Ramadan; Ghiroh Berbagi Menghapus Tabiat Memusuhi

Ramadan; Ghiroh Berbagi Menghapus Tabiat Memusuhi

- in Suara Kita
137
0

Oleh para ulama, perjalanan mengarungi bulan Ramadan kerap diklasifikasikan dalam tiga etape. Yaitu etape sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, dan sepuluh hari terakhir. Jika mengacu pada pendapat itu, kini kita telah memasuki etape terakhir. Sebuah etape yang paling menentukan dari seluruh perjalanan mengarungi Ramadan.

Jika etape pertama identik dengan fase rahmat Allah, etape kedua identik dengan fase ampunan, maka etape terakhir ini identik dengan pembebasan dari api neraka. Tentu bukan sembarang orang yang dibebaskan dari api neraka oleh Allah. Hanya mereka yang beribadah dengan ikhlas dan sabar selama puasa yang mendapat jaminan pembebasan dari api neraka.

Etape pamungkas ini sekaligus juga menjadi puncak perjalanan Ramadan. Menjadi tidak mengherankan jika umat Islam kian giat beribadah. Sebagian memilih menghabiskan sisa-sisa Ramadan dengan beri’tikaf di masjid. Sebagian sisanya memanfaatkan sisa Ramadan dengan memperbanyak ibadah dana amal saleh. Tujuannya satu; mengharap ampunan dan rahmat Allah.

Puasa Ramadan tidak diragukan merupakan ibadah yang komprehensif. Puasa Ramadan memiliki dimensi ganda, yakni spiritual dan sosial. Menahan diri dari makan, minum, dan nafsu biologis lainnya di siang hari selama sebulan penuh merupakan latihan spiritual untuk membersihkan jiwa dari segala perilaku negatif. Capaian tertinggi muslim yang berpuasa ialah meningkatnya derajat ketakwaan di hadapan Allah.

Sedangkan dari dimensi sosial, puasa Ramadan merupakan ibadah yang mampu membentuk etos kepedulian. Rasa lapar dan lemas ketika berpuasa kiranya bisa melahirkan kesadaran untuk bersimpati dan berempati terhadap nasib orang lain yang kurang beruntung. Di titik ini, puasa Ramadan ialah sarana membentuk kesalehan sosial.

Dimensi sosial dari ibadah Ramadan ini mewujud salah satunya ke dalam perintah membayar zakat fitrah dan memperbanyak infaq serta sodaqoh di hari-hari terakhir bulan suci. Di dalam kultur keindonesiaan, hari-hari menjelang berakhirnya Ramadan dan datangnya Idul Fitri ialah momentum yang lekat dengan konsumerisme.

Kebutuhan akan bahan makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya meningkat tajam. Tradisi mudik lantas menjadi semacam momentum migrasi massal manusia. Ringkas kata, Idul Fitri telah menjadi semacam hajatan kultural yang diwarnai oleh unsur kapitalisasi yang kental. Jika tidak bijak, kita rawan terjebak pada nalar hedonisme dan konsumerisme.

Spirit Berbagi Menumbuhkan Kesadaran Anti Sikap Memusuhi

Maka dari itu, semangat menyambut Idul Fitri hendaknya juga diimbangi dengan ghiroh untuk berbagi terhadap sesama. Idul Fitri idealnya menjadi hari raya seluruh umat Islam dan seluruh umat manusia secara universal. Filosofi Idul Fitri tentang kesucian dan kemenangan idealnya terejawantahkan dengan meningkatnya semangat untuk berbagi pada sesama.

Spirit berbagi yang dilandasi atas dasar kesadaran kemanusiaan akan melahirkan situasi sosial yang kondusif untuk menyemai nilai dan prinsip perdamaian. Di titik inilah, ritual zakat fitrah dan praktik infaq atau sedekah bisa menjadi instrumen untuk melatih kita menjadi insan yang memiliki kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial itu wujudnya ialah kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain (simpati) dan kesediaan untuk peka dan peduli pada penderitaan liyan (empati).

Dalam lingkup yang lebih luas, semangat berbagi di bulan Ramadan ini juga akan menjadi instrumen untuk menghapus sikap atau tabiat memusuhi orang lain. Kepedulian dan kepekaan sosial mustahil lahir dari pribadi yang nuraninya tumpul, nirempati, dan miskin simpati. Kepedulian dan kepekaan sosial hanya akan lahir dari insan yang di dalam nuraninya tidak tersisa lagi virus kebencian dan permusuhan terhadap sesama.

Mengutip Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul Compassion; 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih, spirit berbagi (sharing) senantiasa beriringan dengan spirit mengasihi (caring) dan mencintai (loving). Sikap welas asih (compassion) dan cinta terhadap sesama tidak bisa diciptakan dengan instan, melainkan butuh latihan dan proses. Salah satu cara menumbuhkan sikap welas asih dan cinta terhadap sesama manusia ialah merawat spirit untuk berbagi.

Dengan spirit berbagi, virus kebencian dan permusuhan akan teranulir dengan sendirinya. Alhasil, dunia akan menjadi tempat yang kondusif bagi terciptanya perdamaian. Di titik ini, puasa Ramadan tidak hanya akan berdampak pada kehidupan umat Islam saja, namun juga memberikan andil sosial pada manusia secara universal. Dengan kata lain, spirit berbagi yang mampu menghapus tabiat memusuhi ialah wujud dari dictum Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Facebook Comments