Salahkah Jika Seorang Guru Memaksakan Muridnya Menggunakan Jilbab?

Salahkah Jika Seorang Guru Memaksakan Muridnya Menggunakan Jilbab?

- in Suara Kita
237
0
Salahkah Jika Seorang Guru Memaksakan Muridnya Menggunakan Jilbab?

Kali ini, dunia pendidikan kembali disuguhkan dengan fenomena pemaksaan kehendak seorang guru terhadap murid di sekolah, agar menggunakan jilbab. Kasus ini menimpa seorang Siswi di SMA Negeri di Kabupaten Bantul DIY, pada 19 Juli 2022. Lantas yang menjadi pertanyaanya kita sekarang. Salahkah jika seorang Guru memaksakan muridnya menggunakan Jilbab?

Kalau kita lihat, kasus yang baru ini kembali terjadi. Itu menimpa siswi yang beragama Islam. Tentunya, sebagian di antara kita sebagai (masyarakat) pasti akan “membenarkan” praktik kurang bijak itu. Karena dengan satu alasan, dia beragama Islam dan kasus ini akan dianggap wajar jika seorang guru memaksakan seorang murid menggunakan Jilbab.

Mengapa Memaksakan Murid Menggunakan Jilbab itu Salah?

Cobalah pahami. Jika di dalam beragama Islam saja ada semacam konsep La iqra ha fiddin (agama bukan paksaan). Lantas, mengapa kita memaksakan kehendak, untuk memaksa murid yang tidak nyaman atau tidak mau menggunakan Jilbab? Apalagi di sekolah Negeri telah memiliki semacam aturan tentang hak kebebasan seorang Siswa/I di dalam beragama atau-pun dalam konteks mau menggunakan jilbab atau tidak. Hal ini (sesuai SKB 3 Menteri) yang seharusnya dipatuhi.  

Tentu, dalam kasus pemaksaan menggunakan jilbab ini, kita harus paham. Bahwa, sikap memaksakan kehendak yang semacam ini adalah “racun” dan akan membawa dampak mudharat. Pertama, ini secara tidak langsung akan merusak psikis anak dan sebagai mana yang kita tahu. Anak yang dipaksakan menggunakan Jilbab, saat ini sedang depresi dan bahkan tidak mau keluar rumah. Kedua, jalan pemaksaan yang semacam itu, sesungguhnya akan menanamkan bibit intoleransi dan radikalisme terhadap anak sejak dini di sekolah.

Pertama, bukan keputusan yang tepat dan bahkan sangat keliru. Jika, seorang guru BK (Bimbingan Konseling) justru bersikap memaksa terhadap murid yang tidak mau menggunakan jilbab. Meskipun dengan satu alasan, dia beragama Islam. Sebab, tindakan yang semacam itu, tidak akan membawa perubahan yang positif, melainkan akan membawa kemudharatan yang sangat negatif.

Sebagaimana, dengan cara memaksa, anak-anak di Sekolah pasti mengalami semacam depresi, rasa takut, trauma untuk kembali bersekolah dan bahkan bisa saja anak yang diperlakukan semacam itu akan mengalami (gangguan mental). Jadi, sikap memaksa jelas sangat keliru, kurang bijak dan bahkan ini akan membawa dampak buruk bagi perkembangan seorang murid tersebut.

Bahkan, di dalam keputusan SKB 3 Menteri, sangatlah jelas. Bahwa, ada hak kebebasan seorang murid di dalam beragama atau-pun menggunakan jilbab atau tidak. Maka, hal ini jelas sebagai satu kebijakan yang seharusnya dipatuhi oleh guru yang bersangkutan. Bukan dilanggar dan justru mencari dalih kebenaran untuk membela sikap yang keliru itu, apalagi dilakukan oleh guru BK.

Kedua, tanpa disadari, sikap memaksa yang semacam itu, secara tidak langsung akan menanamkan bibit-bibit intoleransi dan radikalisme terhadap anak-anak di sekolah. Mengapa? jelas, memaksakan seorang murid menggunakan Jilbab itu adalah sikap yang diskriminatif dan tidak mau menghargai pilihan seorang murid yang tidak nyaman menggunakan Jilbab.

Jadi, sebagai sikap yang keliru dan kurang bijaksana. Ketika seorang guru BK yang seharusnya (membimbing, mengayomi dan mendidik) anak di sekolah. Justru memaksakan kehendak dan bertindak secara paksa agar muridnya menggunakan jilbab. Sebab, tindakan ini akan merusak mental anak dan akan menanam bibit-bibit intoleransi dan radikalisme di sekolah jika tidak segera kita berantas.

Facebook Comments