Raja Charles III dan Masa Depan Hubungan Islam dan Barat

Raja Charles III dan Masa Depan Hubungan Islam dan Barat

- in Faktual
213
0
Raja Charles III dan Masa Depan Hubungan Islam dan Barat

Penguasa terlama kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II, meninggal dunia di usia 96 tahun pada kamis ( 8/9/2022). Kepergiannya tidak hanya meninggal duka dan sedih di lingkungan keluarga, tetapi juga warga Inggris dan negara persemakmurannya. Pangeran Charles resmi menjadi raja baru, Raja Charless III pada usia 73 tahun.

Saya tidak ingin membahas seputar spekulasi kematian sang ratu atau seputar isu-isu tidak produktif lainnya semisal Ratu Elizabeth masih mempunyai keturunan Nabi Muhammad. Rumor ini memang beredar menyertai prosesi pemakamannya. Pun pula ada yang menggemparkan warga Arab Saudi gara-gara pria asal Yaman mengklaim telah melaksanakan Umroh untuk mendiang Ratu Inggris tersebut.

Hal menarik di sini adalah seputar raja baru Inggris, Raja Charless III. Ada fakta menarik tentang sang Raja yang dikenal begitu mengagumi, menghormati, menghargai dan bahkan menghayati nilai dan ajaran Islam dan jasa peradaban umat Islam. Selain menjadi pelindung Pusat Studi Islam Oxford, Raja Charless III juga menunjukkan minat dalam mempelajari Al-Qur’an. Apa menariknya?

Hubungan Islam dan Barat dalam sengkarut politik global kerap menjadi faktor utama. Keributan di Timur Tengah dengan intrvensi negara Barat hingga isu terorisme dan ekstremisme yang meletakkan Islam sebagai agama kekerasan dalam pandangan Barat menempatkan Inggris sebagai pemain penting dalam percaturan dunia Barat. Apakah pandangan Raja Charless III yang lebih positif terhadap Islam akan mempengaruhi persepsi Barat terhadap Islam dan masa depan Hubungan Islam dan Barat?

Kita sadari hampir dalam tiga dekade terakhir Islam dan Barat selalu menemui hubungan yang dikotomik. Isu di Timur Tengah hingga kekerasan atas nama agama yang kerap dilakukan kelompok ekstrem umat Islam menghiasi persepsi dan distrust antara Barat dan Islam. Terorisme begitu tinggi sementara islamofobia sebagai balasannya pun semakin merajalela. Islam dikonotasikan secara negatif dan banyak pula persekusi dan diskriminasi kebijakan negara Barat bahkan ejekan dan penghinaan terhadap simbol Islam.

Tentu saja ini berangkat dari cara pandang dan persepsi Barat dalam melihat Islam. Begitu pun biar adil bagaimana perspesi umat Islam terhadap Barat. Warisan masa lalu konflik Islam dan Barat dan tradisi intelektual Barat dalam mendefinisikan Islam patut direkonstruksi melalui cara pandang baru. Di sinilah Saya melihat Raja Charless III memiliki pandangan yang lebih apresiatif terhadap Islam.

Dalam banyak momen kegiatan yang dihadirinya, kerapkali Raja Charless memberikan pandangan yang begitu mengagumkan terhadap Islam. Pertama, penghargaan historis jasa umat Islam terhadap Barat. Dalam pidato di Oxford Center for Islamic Studies tahun 1993, ia mengangumi dan mengapresiasi warisan umat Islam di Andalusia. Ketika Barat melihat Islam sebagai musuh, ia melupakan jasa besar sarjana dan ilmuwan Islam abad pertengahan yang melestarikan ilmu helenistik sebagai sumbangan besar terhadap renaisans Barat yang sebelumnya berada dalam masa kegelapan.

Kedua, kolaborasi Islam dan Barat. Raja Charless III memahami tidak ada klaim superioritas peradaban karena semuanya harus berkolaborasi. Peradaban timur dari Islam, Yudaisme, Hindu, Jainisme, dan Budha memiliki peran penting bagi Barat dalam memberikan perspektif kesucian alam sekitar. Pandangan dunia timur dapat membantu Barat dalam memahami lingkungan dan manusia. Antara dunia Timur dan Barat tidak harus selalu dalam hubungan konflik, tetapi saling berkolaborasi. Karena itulah, Raja Charless III termasuk tokoh yang juga tidak sepakat dengan perang di Timur Tengah khususnya perang Irak.

Ketiga, simpati dan apresiasi terhadap Islam. Dalam banyak kesempatan baik pemikiran dan Tindakan, Raja Charless III menunjukkan sikap yang empatik dan apresiatif terhadap Islam. Pada tahun 2006, dalam kunjungan ke Universitas Al-Azhar, Mesir,  Raja Charless mengkritik penerbitan kartun yang mengina Nabi Muhammad. Menurutnya, munculnya kartun tersebut sebagai kegagalan Barat dalam menghormati apa yang berharga bagi peradaban lain.

Tidak hanya itu, dalam momen suci Islam seperti Ramadan, Raja Charless memberikan pemahaman yang apresiatif terhadap makna puasa. Bentuk syukur, pelayanan, kedermawanan dan keramahan umat Islam yang tercermin dari puasa membuatnya takjub terhadap Islam. Bahkan, ia tidak alergi dan malah mensyukuri kehadiran umat Islam yang sukses di dunia Barat dalam bidang akademis, jabatan politik maupun di birokrasi pemerintahan.

Tentu masih banyak lagi yang bisa dielaborasi dari pandangan Raja Charles III terhadap Islam. Secara garis besar dengan melihat otoritas dan kapasitasnya sebagai penguasa Inggris rasanya setidaknya pemahaman ini akan mempunyai dampak terhadap bagaimana Barat melihat Islam. Diharapkan dengan pemahaman utuh sang Raja terhadap Islam dapat meminimalisir persepsi negatif, islamofobia dan hubungan dikotomik antara Islam dan Barat.

Facebook Comments