Ramadan: Refleksi Solidaritas Terhadap Minoritas

Ramadan: Refleksi Solidaritas Terhadap Minoritas

- in Suara Kita
185
0
Ramadan: Refleksi Solidaritas Terhadap Minoritas

Bulan Ramadan bagi bangsa ini bisa dibilang telah menjadi bagian dari tradisi bangsa ini sendiri. Argumen ini sepertinya tidaklah berlebihan, sebab seperti kita ketahaui bersama bahwa mayoritas masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang memeluk Islam sebagai agamanya. Karenanya tak heran bila beberapa kebijakan pun mesti diarahkan untuk mengkondisikan kebutuhan masyarakat mayoritas. Contohnya saja seperti pengaturan awal puasa dan jatuhnya hari Idul Fitri, pengaturan zakat, infaq dan sedekah hingga pengaturan mekanisme arus mudik dan arus balik bagi para pemudik pada tiap momentum Ramadan.

Keterlibatan negara dalam segala mekanisme pengaturan tersebut dirasa sangat penting. Sebab bila hal demikian tidak mendapat perhatian, maka potensial akan menghadirkan persoalan-persoalan baru. Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan yang mengkhawatirkan, namun pertanyaan lain pun akhirnya mengemuka.

Bisakah momentum Ramadan ini menjadi langkah awal dalam bersolidaritas dengan semua warga negara Indonesia, khususnya dengan kelompok yang kerap digolongkan sebagai minoritas? Bila memang kita mengakui bahwa Ramadan yang selama ini hadir merupakan tradisi berbangsa, maka tentunya harapan agar momentum Ramadan menjadi momentum bersolidaritas dengan minoritas bukanlah hal yang berlebihan.

Realitas Minoritas

Mungkin kesan awal yang hadir karena mengetengahkan dikotomi minoritas dan mayoritas adalah adanya afirmasi terhadap pertentangan di antara keduanya. Namun sejatinya hal yang ingin dihadirkan adalah kejujuran melihat realitas yang ada agar pada gilirannya dapat mencarikan jalan keluar atas persoalan yang ada. Terlalu naif rasanya bila kita terus-terusan bersembunyi pada selubung penentangan dikotomi, padahal fenomena demokrasi sangat memungkinkan hadirnya hal tersebut.

Baca juga : Pidato Muhammad dan Semangat Perdamaian di Bulan Ramadhan

Seorang pemikir pada abad ke-19, Alexis Tocqueville pun telah sejak lama melihat bahwa konsepsi demokrasi berpijak pada tumpuan mayoritas dan minoritas. Kenyataan hari ini memperlihatkan dengan gamblang mengenai perdebatan politik identitas yang beririsan dengan mayoritas dan minoritas, kerap hadir dalam kehidupan kita masing-masing.

Dalam konteks kehidupan kita benegara dan bermasyarakat, hal-hal yang memungkinkan konsepsi mayoritas dan minoritas mengetengah dilatari oleh sejumlah persoalan. Contohnya saja seperti persoalan politik, kebebasan beragama, sosial hingga persoalan ancaman keamanan yang belakangan terjadi. Persoalan politik yang dimaksud adalah persoalan seperti pemilu presiden, wakil Presiden dan anggota legislatif.

Persoalan kebebasan beragama yang dimaksud adalah mengenai kebebasan melakukan ibadah dan pendirian rumah ibadah yang sering ditentamg, apabila pihak yang ingin melakukannya adalah kelompok minoritas. Persoalan sosial adalah hadirnya suara sumbang di mana adanya pihak yang melantangkan provokasi bahwa masyarakat Islam di Indonesia mendapat penindasan dan diskriminasi. Tujuannya sendiri adalah ingin memunculkan kekisruhan di masyarakat – dalam bentuk masyarakat muslim di Indonesia yang notabene secara kuantitas mayoritas memberi tindakan represif terhadap masyarakat yang beragama minoritas. Lalu yang terakhir adalah persoalan yang berkaitan dengan isu radikalisme dan terorisme di mana banyak dari korbannya mengenai kelompok minoritas di Indonesia.

Ramadan Untuk Minoritas

Bila ibadah dalam bulan Ramadan hadir sebagai bentuk latihan dan ujian agar manusia menjadi saleh – dan pada gilirannya bisa menghadirkan kehidupan yang lebih baik, maka sudah saatnya pula kesalehan tersebut diarahkan kepada pembelajaran memanifestasikannya pada sekeliling kita. Manusia dan agama-nya tidaklah hidup dalam ruang hampa.

Tidak salah rasanya bila memanfaatkan momentum kali ini untuk menguatkan fungsi solidaritas sesama anak bangsa. Kali ini langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memikirkan kembali bagaimana kita semua memposisikan kelompok minoritas selama ini? Melalui pola refleksi pemikiran semacam ini, kita diajak untuk mengawali proses internalisasi ini terhadap sesama, terkhusus bagi semua kelompok minoritas.

Bila dalam refleksi kita mendapati bahwa ternyata penjiarahan kita di muka bumi selama ini hanya berisi kesalehan personal – di mana dalam beberapa aktivitasnya hanya menginjak kelompok lain, maka sudah saatnya kita bertanya ke dalam diri kita sendiri. Pertanyaannya adalah kepada siapa sesungguhnya kita beribadah? Sungguhkah kita beribadah kepada-Nya atau-kah kita beribadah semata hanya untuk menggugurkan kewajiban? Sadarkah kita bahwa ibadah sejatinya menjalin relasi dengan sang Maha rahim? Yang artinya bukan kemasan dan pengguguran kewajiban yang menjadi poin terpenting ajaran-Nya.

Bila kita memperhatikan dengan baik, sejatinya manifestasi relasi yang intim dengan sang Ilahi harus mampu pula hadir dalam kehidupan sosial kita. Relasi keintiman dan kedalaman spiritual yang menjadi harapan, harus pula mampu termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak bisa mengejar kesalehan personal dengan mengabaikan ketertindasan yang dialami minoritas. Mempelajari kehidupan masyarakat yang dikategorikan minoritas, serta menempatkan diri pada posisi tersebut akan membuat cara pandang kita dalam melihat sesama manusia menjadi lebih bijak.

Pada gilirannya bila hal tersebut sungguh-sungguh dipahami, maka tindakan nyata akan berani kita tunjukkan sebagai bentuk keberpihakan terhadap monoritas yang terpinggirkan. Setidaknya, tidak ada lagi ungkapan bernada ancaman yang hadir karena kebencian terhadap kelompok minoritas, contohnya seperti pernyataan, “Sudah syukur yang minoritas diizinkan hidup di negeri ini”.

Melalui bulan Ramadan ini, mari kita semua melakukan aktivitas pelatihan untuk bersolidaritas terhadap kelompok minoritas yang terpinggirkan. Tujuannya agar keimanan kita mampu menghadirkan perubahan positif bagi diri kita sendiri serta relasi kita dengan lingkungan sosial.

Facebook Comments