Ramadan Bulan Jihad Melawan Kebencian; Bersihkan Hati, Jaga Jari

Ramadan Bulan Jihad Melawan Kebencian; Bersihkan Hati, Jaga Jari

- in Suara Kita
201
0
Ramadan Bulan Jihad Melawan Kebencian; Bersihkan Hati, Jaga Jari

Bulan Ramadan adalah bulan istimewa. Bulan di mana Allah melipatgandakan berbagai alaman serta membuka lebar-lebar pintu ampunan. Keistimewaan bulan ini membuat banyak umat Muslim tak ingin melewatkannya begitu saja. Selain menjalankan ibadah puasa, umat Muslim juga mengisinya dengan berbagai ibadah dan amal saleh, guna semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Selama bulan Ramadan, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa menjadi cara menempa diri dengan mengendalikan berbagai bentuk hawa nafsu dan melatih kesabaran, agar kita menjadi orang yang bertakwa. Upaya pengendalian hawa nafsu ini butuh perjuangan atau jihad. Di sinilah, maka bulan Ramadan juga kerap kali disebut sebagai bulan jihad.

Di samping karena menjadi saat bagi kita untuk berpuasa atau berjuang menundukkan hawa nafsu, sebutan “bulan jihad” juga berkaitan dengan konteks sejarah. Dalam sejarah Isllam, begitu banyak capaian kemenangan diperoleh kaum muslim di bulan Ramadan. Di antaranya, Perang Badar, Peristiwa Penakhlukkan Kota Mekkah, Penakhlukkan Kota Andalus, Penakhlukkan India dan Pakistan, dan sebagainya. Kemenangan-kemenangan besar yang terjadi di bulan Ramadan tersebut kemudian banyak menjadi titik awal kejayaan Islam.

Selain itu, bagi umat Islam di Indonesia, kita juga punya memori tentang kejayaan yang diperoleh di bulan Ramadan sebagai sebuah bangsa. Satu yang paling bermakna tentu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan 9 Ramadan 1334 Hijriah. Di hari tersebut, bangsa ini memproklamirkan diri telah bebas dari belenggu penjajahan dan berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Hal ini semakin menambah dalam pemaknaan kita mengenai Ramadan sebagai “bulan jihad”.

Kini, pemaknaan bulan Ramadan sebagai bulan jihad mesti ditransformasikan sesuai konteks atau keadaan. Sekarang, di tengah maraknya orang yang saling menyerang, mencaci, dan mengumbar kebencian, Ramadan mesti bisa menjadi momentum bagi kita untuk berjihad menundukkan segala bentuk hawa nafsu, termasuk nafsu berbentuk egoisme, intoleransi, menganggap rendah orang lain, dan sikap-sikap yang bisa merusak keharmonisan antar sesama.

Melawan kebencian

Jika kita perhatikan, fenomena kebencian saat ini sudah menjadi persoalan bersama kemanusiaaan, baik di dalam negeri, maupun di banyak negara di dunia. Di banyak negara, kebencian tumbuh subur, tampak dari menguatnya sentimen primordial, kebencian rasial, xenofobia, Islamofobia, hingga radikalisme-terorisme yang menyebabkan keretakan sosial. Dari level saling hujat, caci maki, diskriminasi, hingga kekerasan nyata lewat aksi terorisme dan pembunuhan.

Baca juga : Ramadan dan Jihad Kekinian

Isu kebencian tersebut mesti menjadi perhatian kita semua, sebagai sebuah bangsa, sekaligus sebagai bagian dari masyarakat dunia. Sebab, kebencian merupakan hal berbahaya yang bisa mengancam perdamaian dan keharmonisan. Kebencian adalah bibit yang bisa tumbuh menjadi berbagai bentuk sikap, tindakan, hingga gerakan-gerakan radikalisme yang merusak kedamaian dunia. Di sinilah, momentum bulan suci Ramadan ini bisa kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan jihad melawan kebencian. Di bulan suci ini, kita belajar untuk mengikis benci.

Menghapus kebencian memang tak mudah. Sebab kebencian umumnya tumbuh dari rasa sakit dan kekecewaan, entah karena merasa dizalimi, atau karana ada rasa iri dan dengki yang bercokol di hati. Penyakit-penyakit hati tersebut butuh tempaan, renungan, refleksi, dan kontemplasi batiniah agar luntur dan hilang. Di sinilah, ibadah puasa, di mana kita belajar mengendalikan segala bentuk hawa nafsu, bisa menjadi ajang belajar mengikis berbagai penyakit hati tersebut.

Menjaga lidah dan tangan

Di aspek praktisnya, jihad melawan kebencian mesti dipraktikkan dengan menjaga lidah kita dari ucapan-ucapan yang bisa menyakiti sesama. Hati yang suci dari kebencian, tak akan mendorong mulut mengucapkan hal-hal negatif yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Hal ini mesti dilatih dan dibuktikan dalam menjalani ibadah puasa Ramadan.

Seperti diungkapkan Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali dalam Rahasia Puasa & Zakat (2015), dalam level puasa khusus, yakni puasanya orang-orang saleh, salah satu syarat sempurnanya adalah menjaga lidah dari ucapan-ucapan sia-sia, dusta, gunjingan, fitnahan, caci-maki, menyinggung perasaan orang , menimbulkan pertengkaran, dan melakukan perdebatan berlarut-larut.

Jika melihat konteks sekarang, menjaga lidah juga artinya menjaga tangan atau jari kita dari membagikan atau memposting konten-konten negatif, seperti hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah di dunia maya. Jihad melawan kebencian di era media sosial juga berarti mengendalikan jari dan tangan agar tidak berkomentar hal-hal negatif yang bisa menyakiti sesama.

Di bulan Ramadan, jihad melawan kebencian juga bisa dilakukan dengan membagikan konten-konten positif yang bisa memupuk rasa kasih sayang dan persaudaraan dengan sesama. Dengan membagikan konten-konten bermuatan pesan persaudaraan dan perdamaian di dunia maya, secara tidak langsung kita telah berjuang mengikis kebencian yang bersemayam dalam hati banyak orang. Wallahu a’lam

Facebook Comments