Remaja Peminang Bidadari Surga, Korban Atau Pelaku?

Remaja Peminang Bidadari Surga, Korban Atau Pelaku?

- in Suara Kita
1671
0

Agustus adalah bulan yang dinanti oleh seluruh rakyat Indonesia untuk merayakan peringatan kemerdekaan yang jatuh tepat pada tanggal 17 Agustus 2016. Peringatan kemerdekaan inipun dirasakan semua kalangan baik dewasa maupun anak-anak, mulai dari perlombaan dan pawai. Tidak hanya itu, pemberitaan peringatan kemerdekaan menjadi trending topic yang hangat diperbincangkan di sosial media. Di sisi lain, beberapa instansi dan lembaga lain yang juga memperingati kemerdekaan menantikan bulan ini dengan harap-harap cemas. Apa sebab? Hal ini dikarenakan ancaman terorisme dan aksi amaliyah yang akan dilakukan para kelompok teroris begitu menggema dilakukan pada acara kenegaraan ini.

Tulisan ini akan fokus pada fenomena keterlibatan sejumlah anak dan remaja dalam kelompok teror yang bersifat masif. Korupsi, kemiskinan, pengangguran, bencana, kelaparan, penyuapan, diskriminasi kelompok minoritas serta penyebaran kebencian boleh jadi faktor yang mendorong mereka terlibat dengan kelompok teroris ini. Namun apa yang akan kita bahas disini adalah cara pandang lain melihat para pelaku teror anak, yang bisa saja menjadi informan, ‘pengantin bom’ atau ‘peracik’ bom sebagai korban terorisme kasat mata (invisible victims).

Peminang Bidadari Surga

Peminang bidadari surga menjadi istilah yang begitu tenar bagi para remaja yang meyakini hal tersebut adalah hadiah dari Allah SWT bagi para syuhada (pejuang yang mati syahid). Bahkan dalam beberapa situs, istilah ini sangat tenar. Ketenarannya bahkan berbentuk atribut seperti kaos, stiker, gantungan kunci, yang menjadi simbol nilai dan norma tertinggi yang dianut sebagian remaja melawan apa arti kesuksesan dunia. Jihad dengan bom bunuh diri melawan aparat pemerintah bagi mereka tidak diasumsikan sebagai bunuh diri sebenarnya.

Terdapat pergeseran makna antara bunuh diri dengan jihad. Bagi remaja yang bergabung dalam kelompok ini, bunuh diri adalah perbuatan orang putus asa dan dibenci oleh Allah, sementara jihad menurut mereka adalah amaliyat yang dijanjikan Allah SWT dengan mahar 72 bidadari surga. Pergeseran makna itu terjadi akibat adanya doktrin peminang bidadari surga.

Globalisasi dan kemudahan akses internet membuka kesempatan anak dan remaja untuk melakukan pencarian dengan jalan yang salah. Prof. Dr. Burhan Bungin menjelaskan dalam salah satu bukunya Sosiologi Komunikasi bahwa kemajuan teknologi manusia, khususnya teknologi informasi secara sadar membuka ruang kehidupan manusia semakin global. Sebagai ciptaan manusia, teknologi mampu membentuk masyarakat maya yang hiper-realitas, sehingga kehidupan nyata sekalipun bisa diwujudkan dalam kehidupan maya. Termasuk di dalamnya membangun kehidupan kelompok sosial, membangun kekuasaan bahkan membangun sistem kejahatan.

Siapa yang mampu menolak kemudahan? Begitu mudahnya doktrin dan janji surga yang tidak bisa menandingi kesuksesan dunia tentu menjadi pilihan terkeren anak dan remaja saat ini. Belum matangnya cara berpikir anak dan remaja inilah yang cenderung menggiring mereka menentukan pilihan yang salah.

Salah satu artikel menarik di harian Kompas (22 Agustus 2016) membahas mengenai ledakan di Gaziantep, Turki yang dilakukan oleh anak yang berusia 12-14 tahun dengan melakukan bom bunuh diri. Dalam aksi tersebut 51 orang meninggal dunia dan 69 orang luka-luka. Sejumlah aksi lain juga banyak dilakukan oleh anak dan remaja di beberapa negara seperti dilansir beberapa media internasional seperti di Kanada dan Australia.

Sementara di Indonesia sendiri masih di bulan Agustus ini, seorang remaja berinisial IAH berusia 18 Tahun yang melakukan teror di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph, Medan. Percobaan bom bunuh diri ini gagal karena bom pipa tidak meledak secara keseluruhan, saat ini proses penyelidikan masih berlanjut, dari keterangan remaja tersebut, dirinya diiming-imingi sejumlah uang dan diberikan black powder sebagai amunisi dan bahan merakit bom oleh orang lain.

Masih dalam laporan tertutup yang didampingi oleh BNPT, Polri dan KPAI, seorang anak berusia 14 Tahun berinisial RE berkomunikasi aktif dengan Bahrunaim untuk melakukan percobaan meracik bom di wilayah Jawa Barat. Keingintahuan anak ini yang besar mendapat perhatian dari Bahrunaim dan mulai dilakukan doktrinisasi mengenai ideologi Negara Daulah Islamiyah. Menyatukan paradigma bahwa pendekatan pemenjaraan hanya menjadi pilihan terakhir bagi anak. Maka kasus ini ditutup untuk melindungi kehidupan pribadi anak tersebut dan mendapatkan pendampingan baik sosial dan psikis oleh KPAI dan BNPT.

Korban atau Pelaku?

Berbicara mengenai korban, fenomena korban tindak pidana terorisme ini sangat pelik, karena tidak banyak yang mengangkat isu korban. Korban langsung terorisme yang menderita kerugian fisik, psikis dan finansial sekalipun masih minim mendapat perhatian negara dan masyarakat. Berbicara korban tentunya, kergian finansial tidak dalam jangka pendek. Hilangnya nyawa seorang kepala keluarga sendiri akan berdampak multiple victimisation bagi anggota keluarganya, sementara kerugian psikis sendiri masih minim diperhatikan.

Di sisi lain, masih ada satu sudut yang bukan hanya negara yang melupakan mereka tapi masyarakat di sekitar nya pun demikian (unawareness). Setelah pelaku tertangkap layaknya pertunjukan semua bertepuk tangan dengan keberhasilan penegak hukum. Sementara hanya segelintir yang membahas anak dan remaja ini. Di satu sisi, mereka tidak berdiri sendiri melakukan tindak pidana tersebut.

Paradigma penindakan dan eradikasi terorisme nyata tidak cukup menyelesaikan akar permasalahan terorisme di Indonesia. Paradigma ini perlu dirubah, anak dan remaja dilindungi oleh Negara termasuk mereka yang terdoktrin dengan paham radikal. Perlakuan dan penanganan terhadap mereka memerlukan strategi pendekatan khusus.

UU Terorisme sendiri belum mengatur secara spesifik mengenai pembedaan dan perlakuan bagi pelaku teror yang masih anak-anak. Sementara itu, anak tetap harus ditempatkan sebagai korban. Pasal 59 huruf K UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjelaskan bahwa “Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak korban jaringan terorisme”.

Anak sangat rentan dimanfaatkan terhadap penyebaran paham radikal hingga mengarah pada aksi terorisme. Anak yang tejerumus ke dalam jaringan terorisme adalah korban dari para pelaku teror sebenarnya dengan menggunakan kedok Agama. Mereka ditargetkan untuk menjadi generasi penerus kelompok teroris. Sehingga apa yang dilakukan oleh anak, baik sebagai informan, bom bunuh diri maupun peracik bom adalah korban dan bukan pelaku. Mereka lah yang disebut korban kasat mata (invisible victims).

Korban Kasat Mata

Anak yang telah menjadi korban doktrinisasi paham radikal memerlukan pemulihan dan rehabilitasi sosial untuk mengoreksi nilai ideologi radikal yang diterima nya. Peran serta masyarakat, pemerintah dan lembaga negara menjadi jalan bagi mereka menemukan ‘rumah’ mereka kembali. Sudut pandang yang melabel mereka sebagai pelaku perlu dibuang jauh, dan kepedulian terhadap korban kasat mata inilah yang akan mengembalikan jalan mereka.

Kebersamaan dan toleransi antarumat juga menjadi kesempatan terbuka yang bisa mereka manfaatkan untuk aktif layaknya anak dan remaja lainnya. Edukasi, penanaman ideologi nasionalisme, rehabilitasi dan pendampingan sosial perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak bisa dilakukan sektoral saja. Mereka sama, perlu dilindungi dan dikasihi, karena mereka adalah tunas generasi penerus cita-cita bangsa. Ketidakpedulian sebagai masyarakat justru akan menggali keingintahuan mereka terhadap kelompok radikal, ekstremis dan teroris. Anak yang menjadi korban jaringan terorisme adalah korban yang perlu dilindungi dan rangkul bersama.

Facebook Comments