Ramadan; Semangat Merayakan Kebersamaan dan Kemenangan Tanpa Kebencian

Ramadan; Semangat Merayakan Kebersamaan dan Kemenangan Tanpa Kebencian

- in Suara Kita
188
1
Ramadan; Semangat Merayakan Kebersamaan dan Kemenangan Tanpa Kebencian

Ramadan di tahun 2019 sekarang memiliki perjalanan yang cukup menarik untuk  menuju kemenangan  berbangsa. Di mana Ramadan sekarang ini tidak hanya disuguhkan dengan berpuasa, melainkan masyarakat juga menunggu hasil pemilihan umum presiden yang berlangsung 17 April 2019 bulan lalu.  Dan ini akan menjadi momen yang sangat di tunggu oleh masyarakat seluruh Indonesia.

Pemilu sebagai kontestasi politik meniscayakan perbedaan pilihan, ketegangan, pembelahan, bahkan tidak jarang kerekatan tali persaudaraan. Tetapi, dengan adanya Ramadan ini, akan menjadi terasa sangat istimewa. Karena ia menjadi aktual dan kontekstual sebagai penyambung keterputusan relasi sosial dan pengikat kerekatan jalinan masyarakat. Dalam hal ini Ramadan bisa dimaknai sebagai bulan yang mengajarkan kebersamaan untuk meraih kemenangan bersama.

Kesinambungan antara Ramadan dan menunggu hasil perhitungan, mengajarkan kepada seluruh manusia untuk selalu menguatkan solidaritas berbangsa. Di mana untuk menjaga keutuhan bangsa ini, kita sebagai warga Indonesia harus siap untuk membingkai kebersamaan dan menjaga solidaritas untuk keutuhan bangsa Indonesia. Yang kemudian ini akan bermanfaat untuk keselarasan dalam membingkai persaudaraan dan kerukunan.

Pada titik tertentu Ramadan juga mendidik umat bersama-sama merasakan hal sama, beribadah jamaah bersama, merasakan penderitaan sesama, menikmati hidangan buka bersama dan puncaknya meraih gelar fitri sebagai kemenangan bersama. Kebersamaan ini menggambarkan kita sebagai masyarakat Indonesia harus saling merangkul. Sebagaimana yang terdapat dalam semboyan, Berbeda-Beda Tapi Tetap Satu Jua. Ini memberikan arahan bagaimana, perbedaan di Indonesia mengajarkan pentingnya kebersamaan dalam perbedaan.

Baca juga : Ramadan dan Pendidikan Jihad Melawan Kebencian

Ramadan adalah bulan kasih sayang (syahrur rahmah), di mana kasih tak kenal sekat pembeda, baik itu agama, ideologi, partai politik dan latar belakang sosial budaya. Ramadan juga bulan kebaikan (Syahrun Thoyyibun) di mana kebaikan tidak pernah mengharapkan imbalan. Pun juga bisa dimaknai sebagai bulan tolong-menolong (syahrun ta’wun) untuk bersama-sama meraih kemenangan berbangsa tanpa membeda-bedalan derajat sosial kecuali ketakwaan. Karena itulah, kebersamaan di bulan ini menjadi semangat bangsa ini untuk memperkuat solidaritas untuk meraih kemenangan berbangsa.

Kemenangan berbangsa di sini harus dimaknai sebagai kemenangan bersama, bukan kemenangan calon tertentu, dan golongan tertentu. Karena ini adalah kemenangan bangsa Indonesia. Kemenangan yang harus dirayakan bersama, tanpa melahirkan unsur kebencian. Semua masyarakat harus mendukung masyarakat untuk membingkai Indonesia yang lebih baik. Dan, berangkat dari sinilah sebenarnya akan banyak tantangan baru. Maka, mereka yang menjadi pemimpin harus menjadi Insan yang siap mengabdi untuk bangsa Indonesia dan juga rakyat ini.

Bangun bangsa, bangun Indonesia, itulah yang harusnya disuarakan, bukan golongan mana yang menang. Karena sejatinya kemenangan ini untuk seluruh masyarakat Indonesia, bukan gelar Individu. Dengan menyuarakan hal tersebut, maka kita akan memahami betapa pentingnya kerukunan berbangsa, tidak akan ada unsur kebencian bagi mereka yang kalah. Sebab, tujuan dari mereka Ialah untuk Indonesia kepada masyarakat Indonesia.

Di bulan Ramadan yang sudah mencapai pertengahan, sering dimaknai sebagai bulan Nuzulul Quran, atau orang sering menyebutnya sebagai malam seribu bulan. Sederhananya, banyak yang meyakini bahwa malam ini menjadi malam yang penuh berkah. Dan, momen inilah yang seharusnya dijadikan pijakan sekaligus teladan untuk membingkai kerukunan dalam berbangsa. Di mana kita harus menganggap ini adalah keberkahan untuk bangsa ini agar selalu menguatkan solidaritas berbangsa dan menjunjung perbedaan sebagai jalan menuju kerukunan.

Ramadan adalah bulan kasih, sudah seharusnya kasih ini senantiasa tersalurkan kepada orang lain. Baik mereka yang Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan lain sebagainya. Karena kita adalah Indonesia yang hidup di tengah-tengah perbedaan, yang perbedaan ini mengajarkan bagaimana kerukunan, kebersamaan dan puncaknya perdamaian itu bisa tercapai apabila kita bisa sama-sama saling menghargai.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gus Dur untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bukan dari agama kita apa, suku kita apa, melainkan kebaikan apa yang sudah kita berikan kepada orang lain. karena ketika kita sudah berbuat baik kepada orang lain, orang lain tidak akan menanyakan agama apa kita, suku apa kita. Sebab, kita adalah saudara yang siap menjaga kebersamaan untuk keutuhan bangsa Indonesia.

Facebook Comments