Ramadan dan Budaya Literasi (Refleksi Nuzulul Qur’an 1440 H)

Ramadan dan Budaya Literasi (Refleksi Nuzulul Qur’an 1440 H)

- in Suara Kita
431
1
Refleksi Nuzulul Qur’an

Salah satu keistimewaan Ramadan adalah peristiwa agung yang terekam dengan indah dalam al-Qur’an dalam surat Al-Qadar tentang suatu malam yang lebih baik dari seribu malam. Surat ini berbicara tentang turunnya al-Quran dan kemuliaan malam yang disebut sebagai lailatul Qadar. Suatu malam di mana semua ketulusan doa akan dikabulkan. Seluruh Malaikat turun silih berganti dengan izin Allah membawa kedamaian dan ketengan hingga terbitnya fajar.

Malam nuzulul Qur’an atau turunnya al-Quran terjadi pada bulan Ramadan. Persitiwa turunnya al-Qur’an merupakan salah satu momentum paling penting dalam sejarah kenabian yang menjadi awal mula misi kerasulan Nabi Muhammad. Malam itu menandai wahyu pertama yang didapatkan Nabi di saat komtemplasi, taabbud dan tafakkur di tengah malam di gua hira’. Datanglah malaikat sebagai sosok makhluk asing dengan berkata: Bacalah!. Bacalah dengan nama Tuhamu yang menjadikan, hingga pada ujung ayat “ yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang dia tidak tahu”.

Aspek historis turunnya wahyu pertama ini telah banyak diulas dalam ribuan lembar catatan sejarah. Namun apa yang ingin dikatakan di sini bahwa peristiwa ini mengajarkan manusia untuk membaca, memahami, meneliti dan mengkaji. Ayat ini secara umum melukiskan tentang penciptaan manusia dari darah yang hanya segumpal, tetapi kemudian Allah memuliakan manusia dengan ilmu pengetahuan. Kemuliaan manusia pada hakikatnya akan ditentukan pada sejauh mana ia memiliki kualitas pengetahuan. Sebagaimana Adam dimuliakan penciptaannya dibandingkan makluk lain seperti malaikat, jin dan iblis karena dibekali ilmu oleh Allah.

Baca juga : Ramadan: Semangat Kebersamaan Meraih Kemenangan Bangsa

Tidak mengherankan jika Nabi terakhir Muhammad kembali diingatkan dengan kualitas kemulian manusia dengan tradisi dan budaya membaca sebagai sumber pengetahuan. Tuhan pun mengajarkan bahwa dengan pena (qalam) ilmu pengetahuan itu dicatat dan ditulis sebagai sumber pemahaman dan ilmu manusia. Orang yang mampu mengedepankan tradisi baca, kajian, diskusi, refleksi hingga penulisan merupakan orang yang ingin menggapai pangkat mulia dengan ilmu pengetahuan.

Profesor Quraish Shihab dalam buku Wawasan Alquran; Tafisr Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat menarasikan dengan sangat baik tentang wahyu pertama: Iqra’. Iqra berasal dari kata “menghimpun”, sehingga tidak selalu berarti membaca teks tertulis dengan huruf tertentu. Menghimpun menurunkan arti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui dan membaca baik teks tersurat maupun tersirat.

Perintah membaca adalah perintah paling berharga yang didapatkan Nabi dan diberikan kepada umat manusia. Umat Islam patut bersyukur karena wahyu pertama kali yang didapatkan adalah perintah membaca. Membaca dalam pengertian luas merupakan sumber literasi manusia terhadap berbagai fenomena alam semesta. Literasi yang diajarkan Qur’an adalah aktifitas membaca secara kaffah terhadap fenomena kehidupan bukan sekedar membaca dan memahami teks tersurat.

Fenomena alam adalah teks tersirat yang menjadi ayat-ayat Tuhan yang terhampar luas di alam semesta. Qur’an pun sebenarnya telah memberikan rangsangan umat manusia untuk mengkaji berbagai fenomena alam ini. Lihatlah berapa banyak ayat Qur’an yang bertutur tentang eksplorasi semesta bahkan menjadikannya nama-nama surat seperti : al-lail (malam), asy-syam (matahari), al-fajr (waktu fajar), adh-dhuha (waktu dhuha), al-buruj (bintang-bintang), at-tin (buah tin) dan masih banyak lainnya. Begitu pun Qur’an menampilkan banyak kisah dan cerita masa lalu agar manusia hari ini terbiasa “melek” sejarah sebagai tempat mengambil hikmah dan pembelajaran.

Kata kunci dari perintah dan budaya membaca yang harus dilakukan oleh umat manusia, menurut Qurasih Shihab adalah Bismi Rabbika, bermanfaat untuk kemanusiaan. Ilmu pengetahuan tidak boleh bertentangan dengan nafas agama dan kepentingan kemashlahatan umat sebagai tujuan agama. Pengembangan pengetahuan harus selaras dengan upaya meningkatkan kesejateraan kemanusiaan, bukan membunuh harkat dan martabat manusia.

Apabila kita mengambil hikmah nuzulul Qur’an dan kandungan Surat al-Alaq di bulan Ramadan ini sesungguhnya menjadi penting bagi umat saat ini untuk meningkatkan literasi dan kualitas membaca dan menulis sebagai pondasi peradaban. Tentu saja bukan sekedar membaca teks, tetapi juga mengkaji fenomena sosial dan alam sekitar sebagai referensi primer pengembangan pengetahuan. Nuzulul Qur’an mengajarkan manusia untuk selalu meningkatkan kualitas literasi.

Ramadan juga mengajarkan budaya literasi melalui aktifitas tadarus di malam hari yang dilakukan di masjid, mushalla hingga rumah warga. Di tengah masyarakat tadarus dilaksanakan secara bersama-sama untuk membaca, mendengarkan dan mengkoreksi bacaan Alqur’an. Tadarus berasal dari kata darasa yang berarti mempelajari, meneliti, menelaah dan mengkaji. Dengan adanya tambahan “ta’” tadarus berarti diambil dari akar tadarasa yang memiliki arti saling belajar. Dengan demikian tadarus adalah aktifitas dan budaya belajar dan mengkaji bersama-sama yang melibatkan pembaca, pendengar dan pentashih.

Selain mengajarkan pentingnya literasi, Ramadan melalui tadarus adalah membudayakan literasi secara bersama-sama. Menjadi berbahaya apabila seseorang mempelajari, mengkaji dan meneliti apapun, lebih-lebih agama, secara sendiri tanpa mendapatkan klarifikasi, afirmasi dan verifikasi kebenaran dari yang lain. Tadarus pada gilirannya mendorong umat untuk selalu membaca, tetapi juga selalu mengendepankan ketelitian, klarifikasi dan koreksi.

Budaya literasi ini semestinya menjadi panduan kita saat ini di tengah malasnya verifikasi dan klarifikasi dari suatu bacaan dan kajian. Kecanggihan teknologi informasi yang membanjiri masyarakat dengan berbagai narasi justru mencetak budaya malas verifikasi. Banjirnya informasi justru memanjakan diri kita untuk melakukan klarifikasi sehingga pada akhirnya jatuh pada informasi yang menyesatkan.

Melalui momentum nuzulul Qur’an dan semangat Ramadan umat ini diajarkan untuk membudayakan literasi. Membuka wawasan dengan ilmu pengetahuan melalui aktifitas membaca, mengkaji, meneliti dan mengimpun pengetahuan melalui tradisi penulisan. Namun, terpenting adalah proses ini juga harus lakukan dengan budaya tadarus untuk selalu meminta koreksi, afirmasi dan verifikasi agar menjamin keabsahan pengetahuan dan infromasi.

Facebook Comments