Ramadhan: Saling Berbagi adalah Terapi dari Virus Kebencian!

Ramadhan: Saling Berbagi adalah Terapi dari Virus Kebencian!

- in Suara Kita
185
0

Pada hakikatnya, saling berbagi adalah terapi dari virus kebencian. Sebagaimana, momentum yang paling istimewa untuk saling berbagi adalah bulan suci Ramadhan yang kita jalani saat ini. Sebab, bulan suci Ramadhan tidak hanya sekadar mengajarkan aspek spiritual saja. Karena, kemuliaan dan keberkahan bulan suci Ramadhan juga mengajarkan bagaimanan dimensi sosial-kemanuisaan itu bisa terbangun.

Lantas, apa korelasi khusus, di balik sikap saling berbagi di bulan suci Ramadhan ini, sebagai terapi dari virus kebencian itu? Tentu, kita tidak terlepas dari jejak keteladanan yang telah dipraktikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana, dalam (HR al-Bukhari-Muslim) “Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) adalah orang yang paling murah hati. Ia semakin murah hati di bulan suci Ramadhan”.

 Dijelaskan oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiatul Baijuri, bahwa (kemurahan hati) Nabi Muhammad SAW, itu berimplikasi kepada keteladanan. Bahwa, di saat kita berpuasa, itu dianjurkan untuk memperbanyak sedekah atau berbagi kebaikan. Sebagaimana, sikap kebaikan itu mengerucut pada (kemurahan hati).

 Sebagaimana dalam banyak hadits di jelaskan. Bahwa, Nabi Muhammad SAW itu adalah sosok yang paling (murah hati). Dari sini kita bisa memahami, bahwa basis dari (kemurahan hati) itu, tentu ini tidak terlepas dari kelapangan diri untuk menghadirkan orang lain sebagai bagian di dalamnya. Karena, ketika menghadirkan orang lain ke dalam dirinya, maka akan muncul semacam rasa bahwa mereka adalah bagian dari hidup kita.

 Tentunya, prinsip yang semacam ini selalu diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka, wajar kewajiban pertama kali di bula suci Ramadhan ini kita melaksakan ibadah Puasa, menahan rasa lapar dan haus. Tentunya, sebelum menjelang akhir sekitar 7 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri, kita dianjurkan untuk membayar zakat Fitrah.

  Maka, ketika kita sampai pada puncak kesdaran itu, lalu menghadirkan semangat untuk saling berbagi, maka di situlah (kemurahan hati) itu terbangun. Sebagaimana, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang sangat murah hati. Maka, ketika seseorang berada dalam dimensi (murah hati) untuk bisa membantu terhadap orang lain, maka kita pasti akan murah secara pikiran dan tindakan untuk melakukan hal-hal kebaikan yang sama.

Sebagaimana, tolak-ukur dari berbagi kebaikan adalah (kemurahan hati). Tentu, hati adalah pusat atau cerminan dkiri kita secara sikap dan perbuatan. Maka, ketika kemurahan hati itu membentang, maka segala hal yang berkaitan dengan virus kebencian, permusuhan dan kezhaliman itu akan luntur dalam diri kita. Maka, sangat logis kiranya, jika berbagi kebaikan itu adalah terapi dari virus kebencian dalam diri kita. Karena ini tidak terlepas dari fungsi dan subtansi dari spirit berbagi kebaikan tadi.

 Oleh karena itulah, kita perlu meringankan diri kita untuk saling berbagi. Sebagaimana, kita perlu meneladani jejak-perjuangan Nabi Muhammad SAW yang begitu murah hati dan bertambah murah hati ketika di bulan suci Ramadhan. Beliau begitu senang berbagi, membantu dan selalu menolong siapa-pun. Utamanya di bulan suci Ramadhan yang sangat istimewa ini. Kita perlu mengikuti jejaknya untuk bisa saling berbagi. Karena berbagi akan menjadi terapi dari virus kebencian yang melekat dalam diri.

Facebook Comments