Refleksi Maulid Nabi : Meneladani Akhlak Kebangsaan Rasulullah

Refleksi Maulid Nabi : Meneladani Akhlak Kebangsaan Rasulullah

- in Suara Kita
1330
0
Refleksi Maulid Nabi : Meneladani Akhlak Kebangsaan Rasulullah

Merayakan Maulid Nabi merupakan ejawantah kebahagiaan umat Islam untuk mengenang hari lahir satu-satunya manusia paling mulia dan agung yang menjadi rahmat bagi semesta alam dan padanya seluruh manusia mengharap syafa’at. Kabar kelahiran Baginda Nabi sendiri telah tersiar jauh-jauh masa sebelumnya. Bahkan sejak manusia pertama, Nabi Adam, diciptakan. Syahdan, Nabi Adam melihat nama Nabi Muhammad kemudian bertanya kepada Allah, “Siapakah dia”? Allah menjawabnya, “Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan”.

Begitu juga pada masa nabi-nabi yang lain, kelahiran Nabi Muhammad selalu tersiar. Bahwa pada saatnya nanti akan lahir juru selamat, nabi dan rasul paling mulia yang kelahirannya dinantikan oleh semesta. Ia menjadi penutup para nabi dan penyempurna agama Allah yang diturunkan ke bumi.

Tepat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah bertepatan tahun 571 Masehi menurut pendapat yang masyhur, Nabi Muhammad dilahirkan dari rahim Siti Aminah istri Abdullah dari kalangan Bani Quraisy. Karenanya, seperti kelahirannya yang dinantikan oleh semesta, tanggal kelahirannya pun selalu ditunggu untuk diperingati dan dirayakan sebagai bentuk kecintaan umat Islam.

Peringatan ini bukan hal baru. Sejak masa para sahabat peringatan serupa juga dilakukan. Bahkan empat sahabat senior, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Sayyidina Ali begitu antusias dan menganjurkan umat Islam mendermakan hartanya untuk perayaan Maulid Nabi yang di dalamnya dibacakan shalawat dan sejarah hidupnya. Tujuannya tidak lain supaya umat Islam mampu mengejawantahkan uswah hasanah beliau dalam kehidupan.

Satu di antara teladan baik Nabi adalah rajutan ukhuwah dan teladan hidup berbangsa dan bernegara. Hal ini tampak di saat muslimin Makkah yang hijrah tiba di Madinah. Bagaimanapun, saat pertama di Madinah, perasaan asing masih menyelimuti Muhajirin. Ditambah mereka tidak punya rumah, ladang bertani dan sebagian besar Muhajirin bukan orang yang berharta.

Sebab itu, Nabi kemudian mengambil langkah dengan mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Sabdanya, “Hendaklah kalian mengikat persaudaraan dalam (agama) Allah dua orang dua orang”. Nabi kemudian menunjuk Abu Bakar (Muhajirin) dengan Kharijah bin Zuhair (Anshar), Umar bin Khattab (Muhajirin) dengan Itban bin Malik (Anshar), dan demikian seterusnya. Satu orang Muhajirin dipersaudarakan dengan satu orang Anshar.

Rajutan persaudaraan hakiki terjalin antara Muhajirin dan Anshar. Islam menyatukan mereka. Muhajirin tidak lagi merasa asing hidup berdampingan dengan penduduk pribumi kaum Anshar. Mereka saling mencintai, tolong menolong, yang kuat membantu yang lemah, dan yang kaya berderma untuk yang miskin. Nabi berhasil mencipta rajutan ukhuwah islamiah (persaudaraan satu agama) dengan sangat baik.

Setelah itu, Nabi mengambil langkah untuk membingkai kehidupan damai antar elemen masyarakat Madinah yang multi agama dan etnis. Mempersaudarakan seluruh penduduk Madinah (ukhuwah wathaniyah) dalam satu ikatan negara. Dalam satu tuangan keputusan yang dibuat bersama antar seluruh elemen warga (Konstitusi Madinah), seluruh penduduk Madinah yang multi agama dan etnis sepakat untuk hidup bersama secara damai, serta berjuang bersama demi martabat, kedamaian dan ketentraman negara Madinah.

Di Madinah, muslim dan non muslim bisa hidup berdampingan secara damai. Mereka berjuang bersama melawan ketidakadilan, pengkhianatan, dan kejahatan demi mewujudkan kehormatan, kedamaian dan ketentraman dalam negara. Semuanya berdiri setara dalam satu konsep perjanjian untuk saling menjaga dan melindungi.

Itulah prinsip-prinsip yang telah diajarkan Nabi terkait kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Momentum Maulid Nabi sangat penting untuk mempelajari sirah besar tersebut. Maulid Nabi bukan sekedar formalitas tetapi upaya membaca kembali sejarah dan teladan baik itu. Kenapa hal itu menjadi penting?

Saat ini sebagian dari umat Islam sendiri mengalami krisis idola dan uswah hasanah beliau. Beragama tidak mengikuti cara dan anjuran Nabi. Nabi mengajarkan persaudaraan dan kerukunan, bukan perpecahan dan permusuhan. Mengajarkan cinta damai bukan provokasi dan kebencian. Sementara kalangan muslim ada yang melakukan kebalikan dari prinsip-prinsip tersebut.

Nabi memberikan teladan akhlak kebangsaan yang sangat luar biasa yang mengikat persaudaraan sesama muslim dan antara muslim dengan non muslim. Akhlak Nabi yang mulia dan menjadi misi utama kenabiannya tidak banyak dipahami dan ditinggalkan. Untuk itu, perlu semangat baru supaya sejarah kehidupan, ajaran dan akhlak beliau kembali terngiang menjadi teladan.

Dan, memperingati hari lahirnya adalah upaya strategis untuk menyembuhkan krisis beragama yang menyimpang dari ajaran Nabi. Yakni, mengobati penyakit tabiat akhlak yang tercela seperti permusuhan, provokasi, menebarkan kebencian dan adu domba. Akhlak kebangsaan harus kembali diaktualisasikan dalam kondisi bangsa yang beragam seperti Indonesia ini.

Pesan Rasulullah, “Tidak ada yang lebih berat timbangannya bagi orang mukmin di hari kiamat nanti kecuali akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor”.

Facebook Comments