Revitalisasi Dakwah Profetik Virtual

Revitalisasi Dakwah Profetik Virtual

- in Suara Kita
140
2
Revitalisasi Dakwah Profetik Virtual

Doktrin Islam menyeru kepada umat muslim untuk menegakkan dakwah. Dakwah merupakan perjuangan (jihad) menyeru manusia kepada kebenaran, kemanusiaan, kebaikan dan keadilan. Dakwah dapat dipahami sebagai proses internalisasi, transformasi, transmisi, dan difusi ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin dalam kehidupan masyarakat (Saputra, 2011: 2).

Dakwah Islam terklasifikasi ke dalam tiga bentuk yakni lisan, tulisan dan perbuatan. Dalam konteks revolusi digital, dakwah pun mengalami transformasi (digitalisasi dakwah). Dewasa ini, fenomena dakwah di media sosial sangat massif. Ini bukti bahwa aktivitas dakwah dapat menyesuaikan perkembangan zaman dan ajaran Islam pun mampu diaktualisasikan sesuai spirit zaman.

Beriringan dengan fenomena tersebut, media sosial juga menjelma sarang persemaian narasi SARA yang diskriminatif dan intimidatif. Tsunami informasi dalam medsos membuka peluang besar bagi arus masuk narasi hoax, body shamming dan ujaran kebencian. Sekalipun kontestasi politik praktis meredam, akan tetapi narasi-narasi SARA semakin massif menggerogoti ruang publik virtual (medsos).

Berdasarkan data We are Social, pengguna media sosial di Indonesia tahun 2019 mencapai 150 juta. Mayoritas publik menggunakan beberapa media sosial sekaligus dengan rincian, 88 persen pengguna Youtube, 83 persen Whatsapp, 81 persen Facebook, dan 80 persen Instagram. Rata-rata, mereka bermedia sosial selama 3 jam, 26 menit per-hari.

Besaran angka pengguna medsos menunjukkan kerentanan masyarakat kita terpapar narasi SARA yang mampu memecah publik. Bahkan, pelaku tindak kejahatan dan para radikalis memanfaatkan media sosial untuk melakukan cyber crime dan menyebar paham-paham yang bertentangan dengan falsafah Pancasila. Hal tersebut akan mengancam stabilitas nasional dan persatuan bangsa.

Dalam kondisi krusial ini, dakwah profetik virtual menjadi alternatif untuk memerangi beragam narasi SARA yang berkelindan di media sosial. Para ulama sebagai pewaris para Nabi dituntut membumikan kembali nilai-nilai dakwah profetik yang mengusung spirit kemanusiaan, kerahmatan dan ukhuwah islamiah. Hakikatnya, dakwah Islam (QS. As-Saba’: 28) berfungsi untuk menyampaikan risalah berupa berita gembira tentang nilai-nilai kemanusiaan dan peringatan.

Baca Juga : Islam Nusantara: Islam Ramah dan Santun dalam Dakwah

Secara paradigmatik, Kuntowijoyo merumuskan konsep etika profetik ke dalam tiga prinsip yakni humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar) dan transendesi (al-iman billahi). Paradigma profetik ini mengacu pada Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 110 (2007: 87-88). Pertama, prinsip humanisasi dalam berdakwah bermakna seruan atau ajakan perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati di tengah keberagaman budaya, etnis, dan agama.

Kedua, prinsip liberasi dalam dakwah bermakna pembebasan manusia dari beragam bentuk penindasan, diskriminasi dan intimidasi baik dalam bentuk narasi maupun tindakan. Ketiga, prinsip transendensi dalam dakwah adalah seruan kepada umat untuk beriman kepada Allah swt. secara kaffah. Artinya, seorang mukmin harus merawat hubungannya dengan Allah (habblun minallah) dan keharmonisan sesama manusia (habblun minannaas).

Sayangnya, akhir-akhir ini dakwah seringkali dimanipulasi untuk kepentingan ideologi-politik tertentu. Seruan dakwah seringkali digunakan sebagai praktik doktrinisasi ajaran atau aliran tertentu seperti paham radikal, liberal dan sebagainya. Bahkan, dai-dai pop seringkali menjadikan dakwah virtual sebagai ajang pamer popularitas semata. Oleh karenanya, dakwah harus kembali pada prinsip-prinsip profetik sebagaimana yang dicontohkan nabi.

Revitalisasi dakwah profetik virtual bukan saja cerama virtual di media sosial. Selama ini, masyarakat muslim menafsiri dakwah secara sempit dan reduktif yakni sebatas ceramah secara lisan. Pemahaman demikian hanya membatasi laju dakwah. Bahkan, banyak masyarakat muslim Indonesia berasumsi bahwa dakwah menjadi tanggungjawab para ulama semata. Belum ada kesadaran kolektif untuk mengajak manusia lainnya kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran.

Maksud dakwah profetik virtual bukan hanya ceramah lisan di dunia virtual. Hakikatnya, dakwah profetik virtual bisa diaktualisasikan secara tulisan dan tindakan. Bahkan, mulism milenial yang akrab dengan medsos memiliki tanggungjawab untuk melakukan dakwah profetik virtual. Pada dasarnya, mereka bisa merevitalisasi dakwah profetik virtual dengan kreatif dan inovatif.

Secara sederhana, para milenial bisa mengubah orientasi menulis status di media sosial yang semula sekedar personal branding semata, menjadi status yang mengajak publik virtual kepada persaudaraan dan kasih sayang. Mereka bisa mengampanyekan hastage #2019noSARA atau #stopdiskriminasiminoritas. Secara kreatif, mereka bisa membuat vlog, video pendek atau meme yang menyeru publik untuk saling menghormati dan berdamai. Hal demikian adalah bentuk dari dakwah profetik virtual secara lisan.

Tahap selanjutnya, dakwah profetik virtual dapat diaktualisasikan dalam model Siskamling Digital. Muslim milenial dituntut menjaga keamanan dunia virtual dari beragam narasi SARA. Maksud siskamling digital disini, muslim milenial wajib melakukan pelaporan ke pihak berwajib misal lewat adukonten.id jika ditemukan oknum-oknum yang membangun narasi SARA, hoax, hatespeech di media sosial. Hal demikian merupakan bagian dari dakwah dengan cara mengambil tindakan.

Dari contoh-contoh di atas menunjukkan dakwah profetik berperan penting untuk menjaga stabilitas masyarakat baik di dunia nyata ataupun maya. Sebagaimana dalam Qur’an Fushshilat ayat 33 yang menegaskan orientasi dakwah adalah menegakan kebenaran (anti-hoax), mewujudkan kebaikan (anti-SARA) sehingga persudaraan keumatan dan kebangsaan tetap terjaga baik dan harmonis. Maka jelas bahwa dakwah Islam selalu menyokong umat dan bangsa menuju proses keadaban dan keberadaban.

Facebook Comments