Ramadan dan Semangat Kembali Ke Fitrah Bangsa

Ramadan dan Semangat Kembali Ke Fitrah Bangsa

- in Suara Kita
194
1
Ramadan dan Semangat Kembali Ke Fitrah Bangsa

Kegaduhan sosial semakin hari, semakin menjadi-jadi. Hampir setiap sudut di media sosial dipenuhi umpatan, caci-maki, hoax serta ujaran kebencian. Polarisasi masyarakat baik menjelang maupun  pasca pemilihan umum terus menyeruak. Tak syak lagi, masyarakat pun terbelah dan menjadikan preferensi pilihan politiknya sebagai hakim untuk menilai individu/pihak lain di luar dirinya. Akibatnya, nilai-nilai persaudaraan dan semangat toleransi yang selama ini menjadi citra dan identitas kebangsaan ini mulai terkoyak-koyak.

Dalam kondisi seperti ini, refleksi Ramadan sebagai bulan suci nan mulia yang melatih diri untuk membunuh nafsu keegoan dan kebinatangan menjadi penting dan mendapat momentumnya. Ramadan sebagai sarana dan tempat berproses untuk menjadi insan yang bertaqwa menjadi kunci untuk kembali lagi ke fitrah bangsa. Pergeseran idententitas bangsa dari ramah menjadi marah; dari toleran menjadi intoleran; dari nilai persaudaraan menjadi sikap menegasikan yang lain, perlu dikikis dari dalam diri setiap anak bangsa.

Ramadan harus diterjamahkan sebagai wahana untuk berperoses kembali kepada fitrah bangsa. Fitrah bagsa ini  terlahir sebagai bangsa yang bersatu, penuh dengan sifat gotong royong, serta akomodatif. Konsekuensi logisnya, maka seluru perbedaan pilihan politik, kepentingan praktis kelompok, dan nafsu ingin menang-menangan harus ditundukkan di bulan puasa ini. Puasa tidak lagi diterjamahkan sebagai ibadah-ritual-vertikal kepada Tuhan, tetapi harus dimaknai juga sebagai ibadah-sosial-horizontal yang bisa melahirkan insan-insan yang menghayati serta mewujudkan kedamaian di lingkungan sekitarnya.

Dari Potensi Menuju Aksi

Ramadan mempunyai potensi sebagai tempat berproses untuk kembali kepada fitrah bangsa. Tetapi laiknya refleksi, tentu tidak hanya berhenti pada gerak ke dalam, tetapi di saat yang sama juga harus gerak keluar sekaligus. Di sinilah perlunya aksi sebagai gerak keluar. Potensi Ramadan akan sia-sia, jika tidak diikuti oleh semangat aksi nyata dalam mepraktikkan nilai-nilai persaudaraan, toleransi dan welas kasih kepada sesama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga : Menjadi Insan Kamil Pasca Ramadan

Kedamain (lahum ajrahum), keamanan (wala khaufun), dan kesejahteraan (wala hum yahzanun) sebagai ciri ketaqwaan harus ada bukti nyata dalam hubungan sosial. Puasa yang tidak mempunyai efek sosial, dalam bahasa Nabi adalah puasa yang sia-sia, hanya sekadar menahan dahaga dan lapar. Puasa harus dijadikan oleh setiap individu-individu untuk menrmbus batas-batas kelompok, kepentingan partai, dan pilihan politik. Aksi konkrit itu bisa mengubah sifat kekerasan menjadi kelembutan; memukul menjadi merangkul; memisahkan menjadi menyatukan; menjauhkan menjadi mendekatkan.

Fitrah Indonesia sebagai bangsa majemuk, terdiri dari berbagai suku, ras, serta agama harus digelorakan kembali. Adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha menegasikan keragaman dan membuat opini sesat bahwa hanya golongannya yang paling berhak di tanah air ini harus diantisipasi bersama sejak dini. Ramadan yang secara harfiah adalah menahan; menahan dari segala bentuk provokasi untuk menyeragamkan perbedaan; menahan provokasi, menyebarkan hoax dan ujaran kebencian di media sosial; menahan untuk mendelegitimasi hasil pemilu, merupakan aksi yang harus digaungkan bersama.

Pemaksaan kehendak harus dicegah, lebih-lebih kehendak yang ambisius untuk berkuasa. Kita harus meletakkan nilai persaudaraan dan harmoni anak bangsa di atas segalanya. Segala bentuk usaha yang berpotensi merobek-robek persaudaraan harus kita perangi bersama. Sunnatullah, bahwa Indonesia satu dalam keragamannya dan beragam dalam kesatuannya menjadi perinsip utama dan pertama. Ramadan mengajarkan kita, bahwa puasa adalah jalan lurus untuk menuju  fitrah barsama itu.

Di tengah kondisi negeri ini, masih dalam gonjang-ganjing pemilu. Perlu kiranya kita menjadikan Ramadan sebagai potensi untuk menuju aksi bersama dari kita semua untuk kembali lagi ke fitrah bangsa ini. Fitrah yang kita semua berpayung di dalamnya, yakni rasa persaudaraan, persatuan, dan rasa toleransi.

Facebook Comments