Rasulullah pun Berkawan dengan Orang yang Beda Keyakinan, Begini Kisahnya!

Rasulullah pun Berkawan dengan Orang yang Beda Keyakinan, Begini Kisahnya!

- in Suara Kita
741
0
Rasulullah pun Berkawan dengan Orang yang Beda Keyakinan, Begini Kisahnya!

Kala kehidupan beragama dan berbangsa lebih banyak diliputi oleh fitnah, caci-maki, intoleransi, adu domba dan radikalisme, yang dapat merontokkan sendiri persatuan dan persaudaran antar anak bangsa, kita perlu merenung dan menilik kembali bagaimana Rasulullah berkawan dalam rangka membangun persatuan dan persaudaraan.

Dalam bingkai itu, kita perlu menengok peristiwa bersejarah dalam Islam, yakni hijrah. Perlu diketahui bersama bahwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah adalah peristiwa pengorbanan dan perubahan. Diantara perubahan yang terjadi adalah Rasulullah berhasil merubah Madinah menjadi negara yang sebelumnya penuh dengan konflik berganti menjadi penuh kedamaian.

Tentu untuk menggapai perdamaian itu karena kebijaksanaan dan kepandaian Rasulullah dalam mengelola sebuah negara. Ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah dalam merubah suasana penuh dengan konflik itu menjadi suasana damai. Pertama, mempersaudarakan dua suku besar di Madinah.  Dahulu, di Madinah terdapat dua suku yang sama-sama superior: sama kuat. Kedua suku itu selalu terlibat konflik karena sama-sama ingin meraih pengaruh. Kedua suku itu adalah bani Aus dan Khazraj.

Puluhan tahun lamanya kedua suku itu bertempur sehingga suasana di Yasrib kala itu selalu diliputi kondisi yang mencekam. Dengan kepiawaian Nabi Muhammad, kedua suku yang saling bertentangan dan saling membunuh itu berhasil dipersaudarakan. Sejarah ini kiranya menjadi bukti shahih bahwa untuk membangun sebuah bangsa yang beradab, maka terlebih dahulu membangun persaudaraan dan membasmi para provokator.

Kedua, mengikat perbedaan dengan sistem. Mempersaudarakan dua suku besar dan paling berpengaruh saja tidak lah cukup. Oleh karena itu, Rasulullah kemudian membuat Piagam Madinah sebagai salah satu cara untuk mengikat dan mengatur keteraturan kehidupan beragama dan bernegara.

Kala itu,pasca Nabi Hijrah ke Madinah, penduduknya sudah beragama. Dalam konteks agama, terdapat kaum Yahudi, Nasrani dan Islam. Dalam kondisi masyarakat yang plural itu, Nabi Muhammad telah memprakarsasi sebuah piagam perjanjian yang kemudian dikenal dengan istilah “Piagam Madinah”. Jadi melalui piagam ini, perbedaan keyakinan itu berhasil melahirkan kesepakatan yang luar biasa sehingga terbinalah kerukunan, persatuan, persaudaraan dan keamanan.

Cara Nabi Berkawan dengan Orang yang Beda Keyakinan

Sejauh ini, konflik laten yang sudah menjadi penyakit akut oleh sebagian pemeluk agama, termasuk penganut agama Islam, dilandasi karena emosi keagamaan. Dalam bahasa yang sederhananya adalah, kebanyakan konflik yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh fanatisme beragama. Bahkan celakanya lagi, persaudaraan dimaknai sebagai kesamaan keyakinan.

Terhadapn orang yang berbeda keyakinan, ada sementara anggapan, bahwa tidak perlu menjadi sebuah persaudaraan. Tentunya sifat dan sikap yang demikian ini sangat berbahaya, lebih-lebih dalam konteks komposisi negara yang heterogen. Oleh sebab itu, dalam konteks agama Islam, seorang Muslim perlu menggali lebih dalam lagi bagaimana persaudaraan yang dijalin oleh Nabi; apakah hanya terbatas pada keyakinan saja? Atau juga terhadap mereka yang berbeda keyakinan?

Pertama, Nabi menjalin interaksi beda agama atas dasar komunikasi damai.

Sikap Nabi inilah tentu saja sesuai dengan petunjuk-Nya. Dalam QS. al-Mumtahanah [60]: 8 misalnya, ditegaskan bahwa pembangunan relasi harmonis dan keadilan terhadap orang lain, baik itu yang beda agama maupun lainnya, harus selalu diupayakan selama mereka berbuat baik.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, sikap inilah yang harus selalu dipegang. Harmoni dan keadilan harus selalu ditegakkan kepada siapapun jika itu untuk kemaslahatan bersama. Sensifitas interaksi keagamaan kelompok yang berbeda pandangan harus diredakan untuk kebaikan yang lebih luas. Hubungan harmonis hanya bisa dicapai secara optimal jika hubungan tersebut dilandasi dengan semangat persaudaraan dan perdamaian.

Kedua, meletakkan perdamaian sebagai titik tujuan.

Dalam rentetan sejarah dakwah Nabi menyebutkan bahwa Rasulullah selalu menempatkan perdamaian sebagai titik tujuan. Kisah hijrah Nabi ke Madinah sebagaimana diuraikan sebelumnya mengkonfirmasi bahwa demi membangun martabat manusia, agama (Islam)—dalam hal ini yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW—selalu meletakkan perdamaian sebagai titik tujuan.

Karena itulah, dakwah yang dilakukan oleh Nabi sama sekali tidak pernah memaki sesembahan agama selain Islam. Hal ini bertujuan untuk menciptakan perdamaian hakiki. Oleh karena itu, Alquran dengan tegas ‘mengutuk’ laku memaki sesembahan agama lain (QS. al-An’am [6]: 108).

Contoh lain bahwa Nabi Muhammad meletakkan perdamaian dan persaudaraan sebagai titik tujuan adalah tercermin dalam sikap beliau memberikan salam kepada orang Yahudi. Dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah ra (W.58H). Bahwa ia menceritakan sekelompok Yahudi datang kepada Nabi sambil mengatakan: “Assamu alaikum” (kebinasaan atasmu), lalu Aisyah menjawab: “Waalaikumussam wa al-la’nah” (atasmu juga kebinasaan dan laknat).

Mendengarkan isterinya menjawab salam seperti itu, maka Nabi menegur: Pelan-pelan wahai Aisyah, sesungguhnya Swt menyukai kelembutan dalam setiap perkara”. Aisyah membela: “Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan kepadamu?” Nabi menjawab: “Engkau telah menjawab dengan kata wa’alaikumussam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, persaudaraan tidak terbatas pada keyakinan.

Nabi Muhammad memiliki risalah yang sangat mulia, yakni membawa agama Islam. Dalam seluruh aktivitas dakwah, beliau tidak pernah menaruh rasa benci terhadap orang atau kelompok yang berbeda keyakinan. Bahkan ketika beliau telah menyampaikan ajaran Tauhid kepada seseorang atau suatu kelompok, tetapi kelompok tersebut masih kekeh atas keyakinan lamanya, tidak lantas Nabi musuhi. Justru banyak sekali praktik muamalah Nabi dan kaum Muslim dengan sesama warga Madinah yang notabene bukan Muslim alias Yahudi.

Bahkan ada seorang Yahudi yang menjadi ‘saudara’ Nabi dan ia secara terang-terangan diapresiasi oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Orang Yahudi itu bernama Mukhairiq. Kisah pertemanan Rasulullah dengan seorang Yahudi taat itu dimulai ketika peristiwa Piagam Madinah yang dicetuskan oleh Rasulullah.

Kala itu di Madinah terjadi pemberontakan dimana ada kelompok Yahudi yang bersekutu dengan Kafir Quraisy untuk menyerang Nabi dan melanggar Piagam Madinah. Mukhairiq memandang Piagam Madinah harus dipegang erat, karena itu adalah perjanjian bersama. Salah satu isi dari piagam tersebut adalah semua warga Madinah harus bersatu, saling mendukung, dan saling melindungi ketika ada serangan dari luar. Melihat upaya jahat itulah,  membuat Mukhairiq mendukung Rasulullah dan melawan saudara Yahudinya sendiri. Sikapnya ini didasarkan pada pandangan yang jernih, bahwa ia mengerti, dalam hal ini Rasulullah dan umat Islam adalah kubu yang benar.

Karena itulah, meski beda agama, namun seluruh kekayaan Mukhairiq rela diserahkan kepada Rasulullah untuk menegakkan kebenaran dan memerangi kemungkaran. Sikap totalitas dan ketulusan Mukhairiq dalam membantu Rasulullah baik dalam hal moril dan meteriil inilah diapresiasi oleh Rasulullah. Ketika Mukhairiq ikut perang lalu gugur, Nabi berkata: “Mukhairiq adalah sebaik-baiknya Yahudi.”

Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW selalu berteman dan menjalin persaudaraan dengan berinteraksi baik dengan non-Muslim. So, kita tidak perlu khawatir untuk berhubungan dan menjalin persaudaraan dengan kawan-kawan non-Muslim. Selama itu untuk kepentingan kemaslahatan dalam kemanusiaan (kebangsaan), maka hal itu harus terus kita upayakan.

Facebook Comments