Saatnya kembali ke 03

Saatnya kembali ke 03

- in Suara Kita
255
2
Saatnya kembali ke 03

Carut marut pemilu 2019 menyisakan serpihan-serpihan yang hingga kini masih terus berkutat baik di dunia nyata maupun maya. Dimulai dari masyarakat tingkat bawah, menengah hingga mereka yang mempunyai struktur jabatan tinggi di pusat negara Indonesia. Perbedaan pilihan menjadi penyebab utama perseteruan hingga kini masih terus mengalir disetiap lini masyarakat Indonesia tercinta ini.

Setiap tingkatan masyarakat mempunyai peran masing-masing untuk mendukung dan memenangkan calon pilihannya. Salah satu lahan yang menjadi ring pertarungan adalah media sosial. Pada laman media sosial baik Facebook ataupun twitter setiap hari banyak dijumpai cuitan mengenai politik baik berupa status yang dibuat sendiri ataupun membagikan status orang lain yang mempunyai kesamaan pilihan.

Hampir setiap hari halaman media sosial menyuguhkan berita mengenai politik di Indonesia tercinta ini. Lipi (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) merilis bahwa generasi Z atau anak muda yang lahir berkisar tahun 1995-2005 mengakses berita terkait politik menggunakan media sosial. Dari keterangan ini dapat kita lihat bahwa media sosial memang mempunyai power untuk menggiring wacana kepada siapapun yang melihatnya termasuk generasi muda.

Hoax yang setiap kali melintas di media sosial menjadi momok bagi para pengguna media sosial. Hoax menjadi bumbu-bumbu yang melengkapi carut-marutnya proses politik di negara tercinta ini. Jika kebohongan ini hanya dibagikan satu orang maka ini tidak menjadi benalu, namun jika kebohongan berita bohong disebar oleh ribuan orang bahkan jutaan orang maka akan muncul “percaya” terhadap berita tersebut. Pada kelanjutannya sulit membedakan berita yang benar.

Baca juga : Menjunjung Konstitusi, Mengawal Persatuan

Banyak pendukung pilpres 2019 kali ini yang terpengaruh berita bohong dari media sosial sehingga mereka tak lagi saling sapa dengan tetangga hingga keluarga. Bahkan kekacauan pilpres 2019 mengorbankan nyawa, salah satu peristiwa tersebut terjadi di Sampang Madura. Keduanya membawa senjata tajam dan pistol rakitan untuk mendukung pilihannya. Akhirnya salah satunya tewas, lantas apa yang didapatkan dari pemenang perselisihan itu? Polisi telah meringkus salah satu (penembak) dan masuk dalam ruang penjara.

Saatnya Kembali ke 03 “PERSATUAN INDONESIA”

Pesta demokrasi untuk memilih pemimpin negara ini merupakan rangkaian lima tahunan sekali. Maka dari itu masyarakat sipil ataupun aparatur negara harus sadar bahwa ini adalah “hajat negara yang dilakukan setiap lima tahun sekali”. Tidak perlu mengorbankan energi untuk bergulat di media sosial bahkan mengorbankan nyawa hanya untuk mendukung pilihannya. Seharusnya masyarakat sipil atau aparatur negara lebih dewasa menyikapi pilpres kali ini, karena negeri Indonesia tercinta ini tidak hanya satu kali melakukan pemilu, jika ditelaah kembali kebelakang Indonesia telah melakukan sebelas kali pemilu.

Indonesia telah mengalami liku-liku perjalanan, pesta demokrasi hanyalah bagian kecil dari perjalanannya. Mengaca dari hal tersebut, seharusnya setiap elemen masyarakat dari tokoh agama, tokoh politik, pimpinan berbagai organisasi masyarakat dari tingkat atas sampai bawah menyadarkan masyarakat akan pentingnya persatuan Indonesia karena pemilu telah usai. Sudah saatnya rakyat Indonesia menggandengkan tangan kembali dan menghilangkan perpedaan pilihan 01 atau 02 untuk menuju ke 03 “Persatuan Indonesia”.

Menurut Kabul Budiono dalam bukunya “Pendidikan Pancasila dalam Perguruan Tinggi” Persatuan Indonesia ini secara tidak langsung mengikat warga negara Indonesia agar bersatu tanpa membedakan dari suku, ras dan agama apa yang mereka miliki (Bhineka Tunggal Ika). Sila ketiga ini memiliki simbol pohon beringin yang rindang, dengan maksud Indonesia adalah tempat untuk berlindung atau berteduh dan mempersatukan warga negaranya. Hal ini didukung pula dengan lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928: “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”.

Dunia maya merupakan representatif dunia nyata. Penggunanya pun beragam dari suku, ras dan agama, sehingga “Persatuan Indonesia” harus dijaga melaui media sosial dengan cara saling menghormati dan beretika dalam media sosial. Menebarkan konten yang bersifat mendamaikan dan tidak membagikan konten yang terindakasi hoax. Hal ini berfungsi untuk menjaga perdamaian, persatuan dan keutuhan negara tercinta “Indonesia”.

Perbedaan sudah menjadi fitrah manusia. Tuhan pun telah mengajarkan kepada kita agar saling belajar dari perbedaan. Perbedaan bukan untuk saling mendeskreditkan satu dengan lainya, namun untuk belajar saling menghargai dan memberikan warna dalam proses berinteraksi sosial. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Sekali lagi bahwa pemilu telah usai, sudah saatnya kita barjabat tangan dan kembali ke “Persatuan Indonesia”. Jangan sampai hanya gara-gara pilpres rakyat terpecah dan negeri tercinta kita hancur seperti negeri-negeri di Timur Tengah. Perlu kita terdiam sejenak untuk membayangkan betapa susahnya jika negeri kita hancur seperti negeri-negeri Timur Tengah. Nyenyaknya tidur tiba-tiba terdengar letusan bom, suara tembak dimana-mana, api membara dimana-mana, bukankah kita tidak menginkan hal tersebut? saya kira jawaban kita sama, masih ingin tidur nyenyak dan menikmati keceriaan bersama keluarga dan anak cucu kita nantinya. Nah maka dari itu mari kita jaga “Persatuan Indonesia” untuk masa depan anak bangsa, jangan mau diadu domba antar sesama. Namun kita harus tetap ingat bahwa kita adalah bangsa Indonesia.

Facebook Comments