Refleksi International Day of Peace; Sinergi Bangsa-Bangsa untuk Perdamaian Global

Refleksi International Day of Peace; Sinergi Bangsa-Bangsa untuk Perdamaian Global

- in Suara Kita
551
0
Refleksi International Day of Peace; Sinergi Bangsa-Bangsa untuk Perdamaian Global

Tepat tanggal 21 September diperingati sebagai Hari Perdamaian Dunia (International Day of Peace). Dalam konteks ke-Indonesiaan tentunya ada pesan dan harapan tersendiri yang lebih dari sekadar peringatan semata. Di antaranya, keinginan seluruh elemen bangsa untuk hidup berdampingan secara damai, harmonis, serta mampu bersinergi menjalankan kehidupan berbangsa dan juga beragama. Meskipun, dalam kondisi objektif bangsa Indonesia yang majemuk (heterogen).

Bangsa Indonesia diharapkan terus berusaha menciptakan hidup rukun melalui ruang-ruang perjumpaan antar ragam identitas yang ada. Oleh karenanya, selama kita punya cita-cita dan keinginan kuat, tentu akan selalu ada celah terbuka peluang yang strategis untuk tumbuhnya sikap saling menghargai, menghormati, dan mampu bersinergi di tengah kehidupan bangsa yang plural ini.

Sebagaimana diketahui bahwa agama merupakan salah satu di antara identitas yang ada dalam kemajemukan di negara bhinneka ini. Dalam hal ini salah satunya, Indonesia tak hanya mengakui satu agama saja, melainkan ada beberapa seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Kondisi objektif multi-agama ini, mengharuskan akan pentingnya resolusi damai sebagai upaya untuk hidup toleran, setara, dan rukun.

Adalah menjadi penting adanya harmonisasi dialog lintas iman sebagai ruang perjumpaan antar umat beragama yang intens dan harmonis. Bagaimana umat beragama dapat bersinergi, bila tidak saling mengenal satu sama lain; tidak saling memahami; atau tidak saling toleran satu dengan lainnya.

Itu artinya, menciptakan suasana hidup yang harmonis antar-umat beragama sangatlah penting bagi kehidupan bersama bagi bangsa-bangsa ini. Permasalahan kehidupan tidak bisa hanya diselesaikan satu atau dua agama tertentu saja. Tak hanya dapat dipecahkan satu bangsa saja. Namun, penyelesaian masalah yang ideal menuntut partisipasi seluas mungkin dari setiap umat beragama serta sinergi lintas bangsa.

Oleh karena hal tersebut, membangun kehidupan harmoni sejati yang kokoh merupakan keniscayaan. Harapannya, berbagai elemen bangsa sadar dan juga tidak berada dalam ruang kehidupan harmoni yang rapuh berkepanjangan.

Pentingnya harmoni kehidupan keagamaan sebagai suatu pondasi membangun keutuhan bangsa Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai elemen bangsa. Namun, adanya ruang-ruang perjumpaan dalam bentuk dialog keagamaan rasa-rasanya belum dilakukan secara intens. Padahal hal ini sangat penting guna mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis dan damai.

Dalam upaya mewujudkan spirit tersebut, setidaknya bangsa ini patut memperhatikan dua hal, yaitu pertama, bagaimana menciptakan terjadinya hubungan langsung antar-kelompok. Kedua, menciptakan kondisi sosial yang tercipta antar-personal yang mempunyai kesadaran untuk hidup rukun bersama, berdampingan, dan menghargai akan perbedaan. Hal ini tentunya, sebagai suatu hal yang bukan menjadi alasan untuk terjadinya konflik.

Sebagaimana diungkapkan Zaprulkhan (2018), apabila kita menengok kembali noktah-noktah argumentasi yang diinisiasi oleh Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Maka, kita akan melihat bagaimana Cak Nur memberikan pijakan dasar untuk membangun dialog dan kerja sama berlandaskan keprihatinan yang sama mengenai kemanusiaan.

Bagi Cak Nur, dialog dan kerjasama itu meskipun wajib memiliki sandaran tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. Namun begitu, tetap harus mempedulikan kepada kebaikan dan manfaat kemanusiaan seluas-luasnya. Bahkan, hal ini melampaui batas-batas paham, keyakinan, agama, etnis, ras, budaya, dan bangsa.

Setiap bangsa perlu mempunyai semacam tanggung jawab global yakni memiliki solidaritas terhadap penderitaan kemanusiaan secara universal. Di sini muara keprihatinan, penghormatan, dan kepedulian kita adalah harkat-martabat manusia itu sendiri sebagai anugerah istimewah dari Tuhan.

Lebih jauh lagi, kita juga dituntut menghormati dan menghargai martabat pemberian Tuhan kepada setiap manusia ini, termasuk orang yang memusuhi kita. Sebab, tujuan segenap hubungan manusia, entah itu hubungan keagamaan, sosial, politik, atau ekonomi merupakan kerjasama dan saling menghormati.

Tujuan tersebut hanya mungkin dicapai melalui dialog dan kerjasama yang bermakna, substantif, dan konstruktif di antara orang-orang beragama dalam tiap-tiap tradisi keagamaan (Zaprulkhan, 2018).

Upaya-upaya resolusi damai melalui dialog dan kerjasama juga tidak boleh sebatas menyentuh sebagian aspek saja, akan tetapi harus menyentuh baik hak-hak asasi manusia, isu-isu politik, dan ekonomi, maupun isu keadilan sosial, dan hak semua orang di manapun untuk hidup aman, sejahtera dan damai.

Harapannya dengan kesadaran inilah serta melalui momentum Hari Perdamaian Internasional ini, resolusi damai bisa dicapai dan kehidupan harmonis antar umat beragama di negeri ini dapat terwujud, semoga.

Facebook Comments