Ramadan, Terorisme dan Reorientasi Jihad Kebangsaan

Ramadan, Terorisme dan Reorientasi Jihad Kebangsaan

- in Suara Kita
607
0
Ramadan, Terorisme dan Reorientasi Jihad Kebangsaan

Setahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 Mei 2018, Indonesia dirundung duka yang mendalam. Satu keluarga beserta komplotannya yang terduga teroris melakukan pengeboman di beberapa gereja yang ada di Surabaya, salah satunya adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Setahun sebelum itu di bulan yang sama, 24 Mei 2017, juga terjadi bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Kejadian ini menewaskan 5 orang dan mengakibatkan 10 orang luka-luka.

Dukanya, dua peristiwa itu tepat menjelang bulan Ramadan Hijriah tiba, bulan yang ditunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan suci Ramadan  yang dipenuh rahmat dan kasih sayang Allah SWT, yang seharusnya datang dengan gegap gempita, akan tetapi disambut dengan ketakutan dan pertumpahan darah yang jauh dari tujuan dan nilai-nilai diwajibkannya bulan puasa Ramadan.

Bulan Ramadan diwajibkan kepada umat Islam dalam rangka untuk meraih ketakwaan setinggi-tingginya, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan terhadap orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Q.S Al Baqarah: 183). Takwa sederhananya adalah takut melakukan keburukan yang dilarang Allah SWT, mengerjakan kebajikan sebanyak-banyaknya untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, serta mendetoksinasi rasa benci yang ada dalam hati, bukan sebaliknya melakukan penyerangan terhadap kelompok lain dengan teriakan Allahu Akbar, lebih-lebih melakukan teror bom bunuh diri dengan dalih jihad di jalan Tuhan.

Baca juga : Ramadan dan Pendidikan Jihad Melawan Kebencian

Elegi tindakan radikal di negeri ini masih saja terjadi, tidak sedikit korban nyawa berjatuhan akibat ledakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang mengaku Islam sejati, berjihad memerangi orang kafir. Sasarannya adalah kelompok umat lain agama yang berbeda keyakinan. Parahnya lagi, penyerangan tersebut dilakukan di rumah ibadah saat upacara ibadah berlangsung. Akibatnya, negeri ini diselimuti ketakutan yang mencekam dan penuh kewaspadaan, tetangga yang awalnya dikira anggota masyarakat yang baik dan bertutur sapa, tiba-tiba menjadi teroris yang bengis. Seakan kelompok radikal ini bak api dalam sekam yang siap membakar negeri ini secara tiba-tiba, sehingga mengakibatkan traumatis yang berkepanjangan.

Bila kita tanyakan kembali, dapatkah terminologi jihad yang berlaku pada jaman dahulu diterapkan dalam konteks negara bangsa (nation state) saat ini ?. Jawabannya sama sekali tidak. Lalu mengapa jaman dahulu Islam menghalalkan jihad, berperang mengayunkan pedang di medan pertempuran ?. Sebab, pada jaman dahulu, kondisi negara berbeda jauh dengan saat ini, saat itu konteksnya adalah negara perang (state of war), sehingga mau atau tidak, umat Islam harus ikut terjun langsung ke dalam gelanggang peperangan untuk mempertahankan diri (Abd A’la: 2014: 19). Sedangkan pada saat ini, konteksnya adalah negara bangsa, dalam konteks nation state, semua bangsa hidup berdampingan satu sama lain, dan bahu-membahu untuk menopang kemujuan bersama.

Oleh karena itu, berbicara jihad dalam konteks ke-Indonesiaan, bukan lagi tentang angkat senjata melawan penjajah, teriak Allahu Akbar menyerang kelompok selain Islam, lebih-lebih menaruh kebencian sesama bangsa. Indonesia telah berhasil merebut kemerdekaan dari tangan kaum penjajah pada 17 Agustus 1945 yang lalu, tepat 9 Ramadan 1334 H. Dan kini, Indonesia sudah menjumpai bulan Ramadan kembali, maka momen ini seharusnya bukan hanya sebagai nostalgia kemenangan bangsa Indonesia berjihad melawan penjajah, akan tetapi juga untuk merumuskan kembali tentang makna jihad yang benar dan tepat dalam konteks ke-Indonesiaan. Sehingga arah jihad bangsa bukan lagi pertumpahan darah akan tetapi lebih mendekati Basic Demand (tuntutan dasar) Indonesia saat ini.

Apabila melihat alam Indonesia pada saat ini, maka banyak masalah-masalah yang perlu ditangani secepat mungkin. Di antaranya seperti program pemerataan pendidikan yang belum dinikmati oleh sabagian rakyat yang ada di daerah pedalaman. Banyak daerah yang belum mempunyai gedung sekolah sendiri, sehingga untuk menempuh pendidikan, anak-anak di daerah itu harus menyebrangi sungai dengan jembatan yang kondisinya sangat membahayakan. Belum lagi persoalan kekurangan guru pengajar sebagai salah satu instruktur dalam terselenggaranya pendidikan.

Kondisi kedua yang perlu ditangani adalah ketimpangan ekonomi, di mana rakyat kita masih menjerit kelaparan dan kekurangan. Seringkali terlihat pengemis menyusuri trotoar jalan raya, anak kecil yang masih di usia sekolah memegang gayung mengetuk-ketu pintu mobil yang berhenti di lampu merah. Maka melihat kondisi ini, masih adakah alasan untuk mengangkat senjata atau melempar geranat dengan alasan berjihad ?, Mengapa tenaga mereka tidak digunakan saja untuk berjihad dalam konteks kebangsaan untuk bersungguh-sungguh membantu sesama bangsa yang sedang kesusahan ?.

Indonesia adalah kado terbesar yang dihadiahkan Allah SWT. kepada bangsa ini tepat di bulan Ramadan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan, setelah sekian lama bangsa ini berjihad melawan penjajah yang mengeksploitasi negeri ini dari segala sisi. Dan kini, kemerdekaan itu bertahan hingga bertemu dengan bulan Ramadan saat ini. Maka saatnya membangun negeri dan kembali mengorientasikan jihad yang sesuai dengan alam Indonesia yang ramah dan toto tentrem karto raharjo tanpa pertumpahan darah.

Facebook Comments