Ruh Ketauhidan dalam Pancasila Bagi Abu Bakar Ba’asyir

Ruh Ketauhidan dalam Pancasila Bagi Abu Bakar Ba’asyir

- in Narasi
457
0
Ruh Ketauhidan dalam Pancasila Bagi Abu Bakar Ba’asyir

Ketegasan Abu Bakar Ba’asyir di dalam menerima Pancasila bukan lahir dari ruang kosong. Ini tidak terlepas dari hasil pengkajian ulang oleh dirinya. Hingga, menghasilkan semacam (kesadaran dan pemahaman) baru yang sifatnya kesimpulan akhir. Bahwa, di dalam Pancasila sejatinya memiliki (ruh ketauhidan). Tertuang dalam sila-1 yaitu ketuhanan yang Maha Esa.

Bahkan, Abu Bakar Ba’asyir menyadari dalam (sebuah video) yang viral di sosial media. Bahwa, sebagai kekeliruan yang sangat besar. Ketika dulu, dia menganggap Pancasila itu syirik. Tetapi, setelah dipelajari dan dikaji ulang, dia menyadari bahwa anggapan itu sangatlah salah.

Karena Abu Bakar Ba’asyir memahami. Bahwa, sangat tidak mungkin Pancasila itu syirik dan sangat tidak mungkin disetujui oleh para ulama jika Pancasila bertentangan dengan agama. Sehingga, ini menjadi satu kesimpulan penting tentang ruh ketauhidan dalam Pancasila yang menjadi pemahaman Abu Bakar Ba’asyir yang final.

Kebenaran Tauhid dalam Pancasila

Kita harus paham. Bahwa, ruh ketauhidan yang ada di dalam Pancasila menurut Abu Bakar Ba’asyir itu tidak terlepas dari (point utama) yang menjadi nilai penting dari keseluruhan Pancasila. Di mana, ketegasan nilai Pancasila menyatakan secara verbal akan ketuhanan yang Esa. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam kata “Qul Hu allah hu ahad”.

Jadi, di manakah letak kesyirikan Pancasila dan pertentangan antara agama dan Pancasila? Jika Pancasila menghimbau kepada umat manusia untuk meyakini dan mengimani akan konsep utuh dari (Tuhan yang Esa) itu. Sebagaimana di dalam Islam kita memiliki satu prinsip bahwa segala nilai yang berujung pada penegasan bahwa Tuhan itu “tunggal” maka itu sebagai kebenaran yang merepresentasikan apa yang ada dalam ajaran-Nya.

Artinya, Pancasila secara orientasi tidak hanya berimplikasi ke dalam siklus (keduniawian). Melainkan menekankan umat Indonesia ke dalam wilayah (spiritual) agar yang pertama kali dilakukan adalah penegasan tentang ketuhanan. Dengan pengertian bahwa, kita memiliki Tuhan, harus taat kepada aturan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka, ini masuk dalam wilayah (harapan transendental) yang dipatenkan sebagai point utama, point terpenting dan menjadi awalan di mana Pancasila sebagai falsafah bangsa tegak.

Maka, ketika kita menolak Pancasila, itu sama halnya kita menolak prinsip ketauhidan yang ada di dalam-nya. Karena sangat jelas di situ. Bahwa, sila-1 dan yang paling utama dalam Pancasila adalah bagaimana cara umat Indonesia bertuhan yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi, sangat wajar jika Abu Bakar Ba’asyir memiliki kesimpulan bahwa Pancasila itu adalah kebenaran etis yang mengandung nilai ketauhidan di dalamnya.

Diawali Ketahuhidan (hablum minallah) menuju Kemanusiaan (hablum Minannas)

Cobalah kita pahami. Sebagaimana, ruh ketauhidan dalam Pancasila menurut Abu Bakar Ba’asyir. Itu kalau kita dalami kembali. Pancasila tidak hanya mewadahi basis ketuhanan melainkan konsep kemanusiaan. Ini jelas sangat merepresentasikan nilai-nilai agama yang baldatun tayyibatun warabun ghafur. Maka, di manakah letak pertentangan Pancasila dan agama?

Sebagaimana, Pancasila dalam sila-1 menekankan sikap (ketuhanan kita) atau hubungan spiritual dengan Tuhan. Maka, ketika itu terbangun hal yang selanjutnya dilakukan dalam sila-2 tentang kemanusiaan, keadilan dan etika. Sebagaimana, agama sangat menjunjung sekali yang namanya kemanusiaan, keadilan dan etika atau akhlak. Karena Nabi Muhammad SAW diutus untuk melakukan itu.

Maka, di sinilah sebagai pemahaman yang utuh. Bahwa, konsep ruh ketauhidan yang diterima Abu Bakar Ba’asyir saat ini sejatinya menjadi (jawaban). Setelah sekian lama dia meyakini secara negatif bahwa Pancasila itu syirik dan bertentangan dengan ajaran Agama.

Namun, setelah dipelajari oleh Abu Bakar Ba’asyir. Ternyata, dia tidak menemukan kebenaran tentang kesyirikan di dalam Pancasila itu. Melainkan menemukan ruh ketauhidan yang mengakar di dalamnya. Sebagaimana yang kita pahami di dalam ulasan di atas. Bahwa, Pancasila merangkul prinsip agama yang rahmat dan maslahat karena mengandung point tentang aturan kehidupan sosial-kemanusiaan yang bisa membawa maslahat.

Facebook Comments