Ramadan dan Jihad Kekinian

Ramadan dan Jihad Kekinian

- in Suara Kita
273
0
Ramadan dan Jihad Kekinian

Saat ini kita berada di bulan Ramadan. Bulan yang menurut kepercayaan umat Islam dikenal sebagai bulan penuh dengan kemuliaan. Bulan ini akan dipenuhi dengan segudang kebaikan yang pahalanya dilipatgandakan. Diramaikan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema di Masjid atau Mushola terdekat setiap harinya. Disuguhkan dengan pemandangan pembagian takjil baik di Masjid hingga jalanan kota. Dan berbagai kegiatan positif yang khas bulan Ramadan.

Suka cita menyambutnya ditunjukan dengan berbagai kegiatan. Pawai obor, mandi pembersihan, selametan dan masih banyak kegiatan penyambutan dilakukan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini sebagai indikasi bahwa Ramadan amat dinanti kehadirannya. Bulan ini dipercayai sebagai bulan suci, sehingga sering masyarakat menggunakan terminologi Bulan “suci” Ramadan. Selain itu, sejatinya bulan ini merupakan momentum masyarakat menyucikan diri dari dosa yang ada dengan memperbanyak memohon ampun, mempertekun ibadah dan membudayakan sedekah.

Di bulan Ramadan, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebagai wujud keimanan dan ketakwaannya. Puasa dalam arti sederhana berarti menahan, menahan diri dari lapar, dahaga, nafsu dan berbagai hal lain yang dapat membatalkan puasa. Sehingga hari-harinya akan diisi dengan berbagai kegiatan positif untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Puasa sebagai kunci kontrol pribadi setiap manusia. Kita perlu mencermati makna menahan diri dari kegiatan puasa ini untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bulan Jihad Umat

Dalam terminologi bahasa arab, jihad mengandung arti bersungguh-sungguh atau penuh mengerahkan upaya untuk mencapai sesuatu. Sehingga dalam definisi luasnya, jihad diartikan pula sebagai usaha untuk melawan sesuatu hal yang buruk atau salah. Contoh sederhananya adalah melawan kebodohan dengan bersungguh-sungguh belajar dan memperbaiki kemampuan atau bekerja dengan tekun dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca juga : Tidurnya Orang Puasa, Membuatnya Dosa

Selain sebagai bulan penuh kemuliaan, Ramadan juga memiliki catatan historis sebagai bulan jihad umat. Bulan ini menjadi saksi sejarah beberapa kejadian yang tercipta karena adanya semangat jihad yang digaungkan bersama-sama. Pada tahun kedua kalender Hijriyah atau tahun 624 Masehi, umat Islam mendapatkan sebuah kemenangan besar dan pertama dalam perang di perang Badar. Catatan ini menggembirakan mengingat jumlah pasukan muslim jauh dibawah pasukan Quraisy, yakni 313 melawan 1000 pasukan.

Perang ini meletup dipicu salah satunya adalah pengusiran umat muslim dari kota tinggalnya di Makah. Mengingat saat itu, muslim tidak diberikan kebebasan dalam beribadah, malah justru di teror dan ditakut-takuti. Sehingga saat itu, muslim memutuskan untuk berperang sebagai jalan perbaikan kehidupan yang lebih baik kedepannya, melawan hal buruk dengan berjihad atau penuh dengan kesungguhan.

Selain itu, Bulan Ramadan juga menjadi bulan spesial bagi Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia bertepatan pula dengan datangnya bulan ramadan. Semangat proklamasi ini juga bisa ditengarahi sebagai bagian dari jihad, yakni melakukan berbagai hal dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki atau memperoleh tujuan. Saat itu, jalan meraih kemerdekaan diperoleh melalui pelbagai cara, lewat pemberontakan di berbagai wilayah dengan mengusir para penjajah hingga diplomais dengan mendesak penguasa untuk membentuk tim khusus mempersiapkan negara merdeka. Semua ini dilakukan karena adanya semangat jihad masyarakat Indonesia untuk satu tujuan bersama, yakni meraih kemerdekaan negeri ini.

Jihad Kekinian

Dewasa ini, kata Jihad dikerucutkan menjadi sebuah usaha mencapai sesuatu melalui jalan kekerasan, jalan peperangan yang di implementasikan kepada pemahaman tentang terorisme. Banyak tersangka teroris yang melakukan pengeboman dipelbagai daerah mengaku menjalaninya atas nama jihad. Menyerang orang-orang dan membuat ketegangan di masyarakat. Jihad dijadikan dalih ajakan untuk mencapai tujuan agama yang diyakini paling benar. Masyarakat di butakan dengan narasi yang menyebut bahwa jihad melalui kegiatan terorisme manjadi satu-satunya usaha dalam membela dan menegakkan agama ini.

Tentu, paham demikian merupakan paham yang salah. Dalam masa Rosulullah, terjadinya peperangan dikarenakan masyarakat sudah akrab dengan itu, menjadi sebuah hal biasa dan yang terpenting menjadi sebuah kesepakatan antar kedua belah pihak yang akan bertarung. Dalam menjalankannya pun ada aturan-aturan yang dipakai. Jika kemudian diterapkan di era kini, tentu itu tidak relevan.

Kita perlu memahami kembali esensi dari makna jihad tersendiri, yakni sebagai usaha keras untuk melawan yang buruk. Implementasi jihad perlu disesuaikan dengan kondisi kekinian. Hal ini diperlukan agar tetap sesuai dan dapat menghasilkan kebermanfaatan. Seperti halnya ujaran kebencian yang banyak tersaji di media sosial kita. Tentu itu adalah sebuah keburukan saat ini, yang kita pun sama-sama tahu bahwa membagikan konten yang baik di media sosial lebih bermanfaat dari pada itu. Ini yang semestinya jadi perhatian kita saat ini.

Media sosial menjadi lahan subur untuk digarap saat ini. Inilah bagian dari kehidupan kita saat ini. Maraknya ujaran kebencian, berita bohong dan banyak hal negatif lainnya yang tersaji di media sosial perlu segera diganti dengan usaha sungguh-sungguh, yakni jihad. Jihad dengan cara memulai dari diri sendiri untuk tidak membagikan konten negatif, melaporkan konten kebohongan dan memprosduksi konten positif sebagai bagian dari literasi digital kita semua.

Facebook Comments