Romantisme Masa Lalu: Mewujudkan Keindahan Islam Melalui Kebudayaan

Romantisme Masa Lalu: Mewujudkan Keindahan Islam Melalui Kebudayaan

- in Suara Kita
161
1
Romantisme Masa Lalu: Mewujudkan Keindahan Islam Melalui Kebudayaan

Ketika berbagai macam bom diledakkan, ingatan saya jauh menerawang ke masa lampau. Memimpikan tumbuhnya Islam kreatif dengan pendekatan budaya lokal. Saya selalu berharap munculnya generasi Walisongo di era modern ini. Hal ini sangat penting untuk memukul mundur gerakan terorisme yang dilakukan kelompok radikal.

Ratusan tahun kebelakang para mubaligh, khususnya Walisongo telah menunjukkan contoh penyebaran ajaran agama Islam di negeri yang pkural ini. Namun sejarah ini mulai dilupakan oleh sekelompok anak muda yang mencita-citakan berdirinya negara Islam. Mereka begitu getol membujuk orang mengikuti ajarannya. Bahkan usaha mereka telah mencapai ambang kewajaran sampai menimbulkan korban jiwa.

Menurut saya tindakan teror yang dilakukan sejumlah oknum radikal merupakan tindakan frustasi. Mereka tidak bisa menyebarkan ajarannya dengan tepat. Menuai beberapa prinsip yang elok dan disegani masyarakat. Mereka ingin menyebarkan ajaran Islam secara cepat, namun pondasi yang digunakan terlalu rapuh dan membahayakan.

Sangat ironis, justru penyakit seperti inilah yang sedang melanda Islam di abad modern ini. Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah dunia modern harus dibangun diatas intoleransi dan pengabaian rasa kemanusiaan?. Jika jawabannya iya, justru bangunan indah dan megah itu hanya menjadi simbol semata, tidak sampai menyentuh hati pemeluknya. Begitu pula kalimat dzikir yang selalu dilantunkan hanya menjadi pemanis berbagai kepentingan. Ketika kalimat “Allahu Akbar” diteriakkan, muncul semangat baru untuk memusnahkan nurani dan membunuh saudaranya sendiri.

Keadaan yang demikian membuat saya rindu akan ketenangan agama Islam di masa lalu. Suatu masa hidupnya para ulama yang menyebarkan keindahan agama Islam. Mereka sering disebut sebagai Walisongo. Memang secara fisik tidak ada bedanya dengan ulama sekarang, sama-sama berjenggot dan memakai sorban. Meskipun ada satu yang memakai pakaian tradisional Jawa, namun dari segi keilmuannya tidak ada bedanya.

Baca juga : Pendidikan Berbasis Budaya Lokal Penangkal Radikalisme

Mereka saling bahu membahu menyebarkan ajaran Islam berhaluan kemanusiaan. Mereka tidak begitu saja memusnahkan kebudayaan yang telah mengakar di masyarakat, namun memodifikasinya menjadi berhaluan ajaran Islam. Dari kekreatifnya inilah masyarakat mulai mendekati ajaran Islam tanpa ada rasa keterpaksaan.

Contoh kecil dari penyebaran Islam Walisongo adalah Sunan Kudus yang melarang masyarakat Kudus menyembelih sapi sebagai rasa penghormatan kepada agama Hindu. Dimana dalam agama Hindu sapi dianggap hewan yang suci. Kemudian Sunan Kalijaga yang merubah adat perkumpulan orang Jawa, yang tadinya digunakan untuk bermain judi dan minum-minuman keras menjadi dzikir bersama.

Begitu juga Sunan Bonang yang berdakwah dengan seni musik. Beliau membuat lagu-lagu Jawa yang memuat nasehat-nasehat. Selain itu, beliau juga membuat sebuah alat musik tradisional yang dinamainya “Bonang”.

Mereka adalah para ulama yang memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa. Mereka merubah cara pengajaran agama Islam yang monoton menjadi lebih menyenangkan dan digemari oleh semua lapisan. Hebatnya mereka mampu memadukan kebudayaan dengan syariat Islam. Sehingga agama Islam yang terkesan sebagai agama pendatang, tidak secara penuh merombak adat kebiasaan mereka sebelumnya.

Cara seperti inilah yang harus digunakan oleh ulama sekarang. Tidak serta merta mengubah gaya hidup seseorang menjadi Islami, namun memasukkan ajaran Islam ke gaya hidup masyarakat. Karena Indonesia dikenal dengan bangsa multikultural yang mempunyai jutaan budaya, maka sektor budaya menjadi salah satu sektor yang harus dikembangkan sebagai wahana penyebaran ajaran Islam.

Namun yang terjadi sekarang, budaya bangsa kian hari semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Budaya bangsa dianggap kuno di era yang modern. Anak-anak bangsa mengkonsumsi budaya negara luar dan mengucilkan budaya sendiri. Padahal, banyak orang luar negeri yang berbondong-bondong ke Indonesia hanya untuk belajar budaya kita. Masalah inilah yang harus diselesaikan untuk mewujudkan keindahan Islam di masa lampau.

Bagaimana mungkin menyebarkan agama Islam seperti masa Walisongo jika budaya sendiri tidak cenderung dilupakan?. Maka yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mendorong minat anak muda mempelajari kebudayaan lokal. Menggugah kembali semangat nasionalisme yang ada di dalam diri mereka.

Saya tertarik dengan model pengajaran di dunia pendidikan kita. Pada ujian praktek, mereka membawa pernak pernik kebudayaan berupa lagu, pakaian, serta adat setempat. Seharusnya cara ini tidak hanya diterapkan pada waktu ujian saja, namun harus sering diterapkan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sehingga lewat hal kecil seperti ini diharapkan rasa cinta terhadap kebudayaan bisa tumbuh dengan sendirinya.

Facebook Comments