Ramadan; Menolak Provokasi, Merajut Harmoni

Ramadan; Menolak Provokasi, Merajut Harmoni

- in Suara Kita
281
1
Ramadan; Menolak Provokasi, Merajut Harmoni

Bisa dikatakan, Puasa tahun ini jatuh di bulan yang tepat. Pasalnya, jatuh setelah pesta demokrasi Indonesia, yakni Pemilu 2019 yang dalam sejarahnya selalu diwarnai dengan ketegangan politik bahkan konflik sosial. Karena itu, hadirnya Bulan Suci Ramadan mestinya menjadi bulan ‘pendinginan’ setelah masyarakat terpolarisasi oleh pilihan yang beda, dan bahkan saling menjatuhkan demi bela jagoannya yang dianggap lebih baik atau lebih beriman.

Namun, ternyata Bulan puasa tidak bisa sepenuhnya streril dari tindakan egoistik dan emosional-rekasioner sejumlah umat Islam. Apalagi, bagi para pendukung pasangan calon (Paslon) yang kalah berdasarkan rekapitulasi KPU RI pada Selasa (21/5) dini hari. Mereka merasa dizolimi oleh pemerintah dan menilai penyelenggaran Pemilu 2019 melakukan kecurangan yang merugikan Paslon jagoannya. Akibatnya, seruan people power yang dilontarkan elite politik disambut genggap gempita oleh masyarakat yang menilai hal tersebut suatu keniscayaan, bahkan jihad mengawal keadilan.

Korbannya jelas, masyarakat umum yang militant dalam membela Paslon tertentu. Mereka yang tidak terlalu melek politik, terpaksa memakan pil pahit atas perbuatannya. Sejumlah partisipan dan relawan pun terpaksa mendekam di penjara, lantaran mengumbar ujaran kebencian yang dinilainya suatu kebenaran, bahkan perjuangan. Karena itu, menginternalisasikan spirit Puasa Ramadan agaknya menjadi begitu urgen, supaya kita tidak kelewat batas dalam merespons apapun hasil Pemilu 2019 nanti.

Abd A’la dalam tulisannya (Kompas, 04/07/15) mengatakan, inti dari puasa yakni melaksanakan, memaknai ibadah, dan melabuhkannya dalam kehidupan nyata; individual sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Artinya, esensi puasa mestinya mewujud ke aksi nyata kita, sehingga tidak memunculkan perilaku yang merusak diri dan sesama, atau persatuan negara-bangsa.

Baca juga : Ramadan, Politik Berkedamaian, Dan Kemenangan Rakyat

Memang diakui, isu agama dalam Pemilu 2019 cukup santer terdengar. Bahkan, terkesan menjadi jualan paling laris yang selalu diumbar salah satu Paslon berikut Tim Sukesnya. Hal inilah yang mesti diwaspadai, karena kerapkali umat Islam terjerat jebakan salah tafsir dalil agama, hanya untuk kepentingan politik. Misalnya, dulu ketika Neno Warisman membacakan puisi berisi doa Nabi Muhammad Saw. saat perang Badar untuk menggambarkan pertarungan Pemilu 2019, dinilai tidak tepat bahkan membahayakan. Bagaimana tidak, dalam puisi-doa tersebut, Neno terkesan menuduh lawan politik sebagai ‘musuh Allah’ yang jika dibiarkan menang akan ‘menghalangi umat Islam beribadah kepada-Nya’. Ironisnya, hal ini diamini masyarakat yang berada di kubunya, dan menjadi spirit baru untuk melawan Pemerintah.

Tentu saja, puisi-doa tersebut sangat bermuatan politis –dan masyarakat awam memandangnya sebagai hal yang wajar, padahal berpotensi memecah belah umat. Karena itu, momentum Ramadan kali ini mestinya bisa menjadi kendali kita untuk tidak ceroboh dalam bersikap dan berperilaku, sehingga apa yang keluar dari mulut kita dan dilakukan tangan-kaki-pikir kita sejalan denga spirit Islam yang rahmatan lil alamin.

Ramadan; Bulan Perekat Persatuan Bangsa

Satu hal yang perlu dipahami adalah, Ramadan bukan hanya ibadah ritual, melainkan juga sosial. Bukan hanya pahala yang dikejar saat Ramadan, tapi juga perbaikan kehidupan dalam masyarakat. Sehingga, seiya-sekata antara kualitas spiritual individu dengan sosial masyarakat, yang akan melahirkan saling pengertian dan saling memiliki.

Sebagai contoh, ‘budaya’ yang kadung mengakar di Indonesia setiap kali Ramadan tiba ialah buka bersama. Mereka yang merasa memiliki harta berlebih, dengan suka rela menginfakkan untuk pengadaan buka bersama di masjid-masjid. Sebagian, memilih perempatan lampu merah untuk berbagi menu sahur. Sebagiannya lagi, mencari orang-orang lusuh di emperan jalan atau tukang becak yang sedang mangkal. Sungguh, sebuah fenomena luar biasa yang begitu kontras dengan ketegangan Pemilu 2019. Hal tersebut mengindikasikan bahwa warga negara, khususnya umat Islam masih memiliki kepedulian terhadap sesama.

Rekapitulasi sudah final dan publik sudah mengetahui siapa pemenag Pemilu 2019. Selain itu, KPU juga memberikan 3 hari terhitung sejak Rabu (22/5) bagi peserta pemilu yang keberatan atas hasil Pemilu 2019 untuk mengadukannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Jika tidak ada, KPU akan segera menetapkan pemenang dalam Pemilu 2019.

Maka, tidak ada cara yang lebih arif selain mengungkapkan kekecewaan atas hasil Pemilu 2019 selain melalui jalur konstitusional. Bukankah Puasa Ramadan mengajari kita arti penting menahan diri, baik dalam mengekspresikan kesenangan ataupun kesedihan, kekalahan ataupun kemenangan.

Facebook Comments