Ramadhan, Jihad Melawan Hate Speech

Ramadhan, Jihad Melawan Hate Speech

- in Suara Kita
308
0
Ramadhan, Jihad Melawan Hate Speech

Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi revolusi dalam proses komunikasi antar manusia. Kehadiran internet sebagai bentuk media baru (new media) membentuk pola baru komunikasi antar masyarakat. Dennis Mcquail, ilmuwan komunikasi terkemuka, menyebut satu perubahan yang paling penting ialah meningkatnya interaktifitas dan konektifitas. Kondisi ini dijelaskan lebih lanjut oleh Ilmuwan Lain, Martin Lister dkk. Menurutnya media baru menawarkan keaktifan yang tidak bisa diberikan oleh media tradisional (pasif). Aspek interaktifitas ini menjadi karakter utama bagi media baru.

Media sosial memang memfasilitasi orang-orang untuk mengekspresikan gagasannya. Kendati demikian, media sosial juga dapat menjelma buah simalakama. Beberapa orang mesti berurusan dengan hukum gara-gara menumpahkan isi kepala dan perasaannya terhadap pihak tertentu. Pada 5 Juni, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis enam bulan 15 hari penjara bagi Jamran. Hal serupa diterima saudara kandung Jamran, Rizal, yang sama-sama dituduh melontarkan ujaran kebencian terhadap Ahok dan etnis Tionghoa di media sosial.

Mulanya, kedua nama ini ditangkap atas tuduhan makar. Namun pada perkembangannya, mereka malah didakwa dengan pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Pasal-pasal ini menjerat siapa pun yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA.

Bukan hanya Jamran dan Rizal yang terjerat hukum lantaran mengutarakan kata-kata bernada kebencian di media sosial. Tamim Pardede diamankan aparat setelah mengunggah konten berbau SARA dan menghina pemerintah yang dipimpin Joko Widodo. Sementara Prima Gaida Journalita mesti berurusan dengan polisi setelah membuat status-status yang dianggap melecehkan warga NTT. Perempuan ini dengan lantang mengatakan bahwa tidak ada lagi toleransi di sana.

Baca juga : Ramadan, Hoaks, dan Jihad Akbar

Termutakhir, kepolisian Bandug  mengamankan seorang dosen yang memposting konten ‘people power’ di media sosial (medsos). Unggahan sang dosen dianggap mengandung unsur ujaran kebencian. Melalui akun Facebooknya dengan nama ‘Solatun Dulah Sayuti’, dia mengunggah kalimat yang dinilai berunsur ujaran kebencian. Adapun kalimatnya yaitu :?’HARGA NYAWA RAKYAT Jika People Power tidak dapat dielak: 1 orang rakyat ditembak oleh polisi harus dibayar dengan 10 orang polisi dibunuh mati menggunakan pisau dapur, golok, linggis, kapak, kunci roda mobil, siraman tiner cat berapi dan keluarga mereka”, tulis SDS dalam akun Facebook-nya yang diunggah pada 9 Mei 2019.

Momentum Jihad Melawan Hate Speech

Perdamaian bukan suatu hal yang baru dalam tradisi agama. Perdamaian merupakan ajaran yang inheren dalam tiap agama, khususnya Islam. Artinya, tanpa spirit perdamaian sebenarnya ada sesuatu yang hilang dalam agama. Islam berasal dari kata al-salam yang berarti perdamaian dan keselamatan. Istimewanya, perdamaian bukan hannya sekedar doktrin, tetapi juga menjadi khazanah yang membanggakan. Perang dan konflik tak bisa dinafikan tersimpan dalam setiap sejarah agama-agama, tetapi juga perdamaian juga menjadi khazanah yang tak bisa diabaikan, begitu saja.

Sebab alasan utama adalah, tanpa perdamaian tata kehidupan manusia tak bisa abadi. Bagir Muhammad al-Hakim mengatakan, tak ada kebajikan yang dapat dicapai melalui kehidupan berdampingan antara satu agama dengan agama lainnya. Meskipun demikian, satu hal yang tak bisa dipungkiri, adalah perdamaian mulai hilang dalam radar peradaban kemanusian. Yang mengemuka adalah kecenderungan untuk mengedepankan kebencian dari perdamaian. Dalam pergaulan di dunia maya, hal ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Diantaranya nyinyir, julid, bulliying, hate speech dan lain sebagainya.

Sehingga dalam hal ini, Puasa Ramadhan sejatinya dapat menjadi momentum untuk mengigatkan kita tentang pentingnya perdamaian. Puasa Ramadhan merupakan salah satu bukti, persamaan dan titik temu merupakan sesuatu yang niscaya dalam setiap agama. Dalam beragama yang harus dicari adalah persamaan yang kian mendekatkan hati. Puasa Ramadhan merupakan salah satu ritual keagamaan yang di dalamnya termuat pesan perdamaian.

Apalagi Puasa Ramadhan merupakan sekolah rohani paling efektif untuk meredam emosi dan amarah. Pada saat berpuasa,keinginan kita untuk merusak pasti akan teredam secara otomatis. Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga lisan dan tangan dari tindakan destruktif. Artinya, puasa akan bermakna jika pesan tentang perdamaian mampu dijadikan prilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa Ramadhan akan bermakna jika kecenderungan untuk menebarkan kebencian dapat ditinggalkan dan beralih untuk membangun pentingnya hidup berdampingan dengan cara yang damai. Imam Gozali mengatakan, poros utama tingkah laku manusia adalah hati.  Karena itu, mengisi hati dengan pesan perdamaian akan menjadi modal baik dikeberagaman kita saat ini.  Demikian juga dengan ibadah Puasa Ramadhan akan diuji sejauh mana kita mampu mengambil hikmah sebanyaknya untuk menebar perdamaian.

Menurut Ibnu Khaldun, keberagaman yang baik adalah keberagaman yang membumi dan mampu beradaptasi dengan realitas kebudayaan dan peradaban. Membangun peradaban yang di dalamnya mengukuhkan perdamaian merupakan misi utama yang sejatinya dapat tersosialisasi pada bulan Ramadhan ini. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan penuh kedamaian. Semoga kita mampu menjalani ibadah puasa tahun ini dengan damai dan tanpa adanya hate speech, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Aaamin. Wallahu A’lamu bi Al’Shawab.

Facebook Comments