Refleksi Keteladanan Rasulullah SAW dalam Mewujudkan City of Tolerance

Refleksi Keteladanan Rasulullah SAW dalam Mewujudkan City of Tolerance

- in Suara Kita
156
1
Refleksi Keteladanan Rasulullah SAW dalam Mewujudkan City of Tolerance

Terwujudnya iklim masyarakat yang aman dan damai merupakan dambaan kita semua. Mengingat kesuksesan pembangunan suatu negara dapat terwujud jika masyarakatnya damai. Sebaliknya, jika masyarakatnya penuh ricuh dan konfik mustahil pembangunan akan berjalan lancar. Karenanya, agenda besar bangsa Indonesia salah satunya menciptakan masyarakat yang toleran dalam keberagaman.

Berbagai rentetan peristiwa kasus intoleransi yang terjadi belakangan ini di daerah-daerah adalah sebuah signal terkikisnya moral, budaya dan nilai-nilai kemanusian. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila sudah sepatutnya segera mengatasi kasus-kasus tersebut. Jangan sampai kota-kota di negara ini diterpa persoalan sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Farabi disebut kota jahiliyah (al-mudun al-jahiliyyah). Sejatinya kita bisa berkaca pada mata air keteladanan Rasulullah Muhammad SAW dalam mewujudkan City of Tolerance.

Kalau kita buka lembaran-lembaran sirah Nabawiyah, pemberian nama Madinah berasal dari kata tamaddun, yang artinya “peradaban”, “civilization”. Maka jika ditelaah secara etimologis kota Madinah merupakan “wadah peradaban yang sarat dengan kehidupan yang beradab,, toleransi, berkesopanan, berertika, tertib, teratur serta taat dengan hukum-hukum, norma-norma yang telah disepakati bersama. Kehidupan sosial yang berlandakan pada spirit persaudaraan (ukhūwwah islamiah), toleransi, dan egaliterianisme (Madjid, 1994: 113).

Upaya-upaya mempertahankan masyarakat Madinah yang majemuk, selama sepuluh tahun Nabi Muhammad SAW menanamkan prinsip-prinsip toleransi yang menjadi landasakan dalam membangun kota. Prinsip-prinsip ini bersumber dari ajaran Al-Quran yaitu al-musawamah (persamaan), at-tasamuh (toleransi), at-tasyawur (musyawarah), at-ta’awun (tolong menolong) dan al-adalah (keadilan). Dari nilai-nilai inilah kemudian terbangun masyarakat Madinah yang harmonis dan toleran. Karenanya, tidak heran apabila Nurcholis Madjid menyatakan Kota Madinah periode Nabi Muhammad SAW merupakan refleksi dari masyarakat madani atau civil society yang tumbuh dalam sejarah sosial umat Islam.

Baca Juga : Merawat NKRI dalam Himpitan Medsos dan Isu SARA

Narasi perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin dan membangun Kota Madinah mengandung nilai-nilai toleransi yang ideal dan relevan untuk diaktualisasikan di Indonesia dalam mewujudkan City of Toleransi di berbagai daerah negeri ini. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di Madinah selalu mengedepankan keadilan, toleransi, persaudaraan, musyawarah, tanggung jawab (amanah), kejujuran, dan kemaslahatan drluruh umat. Orientasi pembangunan peradaban yang didahulukan tersebut berlandaskan budi pekerti/akhlak yang mulia Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban suatu bangsa. Nilai-nilai toleransi juga termaktub secara jelas dan nyata dalam Piagam Madinah.

Pandangan Syafi’i Ma’arif, apa yang termaktub dalam konstitusi Madinah merupakan penguraian dari nilai-nilai kemasyarakatan yang terkandung dalam Al-Qur’an (1995: 19). Maka secara substansi, piagam Madinah merupakan ejawantah ajaran-ajaran sosial-politik Al-Qur’an. Adapun menurut Zuhairi Misrawi, legalisasi Piagam Madinah merupakan upaya konstitusional yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun sebuah masyarakat baru yang bebas dari fanatisme kesukuan yang disebut umat. Nafas baru masyarakat Madinah selalu menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan, perdamaian, ukhuwah islamiah, dan toleransi (Misrawi, 2009: 298). Nilai-nilai ini menghidupi sosio-kultural masyarakat Madinah yang majemuk dan menjadi landasan Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan kepemimpinan dan membangun peradaba Madinah.

Sementara itu, lebih jauh lagi kalau kita kuliti isi kandungan Al-Qur’an, Islam juga mengajarkan tentang toleransi antar umat beragama, yang mana harus saling menghormati dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, sebagaimana Q.S Al-Kafirun (109): 6 dan Al-An’am (6): 108. Kemudian pula tidak memaksakan agama kepada orang lain, sebagaimana Q.S. Al-Baqarah (2): 256, Yunus (10): 90, Al-Kahfi (18): 29, dan Al-Maidah (5): 105. Berbagai nilai-nilai akhlak Rasulullah inilah patut kita refleksikan dalam membangun City of Tolerance di berbagai daerah negeri ini. Harapannya iklim masyarakat yang damai dapat tercapai, pembangunan pun akan sukses terwujud, semoga.

Facebook Comments