Rekonsiliasi Ramadhan: dari Kesucian Laku Individual Menuju Kedamaian Laku Sosial

Rekonsiliasi Ramadhan: dari Kesucian Laku Individual Menuju Kedamaian Laku Sosial

- in Suara Kita
367
1
Rekonsiliasi Ramadhan: dari Kesucian Laku Individual Menuju Kedamaian Laku Sosial

Ramadahan adalah bulan rokonsiliasi. Bulan berdamai dengan diri sendiri, yakni puasa penyucian individu manusia; juga berdamai dengan sosial, yakni puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga memupuk kepekaan sosial. Puasa yang hanya membuat manusia saleh secara indivual, tetapi minus dari laku kesalehan sosial, sejatinya puasanya itu adalah sia-sia.

Tujuan utama puasa adalah membentuk laku kesalehan sosial, yang diawali dari kesucian laku individual. Ini terlihat dari redaksi ayat al-Baqarah (2): 183, la‘allakum tataqun, agar kamu bertaqwa. Bertaqwa adalah proses penyucian diri, dengan memupuk ”kesadaran diri akan Tuhan,” yang dengan kedaran ini, manusia akan sekuat tenaga menjalankan apa yang diperintahkan oleh Tuhan, dan sekuat tenaga pula menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Kesalehan sosial inilah yang perlu ditekankan dalam puasa. Implementasi kesalehan sosial adalah adanya kerja-kerja untuk mewujudkan kedamaian, keamanan, dan kesejateraan di antara manusia. Ketiga kata kunci ini, yakni kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan adalah interpretasi dari ayat al-Quran yang menyebut bahwa ciri orang yang bertaqwa itu adalah lahum ajruhum (kedamaian), wa la khafun alaihim (keamanan), wa lahum yahjanun (kesejahteraan). Logika sederhana bisa dikatakan: puasa menciptakan ketaqwaan. Ketaqwaan melahirkan kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan. Maka pemahaman tentang puasa perlu diubah, dari fokus individual yang berorientasi hablum minallah (hubungan vertikal dengan Tuhan) menuju orientasi hablum minannas (hubungan horizontal sesama manusia).

Baca juga : Ramadan, Rekonsiliasi dan Pusaran Kebencian Di Media Sosial

Hubungan horizontal ini –baik dalam konteks keluarga, masyarakat, Negara, bahkan lintas-negara –yang menjadi acuan adalah kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan. Dalam konteks Indonesia, terutama pasca pemilu, rekonsiliasi perlu mendapat perhatian bersama.

Pemilu sudah berlalu, siapapun yang menang adalah presiden bersama. Polarisasi dan konflik di antara masyarakat perlu dihentikan. Puasa bisa dijadikan sebagai sarana bahwa dengan berpuasa, setiap kelompok harus mengedepankan kedamaian; setiap parpol harus lebih menonjolkan keamanan, dan setiap kubu harus lebih menomorsatukan kesejahteraan bersama.

Dengan puasa, tidak ada lagi itu kubu mereka, ini kubu kita; ini partai mereka, ini partai kita; ini kelompok mereka, ini kelompok kita. Semuanya sudah melebur, bahwa kita adalah sama-sama anak bangsa, sama-sama pandu ibu pertiwi yang lahir dan tumbuh dari dan di tanah, air dan udara yang sama.

Penekanan laku sosial berbasis kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan, ini juga terlihat dari sejarah. Dalam sejarahnya –bahkan sampai sekarang – Ramadan adalah salah satu bulan syahr al-hurum, bulan yang di dalamnya diharamkan berperang. Peperangan adalah simbol kekacauan, inharmonisasi, bahkan tak jarang menimbulkan chaos. Pengharaman perang ini –selain menghormati bulan puasa dan ibadah haji –adalah menghindari ketiga nilai di atas tercabik-cabik. Akan tetapi, pengharaman ini, bukan bersifat absolut. Bila ada kondisi –di mana ada pihak yang dengan sengaja ingin merusak suasana damai dan aman  –maka nabi pun tak segan-segan terjun ke medan perang. Berperang demi mewujudkan perdamaian dan keamanan. Tapi dengan catatan, perang fisik adalah jihad kecil, sementara perang nafsu adalah jihad besar.

Rekonsiliasi ramadan mensyarakat adanya penyucian diri. Suci dari caci maki, hoax, ujaran kebencian, rasisme, dan segala tindakan negatif, baik di dunia nyata maupun di maya. Puasa yang tidak berawal dari penyucian, tidak akan mungkin melahirkan laku sosial yang berorientasi kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan.

Para pendahulu kita, sudah membuktikan bahwa Ramadan adalah bulan yang paling baik untuk mewujudkan perdamaian. Bahkan dalam sejarah penting Indonesia, kemerdekaan itu diproklamirkan pada bulan Ramadahan. Proklamasi ini tak mungkin akan terwujud bila para pendiri bangsa ini masih berpikir pendek dan egosentris tentang kelompok, suku, agama, dan segala bentuk primordial lainnya. Tetapi dengan rasa kebersamaan, demi mewujudkan kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan –yang dalam falsafah Indonesi tertuang dalam Pancasila –meraka bergandengan tangan untuk memerdekakan Indonesia.

Akhir kata, berpuasalah demi mewujudkan kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan, yang akan membuahkan rekonsiliasi nasional.

Facebook Comments