu alasan kelompok teroris menyukai media sosial sebagai media propaganda karena secara demografis banyak dihuni kalangan muda yang menjadi target dan sasaran potensial radikalisasi dan rekrutmen.

Oleh penyebar ideologi radikal, wajah agama yang ditampilkan di media sosial adalah tampak seperti sebuah permusuhan dan kebencian. Banyak konten keislaman di media sosial belakangan ini berisi ajakan untuk melakukan permusuhan dan kebencian terhadap kelompok lain. Seringkali, beberapa orang yang mendaku diri sebagai seorang muslim malah melakukan intimidasi terhadap kelompok lain dan menjustifikasinya dengan dalil agama.

Untuk melawan propaganda terorisme tersebut, produksi konten toleran menjadi hal penting untuk dilakukan. Mengingat, toleransi merupakan prasyarat utama yang harus dimiliki oleh Republik Indonesia yang memiliki keragaman yang majemuk agar situasi tetap tenang dan rukun, sehingga setiap orang dapat menjalankan ibadah atau ajaran agama / aliran agama masing-masing tanpa disertai konflik.

Mendakwahkan toleransi melalui media sosial menjadi demikian penting karena penyebaran konten radikal di media sosial tidak dapat dicegah. Sekali konten radikal di-upload di jagat online, maka ia telah memasuki ruang tak terbatas sehingga dapat dilihat oleh siapa pun dan berpotensi memengaruhi pembacanya, terutama pembaca dengan kematangan beragama rendah. Dengan memenuhi media sosial dengan propaganda positif, niscaya lambat laun propaganda negatif seperti radikalisme dan terorisme perlahan akan hilang.

Untuk itu, keniscayaan bagi pengguna media sosial yang menghendaki adanya kedamaian di dunia maya dan dunia nyata untuk membuat dan menyebarkan konten-konten damai yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan menyulut kemarahan dan permusuhan satu sama lain.

Percuma saja, apabila orang-orang toleran hanya menjadi silent majority, sementara penyebar ideologi terorisme menjadi vocal minority di media sosial. Itu justru akan mempersubur ideologi terorisme berkembang di Indonesia. Bukan tidak mungkin, tindakan terorisme yang terjadi di Solo beberapa waktu lalu menjelang lebaran, dapat terulang kembali.

Jadi, mendakwahkan toleransi di media sosial harus menjadi basis kesadaran masyarakat pengguna media sosial. Apabila ini menjadi gerakan masal masyarakat pengguna media sosial, bukan hal mustahil bagi Indonesia terbebas dari ancaman radikalisme dan terorisme. Wallahu a’lam.

Facebook Comments