Ramadan: Kekuatan Moral untuk Saling Berbagi dan Menghapus Permusuhan

Ramadan: Kekuatan Moral untuk Saling Berbagi dan Menghapus Permusuhan

- in Suara Kita
198
0

Di bulan Ramadan, umat Islam bersama-sama melaksanakan ibadah puasa: menahan lapar, dahaga, nafsu dan syahwat. Di bulan ini, semua amal dilipatgandakan. Umat Islam berbondong-bondong melakukan amal kebaikan: tarawih, tadarus al-Qur’an, infaq, zakat, sedekah, dll. Maka itu, tak heran, Ramadan bukan hanya bisa semakin mendekatkan manusia kepada Allah Swt., namun jega merekatkan ukhuwah sesama manusia. Beragam ritual yang dijalani saat puasa, memang sarat membuat satu sama lain memiliki ikatan yang semakin kuat. Menahan lapar dan haus mengajarkan empati dan simpati, shalat tawarih berjama’ah mengajarkan kerekatan sosial, dan sedekah/zakat mengajarkan solidaritas sosial.

Puasa sebagai Rahmat

Puasa sungguh ibadah yang amat lekat dengan pesan-pesan kemanusiaan. Maka itu, seyogyanya puasa menjadi rahmat bagi sesama, bukan untuk memupuk kebencian kepada sesama. Dalam hadits disebutkan, “…awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahan sebagai ampunan dan akhirnya menjadi momentum kebebasan dari api neraka”. (HR. Baihaqi).

Inilah alasan, mengapa memenuhsesaki bulan suci Ramadan dengan perilaku yang mencerminkan kasih sayang menjadi sebuah keniscayaan. Ramadan harus dijalankan dengan penuh toleran, bukan disikapi dengan latah dan melegitimasi kekerasan serta perilaku intoleran dibalut dengan dalil keagamaan. Hal ini karena kunci memenangkan puasa Ramadan adalah saling berbagi kasih sayang dan cinta. Puasa, menjadi momentum tepat, menguji iman orang yang berpuasa, sejauhmanakah tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan dan kepedulian mereka kepada sesama.

Perlu diingat, Alquran juga sudah menahbiskan bahwa misi Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah menjadi rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya’: 107). Maka itu, bila masih ada sesama yang tidak merasa aman dari lisan dan perbuatan kita, sungguh perlu ada yang dikoreksi dalam cara beragama kita. Beragama bukan hanya perihal ritual ibadah menyembah Tuhan semata yang alpa kemanusiaan. Beragama secara benar justru mentransformasikan sifat ketuhanan dengan menunjukkan empati sosial kepada sesama serta melakukan perubahan sosial menuju lebih baik.

Oleh karenanya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan membumikan kasih sayang kepada sesama manusia. Memberi ruang seluas-luasnya agar perbedaaan yang notabene menjadi fitrah kebangsaan menjadi semakin harmoni. Perbedaan jangan sampai menjadi dalih pijakan untuk membenarkan kebencian, kekerasan, dan konflik. Perbedaan harus dijadikan realitas kesejarahan untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan.

Miqdad Husen (2007) pernah menjelaskan bahwa Islam sangat menghormati perbedaan, karena dalam setiap perbedaan, tersembunyi kekuatan istimewa yang bisa digunakan sebagai modal membangun peradaban yang lebih terhormat, konsruksi bangsa yang semakin kuat, atau kuda-kuda masyarakat yang semakin kokoh. Atau, ketahanan hidup bermasyarakat yang tidak mudah digoyahkan oleh kekuatan manapun. Dari perbedaan ini, sebenarnya ada elemen sosial yang bisa dan mampu mengingatkan dan menyelaraskan kepentingan mengenai tegaknya kebenaran, kejujuran, kesetaraan, dan keadilan.

Menghapus Kebencian

Di bulan puasa, sungguh, kita harus saling berbagi kasih kepada sesama. Tidak saling membenci. Tidak juga saling memusuhi antarsesama yang berbeda. Perbedaan harus menjadi rahmat. Perbedaan tidak boleh menjadi landasan untuk menebar kebencian dan melegalkan kekerasan. Berbeda agama dan kepercayaan sekalipun, harus disikapi dengan penuh cinta. Tidak bermusuhan. Apalagi menebar teror. Terhadap pemeluk agama selain Islam misalnya, kita perlu menunjukkan sikap toleran, menghormati hak-hak mereka sebagai sesama manusia dan warga negara serta memanusiakannya dengan sepenuh hati. Begitu pula dengan sesama muslim, sekalipun pada beberapa ajaran yang bersifat furu’iyyah sering terdapat perbedaan, kita tidak boleh saling memusuhi, mengkafirkan sesama, menebar ujaran kebencian, dan bersikap arogan terhadap keyakinan kita sendiri.

Nabi Muhammad pernah mengingatkan, “tidak disebut beriman diantara kalian, sehingga mencintai sesamanya (saudaranya) sebagaimana kalian mencintai diri sendiri”. Doktrin universal ini mengajarkan tentang relasi kehidupan yang tidak egoistik, saling “memberi hak hidup” dan kedamaian pada orang lain. Bukan menebar kebencian, saling berseteru dan melegalkan perilaku dehumanisasi.

Spirit dan kesadaran seperti inilah yang seharusnya menjadi kekuatan moral (moral force) di bulan Ramadan ini sehingga menggerakkan terjadinya pertemuan antarsegmen bangsa yang berbeda etnis, budaya, agama, politik, ekonomi, dan status sosial. Sehingga, antarsesama bisa saling menunjukkan kasih sayang kepada sesama dengan saling berbagi. Lewat zakat, infak, dan sedekah, kita tunjukkan bahwa beragama tidak hanya menjadikan manusia saleh ritual dalam dimensi ketauhidan, namun juga menjadikan manusia saleh sosial. Ujungnya, kita tidak mudah saling menebarkan kebencian, justru kita begitu enteng mengemban misi Islam dalam menebar rahmat. Berbagi kasih sayang dan cinta antarsesama. Karena itulah kunci memenangkan puasa Ramadan. Wallahu a’lam.

Facebook Comments