Saatnya Kampanye Rekonsiliasi Kebangsaan di Media Sosial

Saatnya Kampanye Rekonsiliasi Kebangsaan di Media Sosial

- in Suara Kita
319
1
Saatnya Kampanye Rekonsiliasi Kebangsaan di Media Sosial

Pada Minggu (30/6/2019), Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menggelar rapat pleno terbuka dan menetapkan pasangan capres-cawapres Joko Widodo – Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih dalam Pilpres 2019. Pasangan nomor urut 01 tersebut terpilih sebagai presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024 dengan perolehan suara sebanyak 85.607.367 suara atau 55,50% dari total suara sah nasional. Rapat pleno tersebut digelar KPU menyusul putusan Mahkamah Konstitusi mengenai sengketa hasil pilpres 2019. Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak seluruh gugatan sengketa Pilpres 2019 yang sebelumnya diajukan pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dengan demikian, usai sudah rangkaian kontestasi politik dalam pemilu 2019 ini. Setelah rangkaian perdebatan, juga gugatan yang menyertai, baik di masa kampanye hingga masa-masa pengumuman hasil, kini pasangan presiden dan wakil presiden terpilih sudah ditetapkan secara sah. Setelah penetapan presiden dan wakil presiden terpilih dari KPU tersebut, semua pihak kembali mempererat tali persaudaraan dan persatuan.

Kita berharap, semua pihak bisa menerima hasil dari seluruh rangkaian mekanisme pemilu tersebut dengan jiwa besar. Kita juga berharap, segala macam perdebatan yang marak selama masa-masa kampanye hingga beberapa bulan belakangan, bisa mereda dan kita semua bisa kembali bergandengan tangan mengukuhkan persaudaraan sebagai sebuah bangsa.

Semangat rekonsiliasi kebangsaan menjadi hal yang sangat penting untuk ditekankan setelah proses panjang Pilpres 2019 ini. Kita tahu, sepanjang beberapa bulan menjelang Pemilu 2019, betapa marak perdebatan yang terjadi. Terlebih, jika kita melihat apa yang nampak di dunia maya atau media sosial. Betapa banyak orang-orang menjadi begitu mudah saling berdebat, bahkan menyerang dan mencaci satu sama lain, hanya karena perbedaan pandangan atau pilihan politik.

Baca juga : Pemilu Sudah Selesai, Saatnya Rekonsiliasi Media Sosial!

Tak jarang, kontestasi politik terjebak pada penajaman perbedaan identitas primordial. Suku, agama, ras, menjadi komoditas yang dimanfaatkan secara pilitik, sehingga masyarakat banyak terjerumus dalam jurang perselisihan, perdebatan, caci maki, bahkan kebencian dengan sesama. Pesta demokrasi yang mestinya menjadi ajang persaingan ide dan gagasan serta perayaan atas perbedaan secara beradab, justru ternoda oleh ekspresi-ekspresi yang negatif yang merusak. Ekpresi perbedaan menjadi cenderung tidak produktif, sebab menghadirkan caci maki, saling melecehkan, bahkan tak jarang menjurus pada sikap-sikap intoleran dan kekerasan.

Penetapan pasangan presiden dan wakil presiden RI terpilih oleh KPU beberapa hari yang lalu mesti bisa mengakhir segala perselisihan dan perdebatan tersebut. Kini, sudah saatnya kita kembali menguatkan persaudaraan. Berakhir sudah persaingan antara 01 dan 02. Maka, mestinya berakhir pula segala perdebatan dan perselisihan yang sebelumnya tercipta.

Rekonsiliasi

Kini, waktunya menggelorakan kembali semangat rekonsiliasi kebangsaan. KBBI mengartikan “Rekonsiliasi” sebagai tindakan menyembuhkan hubungan persahabatan untuk kembali ke keadaan semula. Rekonsiliasi kebangsaan, dengan demikian bisa diartikan sebagai upaya menyembuhkan kembali hubungan persaudaraan dan persatuan bangsa, setelah sebelumnya retak atau koyak oleh menguatnya perdebatan, caci maki, dan kebencian.

Dalam konteks, Pilpres 2019 yang baru saja berlalu, rekonsiliasi kebangsaan mesti dilakukan untuk mengobati luka-luka dan penyakit yang belakangan merenggangkan hubungan kita dengan sesama saudara sebangsa hanya karena perbedaan pandangan politik.  Kebencian, sentimen negatif, permusuhan, dan berbagai sikap dan tindakan yang merusak keharmonisan sosial mesti diobati dan dipulihkan kembali, demi menciptakan kehidupan bersama yang harmonis dan damai.

Kampanye rekonsiliasi kebangsaan mesti digerakkan seluruh elemen bangsa. Dimulai dari para elite politisi, baik yang berkompetisi langsung maupun sebagai pendukung dalam partai koalisi, semua mesti menunjukkan sikap kenegarawanan dan kedewasaan untuk menerima hasi Pemilu, juga mengajak seluruh masyarakat kembali merajut tenun kebangsaan, ikatan persaudaraan dan menjaga persatuan. Ini sangat penting, sebab apa yang ditunjukkan para elite politik kerap sangat memengaruhi apa yang terjadi di level bawahnya, yang kemudian berpengaruh terhadap masyarakat luas.

Media sosial

Kemudian, kita sebagai masyarakat, juga memiliki tugas dan andil yang sama besarnya untuk mengkampanyekan rekonsiliasi kebangsaan. Di sini, dunia maya atau terutama media sosial bisa menjadi alat yang sangat ampuh untuk menggelorakan rekonsiliasi kebangsaan. Dengan gawai di tangan, setiap individu mesti aktif menyuarakan pesan-pesan perdamaian. Di media sosial, ekspresi-ekpresi permusuhan dan kebencian sudah saatnya dilenyapkan, diganti ekspresi-ekpresi yang mengedepankan persaudaraan, kasih sayang, dan kepedulian dengan sesama.

Langkah konkretnya, kita bisa kembali menyapa, berkomentar secara ramah dan damai, dengan orang-orang yang kemarin mungkin berbeda pandangan politik dengan kita. Di sini, kata-kata atau bahasa penuh etika, adab, dan sopan santun menjadi hal yang sangat penting dikedepankan dalam mengupayakan rekonsiliasi di media sosial. Jangan ada lagi kata-kata penuh kebencian, permusuhan, dan caci maki di kolom komentar. Tak boleh ada lagi unggahan-unggahan provokatif dan membagikan (share) konten-konten yang memancing keributan.

Semua mesti merenung, melakukan refleksi, dan melihat secara jernih apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh bangsa ini. Kini, sudah tak ada relevansinya lagi untuk terus melakukan perdebatan, apalagi mengumbar permusuhan dan kebencian. Pilpres telah usai dan pemimpin terpilih sudah ditetapkan. Tak ada guna terus memelihara kebencian dan permusuhan. Yang lebih penting dan yang kita butuhkan sekarang adalah suara-suara ramah dan damai yang mengajak untuk kembali bergandengan tangan, menguatkan kerja sama dan gotong royong untuk menciptakan keharmonisan demi kehidupan bangsa yang lebih baik ke depan.

Facebook Comments