Ramadan: Sarana Membentuk Fitrah Manusia yang Beradab

Ramadan: Sarana Membentuk Fitrah Manusia yang Beradab

- in Suara Kita
397
2
Ramadan: Sarana Membentuk Fitrah Manusia yang Beradab

Tak terasa, umat Islam sudah memasuki hari-hari terakhir Puasa Ramadan. Tentu, ada rasa gembira bercampur sedih. Gembira lantaran akan menyambut hari kemenangan, yakni Idul Fitri. Bisa berkumpul dengan keluarga besar dan saling maaf memaafkan, kembali merajut persaudaraan yang retak. Sedih, lantaran hal itu artinya kita harus menunggu 11 bulan lagi untuk merasakan suasana penuh berkah Ramadan –itupun kalau kita diberi umur panjang. Alasan logis Ramadan dirindukan adalah, selama bulan tersebut kita selalu ditempa agar bersikap dan berperilaku yang selalu berada dalam koridor ketaatan, baik kepada Allah Swt. maupun norma-norma masyarakat setempat.

 Rasa lapar yang dirasakan semua orang berpuasa, mengajarkan hati welas asih kepada sesama, terutama kaum fakir. Masih untung kita bisa menyudahi rasa lapar itu ketika buka; bayangkan fakir miskin yang bahkan bisa berhari-hari berpuasa makan lantaran keadaan memang menuntut kemudian? Jika permenungan kita sampai sini, tentu hati lebih welas asih kepada sesame, dan pada akhirnya tumbuh-kembang-menjalar menjadi pribadi penuh kasih sayang.

Ada satu hadits yang menarik untuk kita renungi, terutama berkaitan dengan aktivitas puasa. Hadits tersebut berbunyi: Kalau ada orang yang mencaci maki atau mengajak berkelahi, katakan ‘aku sedang berpuasa’.  (HR. Bukhari dan Muslim).

Benar bahwa selama puasa dikatakan setan-setan dibelenggu. Namun, bukan berarti itu menjadi jaminan ketiadaan kejahatan atau hal-hal yang cenderung mengarah pada kerusakan. Karena, yang perlu kita sadari adalah, setan hanyalah ‘orang luar’ yang kerjaannya membisiki kita agar mengerjakan kemunkaran dan menjauhi kebajikan. ‘Bagian’ paling menentukan sikap dan perilaku kita sebenarnya adalah nafsu. Bahkan Rasulullah Saw. Menyebut perang terbesar bukan perang fisik, tapi batin; kita melawan nafsu kita. Penjelasan ini logis untuk menjawab kondisi bulan Ramadan kita yang di sementara daerah terjadi kericuhan dan saling serang antara manusia.

Baca juga : Menahan Amarah dan Fitnah di Bulan Berkah

Maka, di sinilah fungsi dari bulan Ramadan. Allah Swt. telah dengan penuh kasih memberikan kesempatan kepada kita untuk mawas diri dan meningkatkan kualitas diri selama Ramadan. Setan dibelenggu, pintu surga dan ampunan dibuka, serta pintu neraka ditutup. Artinya, selama Ramadan, kesempatan untuk menjadi insan yang mulia terbuka lebar. Tinggal manusianya saja mau mengambil kesempatan itu atau tidak.

Ungkapan “aku sedang berpuasa” ketika diajak berkelahi atau dicaci maki oleh orang lain, baik langsung maupun lewat perantara medsos, bisa diartikan sebagai sikap positif kita dalam menanggapi hal-hal negatif. Atau dalam konsep psikologi komunikasi, kata Engkus Kuswarno dalam http://www.unpad.ac.id, dikenal dengan homeophaty, yakni menciptakan suatu kondisi yang kontras dengan keadaan agar mencapai suatu keseimbangan psikologis. Membalas keburukan dengan kebaikan, pukulan dengan rangkulan, dan seterusnya. Hal semacam inilah yang sedang kita ‘garap’ selama bulan Ramadan, dengan harapan bisa menjadi instrumen kita selama 11 bulan sesudahnya dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Hadits lain yang juga dikutip Engkus yakni:

Ubadah bin Al Shamit menceritakan: Pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menceritakan: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatnya”. Ketika sahabat-sahabatnya berkata “Na’am ya Rasulullah”, kemudian Rasul berkata: “Engkau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, engkau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya.”

Jika kita sudah bisa menggunakan ungkapan “aku sedang berpuasa” dengan tetap, maka derajat kita pun akan ditinggikan oleh Allah Swt.  Karena, kita bisa memaklumi orang yang menentang kita, memaafkan yang aniaya, berbagi dengan orang pelit, dan menyambung perseduluran kepada orang yang justru menginginkan putus.

Apalagi di era pasca kebenaran, di mana fakta tidak begitu penting dan menjadi perhatian masyarakat. Yang justru diperhatikan adalah ungkapan emosional-provokatif, yang kerap membuat gaduh kehidupan berbangsa kita. Bulan Ramadan, menjadi penyembuh jiwa kita yang kadung terisi penuh dengan kebencian, kemunafikkan, dan ketidaksukaan pada liyan. Melalui Ramadan, kita bisa menjadi pribadi yang sadar nilai kemanusiaan dalam diri, sebagai manifestasi menciptakan kehidupan yang rukun dan damai.

Facebook Comments