Sekolah Bukan Sarang Radikalisme

Sekolah Bukan Sarang Radikalisme

- in Suara Kita
217
2
Sekolah Bukan Sarang Radikalisme

Pendidikan sejatinya mempunya tujuan mulia untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan ini dalam konteks kelembagaan diemban oleh sekolah sebagai institusi formal Pendidikan.

Dari tujuan tersebut, sekolah mempunyai peran penting tidak hanya mencerdaskan, tetapi mendidik dan membentuk karakter peserta didik. Termasuk Pendidikan merupakan institusi penting untuk membentengi pengetahuan, paham dan ajaran yang dapat merusak pola pikir masyarakat.

Salah satu ancaman paham yang dapat membahayakan terhadap generasi muda saat ini adalah paham radikal. Di sinilah menjadi sangat penting untuk menjadikan lembaga Pendidikan sebagai instrument dalam mencegah merebaknya paham kekerasan dan terorisme. Melalui lembaga pendidikan untuk anak-anak ditempa untuk mengembangkan sikap toleransi, kebersamaan, kepedulian dan pandangan mdoerat sehingga dapat menjadi daya tangkal masuknya pemikiran radikal terhadap anak-anak.

Radikalisme Menyusup Sekolah

Namun, upaya menjadikan sekolah menjadi tempat untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan rasa toleransi bukan tanpa masalah.  Saat ini justru sekolah menjadi target dan “sarang” penyebaran dan tumbuhnya paham radikal sejak usia dini. Banyak cara dan pintu masuk paham radikal ke lingkungan sekolah yang dapat merusak mental dan pemahaman anak generasi penerus bangsa.

Baca juga : Anak, Radikalisme, dan Pendidikan Usia Dini

Paparan paham radikalisme  ke dalam lingkungan sekolah ternyata memanfaatkan beebrapa instrument seperti aktivitas pembelajaran di kelas oleh guru, melalui buku pelajaran yang diduga memuat konten intoleransi, pengaruh alumni yang disalurkan dalam kegiatan kesiswaan di sekolah dan lemahnya kebijakan kepala sekolah/yayasan dalam mencegah masuknya pengaruh radikalisme. Penelitian Maarif Instute tahun 2017, misalnya, menyimpulkan saran infiltrasi radikalisme ke sekolah melalui tiga pintu: melalui guru, alumni dan kebijakan sekolah.

Apakah kekhawatiran merebaknya paham radikal di sekolah itu sesuatu yang dilebih-lebihkan? Beberapa riset dan survey sebenarnya telah mengukur fenomena tersebut. Pada tahun 2016 Survey Toleransi Pelajar Indonesia yang dilakukan oleh Setara Institute menyimpulkan bahwa 35,7% siswa memiliki paham intoleran dalam tataran pemikiran, 2,4% persen sudah menunjukkan sikap intoleran dalam tindakan dan perkataan dan 0,3% berpotensi menjadi teroris. Survei ini dilakukan terhadap 760 responden yang sedang menempuh pendidikan SMA Negeri di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.

Menolak Radikal

Saya kira ini sudah pada tahap yang perlu mendapatkan perhatian serius oleh semua pihak. Pendidikan banyak diandalkan oleh orang tua untuk mempercayakan anaknya dalam mengembangkan diri dan membekali diri di masa yang akan datang. Tentu akan menjadi persoalan besar jika sekolah justru menjadi instrument penumbuhan paham dan pandangan yang bertentangan dengan wawasan kebangsaan dan jati diri bangsa.

Kunci utama dalam menyelesaikan problem radikalisasi anak di sekolah adalah kebersamaan dan kepedulian semua pihak dalam sistem Pendidikan. Karena Pendidikan sebagai sistem tidak hanya tentang guru, pelajaran, dan kurikulum, tetapi juga ada orang tua. Keseluruhan elemen sistem ini menjadi kunci untuk menghadang laju radikalisme anak melalui Pendidikan.

Pertama, guru, misalnya, harus dapat menjadi pendidik yang benar-benar mendidik dan mengembangkan perserta didik untuk memeliki karakter yang baik. Pendidik yang baik tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi kecakapan dan karakter yang baik dari peserta didik. Semua guru mata pelajaran apapun harus memberikan wawasan kebangsaan terhadap perserta didik sebagai bagian dari jati diri.

Kedua, pola dan metode pembelajaran. Pola pembelajaran harus memberikan praktik pembelajaran yang menarik, kreatif, berpikir kritis dan berpusat pada siswa. Mendidik itu bukan proses indoktrinasi. Tapi proses pembangunan karakter melalui argumen dan dialog kritis guru dan siswa.

Ketiga, Kepala sekolah harus memastikan lingkungan sosial sekolahnya bersih dari praktik kegiatan ekstrakurikuler dan bahan ajar yang radikal. Tidak boleh lagi ada kilah dan alasan sekolah kecolongan. Kecolongan artinya ada sistem yang buruk dan lemah dari sekolah dalam melakukan pengawasan dan pembinaan.

Keempat, orang tua bukan sekedar pembeli jasa Pendidikan ke sekolah. Orang tua harus aktif dalam memantau perkembangan anaknya di luar sekolah. Ketidakpedulian orang tua tentu menjadi lahan subur bagi masuknya virus radikal yang menjangkiti anak tanpa sepengatahuan orang tua.

Facebook Comments