Ramadan; Membangun Kepedulian Sebagai Terapi dari Sindrom Kebencian

Ramadan; Membangun Kepedulian Sebagai Terapi dari Sindrom Kebencian

- in Suara Kita
237
0

Tidak terasa, kita hampir sampai di pengujung bulan Ramadan. Bulan suci nan penuh berkah ini tinggal menyisakan sepuluh hari terakhirnya. Ada perasaan sedih berpadu bahagia. Bahagia karena kita akan segera merayakan Idul Fitri. Sedih karena itu artinya Ramadan akan segera berlalu tanpa ada kepastian apakah kita akan bertemu kembali.

Di sepuluh hari terkahir Ramadan ini, umat Islam disibukkan dengan rangkaian ibadah baik ibadah mahdhah maupun ibadah sosial. Sepuluh hari terakhir ialah momentum untuk berburu berkah lailatul qadar; malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Di saat yang sama, umat Islam juga disibukkan dengan ibadah sosial, terutama pembayaran zakat fitrah, zakat mal, ifaw, sodaqoh, dan sejenisnya.

Kewajiban membayar zakat di pengujung bulan Ramadan ialah sebuah simbol bahwa kesucian manusia harus ditebus dengan sikap peduli terhadap sesama. Belum sempurna perjalanan muslim kembali ke fitrah di hari raya jika ia belum mengeluarkan zakat fitrah. Selain itu, zakat fitrah juga menjadi simbol pentingya kepedulian sosial.

Zakat fitrah, juga zakat mal, sodaqoh, da infaq bukanlah ajang pamer superirotas kelompok kaya kepada kelompok miskin. Namun, lebih dari itu, zakat, sodaqoh, dan infak ialah mekanisme untuk mendistribusikan kekayaan atau harta-benda demi pemerataan kesejahteraan umat. Zakat, infaq, dan sodaqoh ialah mekanisme pemberdayaan sosial yang berbasis pada ajaran agama (Islam).

Manfaat Berbagi Secara Psikologis, Sosiologis, dan Kultural

Praktik zakat, infak dan sedekah di dalam Islam kiranya bisa ditilik dari beragam sisi, mulai dari sisi psikologis, sosiologis, maupun kultural. Dari sisi psikologis, spirit berbagai yang mewujud pada tradisi pemberian zakat, infak, dan sodaqoh dapat menciptakan sensasi kebahagiaan bagi individu yang memberi atau pun menerimanya.

Bagi sang pemberi, tindakan berbagai menimbulkan perasaan bahwa dirinya mampu berguna, hadir, dan berperan bagi kehidupan orang lain. Perasaan ini akan menimbulkan sensasi kebahagiaan yang unik, berbeda, dan tidak bisa dibuat-buat secara artifisal. Artinya, kebahagiaan memberi ialah kebahagiaan yang orisinial alias hakiki.

Hal yang sama dirasakan oleh sang penerima. Menerima zakat, infaq, atau sodaqoh akan melahirkan sensasi merasa diperhatikan dan dicintai oleh orang lain. Bagi kelompok lemah, perasaan minder, inferior, dan merasa terasing dari kehidupan sosial itu merupakan hal yang lumrah. Ketimpangan sosial kerap melahirkan jarak antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Maka, zakat, infak dan sodakoh yang menjadi menu ibadah Ramadan kiranya bisa memangkas jarak sosial tersebut.

Dari sisi sosiologis, zakat, infak, dan sodaqoh jelas memberikan dampak signifikan bagi distribusi kesejahteraan. Mengalirnya harta dari kelompok kaya ke kaum miskin menstimulasi terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Praktik zakat, infaq, dan sodaqoh dengan demikian bisa menjadi instrument pemberdayaan sosial berbasis keagamaan.

Di banyak negara, dana zakat, infaq, dan sodaqoh yang dikelola dengan manajemen modern bisa menjadi penopang kegiatan sosial seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan sejenisnya. Hal ini membuktikan bahwa potensi zakat, infaq, dan sodaqoh sebagai katalisator kemajuan umat tidak bisa dipandang sepele.

Berbagi; Membasuh Jiwa dari Nalar Kebencian

Terakhir, secara kultural praktik berbagi di bulan Ramadan seperti membayar zakat, infaq, dan sodaqoh juga bisa mengikis nalar kebencian yang mengotori nurani kita. Dalam dunia tasawuf, nurani yang kotor itu bisa dilihat dari ucapan dan perilaku buruk seperti gemar mengumbar amarah dan kebencian pada sesama manusia. Selain tazkiyatun nafs, alias pembersihan jiwa, metode untuk menghapus kebencian yang menguasai alam bawah sadar ialah dengan memperbanyak perilaku berbagai pada sesama.

Spirit berbagi, dari sisi tasawuf dapat menjadi semacam terapi untuk mengatasi sindrom kebencian. Orang yang hatinya masih dikuasai nafsu amarah dan benci, harus sering-sering berbagi pada orang lain. Membiasakan diri berbagi akan melapangkan hati dan pikiran sehingga bisa lebih jernih dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Mengeluarkan zakat, infaq, dan sodaqoh tidak hanya membersihkan harta kita dari anasir keharaman. Melainkan juga bisa membersihkan jiwa kita dari unsur-unsur kebencian dan permusuhan.

Bulan Ramadan, utamanya sepuluh hari terakhir ialah momen tepat untuk membangun spirit kepedulian sebagai terapi mengatasi sindrom kebencian. Sudah terlalu lama bangsa ini mengidap sindrom kebencian. Akibatnya, ruang publik kita penuh sesak oleh narasi perpecahan, adu-domba, dan provokasi. Jika dibiarkan, hal itu akan merusak harmoni kebangsaan yang susah payah kita bangun dan jaga bersama. Maka, Ramadan ini kiranya bisa menghadirkan energy untuk berbagi, bersimpati, dan berempati. Tidak hanya sekadar sebagai ritus spiritual dan pemberdayaan sosial, namun juga bermanfaat bagi terapi dari sindrom kebencian.

Facebook Comments