Refleksi HUT ke-50 KORPRI; Dengan Pancasila, ASN Bersatu Bebas dari Radikalisme

Refleksi HUT ke-50 KORPRI; Dengan Pancasila, ASN Bersatu Bebas dari Radikalisme

- in Suara Kita
940
0
Refleksi HUT ke-50 KORPRI; Dengan Pancasila, ASN Bersatu Bebas dari Radikalisme

Melalui momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 KORPRI yang diperingati tiap tanggal 29 November, kita gelorakan kembali spirit ASN Pancasilais untuk bersatu melawan segala bentuk radikalisme. Pasalnya, akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh oknum penyusup yang menulari virus radikalisme dalam tubuh ASN. Sejatinya kita tak perlu was-was kalau kita mengamalkan nilai-nilai Pancasila di segala aspek kehidupan. Sebagai ideologi bangsa sejatinya obat penyembuh dari berbagai penyakit kebangsaan, termasuk juga virus radikalisme yang menulari tubuh Aparatur Sipil Negara (ASN).

Lima butir sila ini tak ubahnya sebagai pil penawar penyakit kebangsaan yang berbahaya tersebut. Karenanya, nilai-nilai luhur Pancasila harus selalu melekat dalam diri seorang ASN sebagai kepribadian bangsa, jati diri bangsa Indonesia secara utuh dan menyeluruh. Mengingat nilai-nilai tersebut sudah terbukti ampuh mengobati segala penyakit bangsa, seperti radikalisme.

Merespon problem kebangsaan tersebut maka tugas bangsa Indonesia saat ini, lebih-lebih ASN yang notabene abdi negara adalah meneruskan perjuangan menjaga, merawat, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam segala tindakan dan tata kerja melayani masyarakat. Kita harus bersyukur, Pancasila adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk bangsa Indonesia. Pancasila adalah identitas bangsa yang istimewa di mana negara-negara lain tidak memiliki keistimewaan tersebut.

Untuk mewujudkan ASN steril dari radikalisme, maka harus senantiasa menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, sistem filsafat, dan Pancasila sebagai sumber nilai dalam segala tindakan pengabdiannya kepada negara. Sebagaimana disebutkan oleh Fathurrosi (2018) dengan pernyataan secara singkat bahwa nilai pokok Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa lahirnya Indonesia adalah anugrah Tuhan semesta alam.

Dengan nilai Ketuhanan inilah kita harus mewarnai kehidupan ini dengan amalan kebaikan sesuai tuntunan ajaran agama. Nilai Ketuhanan ini juga memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, menghormati kebebasan beragama, toleransi, dan tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama. Di lingkungan kerja ASN pun demikian kita harus saling menghormati dan toleransi ASN lainnya yang berbeda keyakinan.

Kedua, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Nilai kemanusiaan juga berarti menempatkan manusia dan memuliakan manusia serta makhluk lainnya, menempatkan manusia pada posisi penting, sebagai “khalifah” dengan menjunjung keadaban, dan menghindari kebiadaban. Apalagi seorang ASN yang notabene adalah abdi negara, tentunya dalam melayani masyarakat juga harus berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Jangan kemudian kita melakukan tindakan kekerasan ataupun radikalisme terhadap orang lain.

Ketiga, nilai persatuan Indonesia bermakna usaha ke arah bersatu dalam kedaulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme, patriotisme, dan menjunjung wawasan kebangsaan dalam bingkai NKRI. Sekaligus juga mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia, mengakui perbedaan sebagai kenyataan, dan kekayaan bangsa yang mengandung keunggulan. Spirit persatuan Indonesia inilah yang harus ditanamkan dalam diri seorang ASN untuk melayani masyarakat tanpa diskriminasi. Karena salah satu benih radikalisme adalah dari sikap diskriminasi atau tidak adil. Meski tumbuh berbeda, tapi kita kuat bersama dengan semangat persatuan Indonesia.

Keempat, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Nilai Kerakyatan berarti mengakui bahwa rakyatlah sesungguhnya yang memiliki kedaulatan tertinggi dan mempercayakan atau mengamanatkannya pada wakil-wakilnya dalam pelaksanaan. Dalam segala keputusan di lembaga aparatur negara harus melewati musyawarah demi mendapat keputusan bersama.

Dan kelima, nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahiriah ataupun batiniah. Dengan pelayanan ASN yang berorientasi sila kelima ini maka sudah barang tentu keadilan sosial akan terwujud. Lima sila tersebut itulah yang menjadi sumber nilai yang harus kita jiwai dan amalkan dalam kehidupan berkebangsaan, termasuk membendung radikalisme di kalangan ASN.

Facebook Comments