Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Anak Muda Mengusir Virus Radikal

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Anak Muda Mengusir Virus Radikal

- in Suara Kita
278
0
Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Anak Muda Mengusir Virus Radikal

Masa lalu, masa kini dan masa depan menjadi satu siklus kehidupan manusia. Ketiganya menjadi susunan masa yang sangat penting dalam memajukan agama. Tatanan masa lalu Islam memperkenalkan konsep ‘ibrah, yaitu mengambil pembelajaran dari peristiwa yang terjadi sebelumnya (Q.S. Yusuf: 111). Pada akhirnya, masa lalu selalu menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. Maka peristiwa indoktrinasi pesan radikal di masa sekarang, bisa diselesaikan dengan melihat masa lalu yang telah terjadi. Sehingga masa lalu dapat dijadikan perbaikan di masa sekarang dan masa depan (Q.S. al-Hasyr: 18).

Seperti halnya pidato yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat Rapat Pimpinan TNI-Polri di Mabes TNI, Jakarta, Selasa (1/3), tidak terlepas dari historitas sejarah. Dalam acara tersebut, presiden menyampaikan himbauan untuk mewaspadai kelompok terorisme yang melakukan gerakan dakwah secara konvensional. Problem terorisme yang memiliki dampak besar pada keutuhan bangsa, membuat presiden mengeluarkan himbauannya.

Presiden khawatir apabila para muballigh radikal masuk ke mimbar-mimbar masjid, masyarakat dapat terjerumus dalam badai kebencian. Karena apabila dilihat dari sisi historis, tujuan akhir yang ingin dicapai kelompok radikal adalah melakukan politik kekerasan, dan tidak jarang menggunakan nama agama. Bukan tidak mungkin, apabila mimbar dikuasai oleh kelompok radikal, maka radikalisme dan kekerasan akan menjadi hal yang wajar dilakukan. Pada akhirnya, masyarakat dibuat menjadi sosok yang pemarah, gampang diadu domba, dan tega menyakiti saudaranya.

Kelompok radikal berusaha masuk lebih dalam pada struktur inti masyarakat. Mereka berbaur, berdiskusi, dan mendorong lebih jauh golongan-golongan yang sulit dijangkau untuk diajak bergabung dalam kelompok mereka. Kini gerakan mereka semakin rapi dan terstruktur. Ada yang bergerak dalam digital, ada pula yang bergerak secara langsung di lingkungan masyarakat. Maka tidak salah apabila Presiden memberikan peringatan untuk tidak mengundang penceramah yang bisa memecah belah bangsa.

Nampaknya strategi adu domba (devide et impera) yang dahulu dimunculkan pihak penjajah kembali membuat pecah. Kegaduhan dimana-mana, demonstransi besar-besaran dimunculkan sebagai rasa kekecewaan, dan pemerintah selaku pemegang kekuasaan dinilai gagal menjalankan prinsip keadilan. Kebangsaan pun ikut luntur oleh serangan-serangan masalah perpecahan. Karena semua mengaku sebagai kelompok yang paling benar dan menafikan kebenaran dari kelompok yang lainnya.

Hal ini diperburuk oleh berita hoaks yang makin massif disebarkan. Ujaran kebencian dari penyebar kebohongan mulai memenuhi media massa dan media sosial. Anak muda banyak yang terprovokasi olehnya, dan membalas dengan komentar yang tak kalah menghinanya. Kemudian anak muda yang tersisa, digiring dalam berbagai kelompok aktif yang dikumpulkan melalui mimbar yang diisi oleh kelompok radikal.

Namun dibalik keruhnya persoalan, ada saja penyelamat yang memperjuangkan persatuan. Mereka tak henti-hentinya mengatakan bahwa identitas adalah nilai kekayaan suatu bangsa. Mereka berusaha meyakinkan, bahwa identitas adalah pintu terbaik untuk menjadi manusia toleran dengan derajat yang lebih tinggi. Setiap manusia akan dinilai dari akhlaknya, dan ketinggian ilmu dapat dilihat dari seberapa besar jiwa toleransi yang dimunculkan olehnya.

Anak-anak muda berusaha mendorong setiap kelompok yang bertengkar ke dalam pendidikan kebangsaan dan didikan emosional. Suatu negara dapat berkembang karena banyak corak perbedaan diantara mereka. Sebaliknya negara dengan satu kesamaan biasanya akan mendorong sikap tertutup karena tidak terlatih untuk hidup berbeda dan menghormati perbedaan yang ada.

Oleh karena itu, Islam sebagai agama dengan pemeluk terbesar telah mengajarkan bagaimana menyikapi masalah-masalah intoleran yang menghantam. Pada masa awal dakwah, Allah terus menerus menurunkan ayat Makkiyah yang berisikan penguatan dalam hal ketuhanan. Kepercayaan kepada Tuhan, dapat mendorong setiap individu untuk menjalankan prinsip-prinsip kebajikan yang diajarkan agamanya.

Dari prinsip ketuhanan inilah, akan muncul tata cara mengatur seluruh makhluk dengan ciri khas yang berbeda. Elemen keadilan akan menjadi salah satu jawaban yang selalu dimunculkan. Tanpa adanya keadilan, mengatur seluruh makhluk sebagai satu keluarga utuh akan sangat mustahil dirasa. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Maidah: 8).”

Maka, untuk memperoleh semua asas iman, kekeluargaan, serta keadilan diperlukan ilmu pengetahuan. Iman adalah sebuah potensi rohani, maka ilmulah yang bertugas membawanya ke alam konkret, sehingga ia menjadi aktual dalam sejarah. Asas iman dan ilmu yang berada di tangan yang cerdas dan kreatif akan melahirkan peradaban yang ramah dan anggun (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, 2019). 

Kita tentu ingat di mana Islam menuju puncak kejayaan, dimasa itu ilmu pengetahuan begitu dijunjung tinggi keberadaannya. Karena dengan ilmu pengetahuan kita bisa mengusai dunia dengan pesan moral. Dan sebaliknya, tanpa ilmu pengetahuan konsep kemanusiaan, keadilan, dan kekeluargaan yang selalu didengungkan akan menjadi konsep-konsep belaka tanpa pelaksanaan yang matang. Maka wajarlah jika Al-Qur’an mengangkat derajat orang yang berilmu pengetahuan “Allah mengangkat beberapa tingkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu (Al-Mujaadilah: 11).”

Maka refleksi sebenarnya di Hari Kebangkitan Nasional adalah membangkitkan semangat anak-anak muda untuk kembali memutus rantai radikal. Menjadikan generasi muda sebagai generasi terdepan. Generasi yang tangguh dan teguh berjuang membela bangsanya melawan kelompok Radikal. Generasi muda adalah harapan terbesar bagi bangsa Indonesia untuk mengembalikan ajaran agama menjadi relevan untuk semua orang. Oleh karena itu, momentum Hari Kebangkitan Nasional dapat dijadikan pijakan baru bagi anak muda yang gagah berjuang di garda terdepan mengusir kelompok radikal.

Facebook Comments