Ramadan Dan Ujaran Kebencian

Ramadan Dan Ujaran Kebencian

- in Suara Kita
225
1
Ramadan Dan Ujaran Kebencian

ALKISAH, seorang ahli ibadah yang bodoh keluar dari tempat beribadahnya, berkeliling untuk merenungi kekuasaan Allah Swt. Di sela-sela berkeliling, ia bertemu dengan setan yang menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki yang seolah-olah shaleh.

“Bagaimana caranya agar semua dosa-dosa saya diampuni oleh Allah Swt?,” tanya dia kepala lelaki tersebut.

Setan itu menjawab, “Agar Allah Swt. mengampuni dosa-dosamu, maka carilah tikus gunung, lalu kamu gantungkan tikus itu di lehermu seraya beribadah kepada Allah Swt. sepanjang hidupmu”.

Ia pun melaksanakan nasehat dari setan itu. Ia terus-menerus melakukan ibadah dengan membawa tikus yang notabene najis itu sampai ia meninggal dunia.

Bagaimana ibadah orang tersebut?. Semua ibadahnya selama ini, tentu, tak sah dan sia-sia.

Dari kisah tersebut menegaskan bahwa setan tak akan berhenti untuk memperdayai dan menjerumuskan umat manusia ke jurang kebinasaan. Setan adalah musuh paling nyata bagi umat manusia.

Jabir bin Abdullah menyatakan, Rasulullah Saw bersabda, “Singgasana iblis ada di atas laut. Dia mengirim pasukan tentaranya setiap hari untuk menggoda manusia. Tentaranya yang paling tinggi kedudukannya adalah tentara yang paling lihai menjerumuskan manusia” (HR Ahmad).

Baca juga : Berpuasa dari Kebencian

Setan pada dasarnya adalah manifestasi dari kejahatan dan perilaku tercela lainnya. Artinya, seorang yang berbuat jahat, berarti ia telah termakan bujuk rayuan setan. Banyak orang telah termakan bujuk rayuan jahat setan, salah satunya ialah orang yang gemar mengumbar dan menyebar kebencian. Tak tanggung-tanggung, ia akan menyebarkan fitnah dan hoaks sampai umat manusia saling bermusuhan dan membenci.

Tanpa menafikan aspek positifnya, keberadaan teknologi digital membuat masyarakat secara sadar maupun tidak turut menyebarkan hoaks dan fitnah tersebut. Terlebih, jika informasi yang diterimanya itu tak dicek terlebih dahulu dan asal sebar. Hal itu banyak kita temukan di berbagai platform media sosial.

Seorang Caleg DPR RI, misalnya, ditangkap karena unggahan “people power dan bunuh polisi” di akun facebook miliknya. Tulisan itu memang provokatif dan bahaya jika dibaca orang awam yang tak mengerti permasalahannya.

Berdasarkan keterangan polisi, pelaku mengaku mendapatkan kalimat itu dari sebuah grup WhatsApp. Pelaku telah mengaku bersalah, karena tak mencari tahu terlebih dahulu informasi tersebut dan justru mengunggahnya di akun facebooknya. Ia juga telah meminta maaf atas perbuatannya yang membuat gaduh tersebut.

Sebelumnya, sekelompok masyarakat mendatangi rumah pria berinisial EM dan membawanya ke Polsek Pontianak Timur untuk proses hukum lebih lanjut. Ia ditetapkan menjadi tersangka karena diduga menghina Habib Rizieq Shihab di facebooknya.

Ada juga seorang komedian yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik karena lawakannya dianggap menghina ulama. Tentu kita juga tak setuju lawakannya mengenai plesetan merek sepatu yang ia sebut “AdiSomad”. Ia telah bertemu ulama tersebut dan menyampaikan permintaan maaf. Ia juga telah mendatangi kantor pusat MUI dan menyampaikan permintaan maaf atas sejumlah tuduhan yang menganggap dirinya menghina Nabi Muhammad Saw.

Bulan Ramadan telah tiba. Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah tetapkan puasa di dalamnya sebagai kewajiban. Puasa memiliki aturan melarang makan, minum dan upaya “berhubungan suami istri” dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

“Apabila bulan Ramadan tiba dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, serta dibelenggulah para setan” (HR Muslim). Menurut seorang tokoh sufi, Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, setan yang dimaksud dalam hadist ialah para pembesarnya, sedangkan yang kecil-kecil itu tak dibelenggu oleh Allah Swt.

Dengan demikian, jika pada bulan Ramadan ini kita masih terkena bujuk rayuan setan, maka keimanan kita perlu dipertebal. Jika kita masih membuat dan menyebar ujaran kebencian pada bulan mulia ini, maka keimanan kita juga perlu dipertanyakan.

Memang, pada Pilpres 2019 masyarakat Indonesia kembali terbelah. Ada yang di kubu Capres-Cawapres 01, ada juga yang di 02. Hiruk-pikuk peristiwa sosial politik tanah air belum reda meski coblosan telah digelar. Sebagian dari masyarakat juga masih mudah mengumbar emosi dan kebencian.

Herbert H. Clark dan Susan E. Brennan dalam tulisannya berjudul “Grounding in Communication” mengemukakan teori grounding. Teori itu menjelaskan bahwa untuk melakukan komunikasi, pihak-pihak yang terlibat memerlukan common ground. Melalui common ground, diharapkan akan tercipta tindakan kolektif bersama.

Bulan Ramadan bisa menjadi common ground di tengah hiruk-pikuk sosial politik tanah air. Hal itu bisa diterjemahkan misalnya dengan membuat kesepakatan untuk tidak membuat dan menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Di Afghanistan, Libya dan Palestina misalnya, bulan ini sering dijadikan alasan dan periode damai.

Akhirul kalam, kita tak tahu apakah tahun depan masih bisa berjumpa dengan Ramadan atau tidak. Sebab, kita tak tahu kapan umur kita berujung. Mari kita jadikan Ramadan ini seakan-akan Ramadan terakhir sehingga tercegah dari bujuk rayuan setan yang salah satunya mendorong manusia menebar ujaran kebencian.

Facebook Comments