Ruwahan, Ramadan, dan Lebaran: Moderatisasi Diri dalam Kearifan Nusantara

Ruwahan, Ramadan, dan Lebaran: Moderatisasi Diri dalam Kearifan Nusantara

- in Suara Kita
151
0
Ruwahan, Ramadan, dan Lebaran: Moderatisasi Diri dalam Kearifan Nusantara

Ngelmu iku

Kalakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budya pangekese durangkara

—Mangkunagara IV, Serat Wedhatama

Dalam khazanah budaya Jawa, rangkaian peristiwa Ruwahan, puasa Ramadan sampai dengan lebaran dan kupatan, adalah sebuah prosesi dimana manusia diberi waktu khusus untuk lebih mengenal dirinya dalam kaitannya dengan Tuhannya dan manusia ataupun makhluk-makhluk lainnya.

Sebelum memasuki bulan Ramadan, tradisi Jawa mewariskan tradisi Ruwahan yang dimulai dari pertengahan bulan hingga akhir bulan Ruwah. Dalam tradisi Ruwahan ini orang-orang akan melakukan bersih-bersih dan ziarah ke makam para leluhurnya ataupun orang-orang saleh lainnya.

Dari tradisi Ruwahan itu dapat dimengerti bahwa manusia berupaya menyambungkan kembali kesambungannya dengan orangtua ataupun leluhurnya beserta dengan kesilamannya yang ujungnya adalah pada saat idulfitri dimana ia, secara ideal, kembali ke kehakikiannya. Dalam hal ini, pagelaran wayang purwa Jawa memiliki pengertian yang bagus soal upaya penyambungan dengan kesilaman yang diharapkan akan berdampak pada yang mendatang.

Istilah wayang konon berasal dari istilah “ma-hyang” yang berarti sebuah upaya untuk kembali pada Hyang yang dapat berarti leluhur ataupun yang jauh di atasnya adalah Tuhan. Sebab, dalam istilah Jawa Tuhan juga dipanggil sebagai Sang Hyang yang seturut dengan segala sifatnya (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020). Dari tradisi Ruwahan ini terdapat sebuah kearifan bahwa seusai orang menanggalkan dunia ini cerita tak otomatis selesai. Istilah Ruwah, yang dalam kearifan Jawa identik dengan arwah, membuktikan akan hal itu.

Beranjak dari penyambungan ke leluhur dan bahkan yang jauh di atasnya, orang yang beriman pun dituntut untuk menggembleng dirinya lewat puasa dan kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah lainnya di bulan Ramadan. Pada waktu inilah apa yang dikabarkan oleh al-Qur’an tentang tipologi dan transformasi diri manusia mendapatkan momentumnya untuk tak sekedar menjadi kabar, namun untuk menjadi kenyataan (Kahanan: Melongok dari yang Tak Pokok, Heru Harjo Hutomo, Bintang Pustaka Madani, Yogyakarta, 2021). Sehingga buah iman yang didapat tak sekedar ‘ainul yaqin dan imanul yaqin, namun juga haqqul yaqin. Dengan kata lain, lewat puasa Ramadan dan segala detail peristiwa yang terjadi di dalamnya, secara ideal manusia dihantarkan pada apa yang oleh Serat Wedhatama disebut sebagai ilmu laku yang merupakan wilayah orang-orang kas atau khusus.

Di akhir bulan Ramadan, setelah secara ideal suci, kembali manusia dihantarkan pada kesambungannya dengan leluhur dan kesilamannya yang kini seolah menjadi pesan yang secara ideal pula akan berkesinambungan. Ziarah kubur kembali dilakoni untuk mapak atau menjelang hari kemenangan di bulan Syawal dimana secara hakiki manusia sudah uwal atau bebas yang pada lebaran ke-7 ditandai oleh prosesi slametan dengan media ketupat atau kupat luwar, yang berarti pula sudah bebas (luwar).

Kebebasan atau kelepasan itu bukanlah kebebasan dalam pengertian sekular, namun laiknya dalam agama Buddha ataupun kearifan-kearifan lokal lainnya yang menitikberatkan pada prinsip ketakmelekatan yang identik dengan “manungsa wus waskitha ing dunung” sehingga hanya keridhaan sebagaimana yang diseru oleh al-Qur’an dalam surat al-Fajr yang menjadi perspektif ideal dalam urusan yang menyangkut keseluruhan (Sangkan-Paran, Heru Harjo Hutomo, Bintang Pustaka Madani, Yogyakarta, 2021).

Kesilaman yang merupakan faktor terpenting dari prosesi tradisi Ruwahan hingga lebaran juga dibumikan dengan laku yang dalam khazanah budaya Jawa disebut sebagai “sejarah.” Tak sekedar bersilaturahmi, laku sejarah ternyata tak jauh berbeda pula dengan esensi ilmu sejarah: menyingkap fakta-fakta yang silam untuk memahami diri dan ruang lingkupnya di masa kini dan di masa yang mendatang (Sejarah dan Kehidupan, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Ketika menengok prosesi Ruwahan, Ramadan dan lebaran yang terwariskan dalam kebudayaan Jawa itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ujung terjauh dari semuanya adalah moderasi diri. Dan idealnya, ketika hal ini dapat dicapai, maka tercapai pula ideal “hamemayu hayuning bawana.” Sebab, dalam kearifan Jawa, keselarasan bawana atau dunia adalah seturut dengan keselarasan diri yang selama sebulan penuh telah diupayakan pada bulan Ramadan.

Facebook Comments