Selamat Jalan Penebar Kedamaian, KH Dimyati Rois

Selamat Jalan Penebar Kedamaian, KH Dimyati Rois

- in Suara Kita
184
0
Selamat Jalan Penebar Kedamaian, KH Dimyati Rois

Umat muslim dan seluruh masyarakat Indonesia lagi-lagi kehilangan ulama kharismatik yang selalu menebar perdamaian, KH. Dimyati Rois. Pengasuh PP Al Fadhlu wal Fadhilah Kaliwungu yang juga Mustasyar PBNU ini dikenal sebagai sosok yang memiliki ilmu agama yang dalam. Namun demikian, dengan kedalaman ilmu yang ia miliki, bukan menjadikannya sebagai sosok yang angkuh dan “menantang” kepada siapa saja, melainkan semakin menjadikannya sebagai sosok yang menyamankan kepada sesama. Ia selalu bisa bersikap sederhana sehingga dapat berdamai dengan semua orang.

Dengan menjadi Ahlul Halli wal Aqd (AHWA) pada Muktamar NU di Jombang dan Lampung, Kealiman dan kebesaran nama KH Dimyati Rois tak terbantahkan lagi. Pun begigu, kesederhanaan tetap melekat pada dirinya. AHWA merupakan 9 ulama NU khos yang dipilih dengan kriteria beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah al Nahdliyah, wara’, zuhud, bersikap adil, berilmu (alim), integritas moral, tawadlu’, berpengaruh, dan mampu memimpin. Di Muktamar terakhir (Lampung), ia mendapatkan suara terbanyak dari 8 kiai khos lainnya.

Berdasarkan hasil tabulasi atau penghitungan akhir Muktamar NU ke-34, anggota AHWA terpilih antara lain, (1) KH Dimyati Rois dengan perolehan suara 503, (2) KH Ahmad Mustofa Bisri dengan perolehan 494 suara, (3) KH Ma’ruf Amin dengan perolehan 458, (4) KH Anwar Manshur dengan perolehan suara 408, (5) TGH Turmudzi Badaruddin dengan perolehan suara 403, (6) KH Miftachul Akhyar dengan perolehan suara 395, (7) KH Nurul Huda Jazuli dengan perolehan suara 385, (8) KH Ali Akbar Marbun dengan perolehan suara 309, dan (9) KH Zainal Abidin dengan perolehan suara 272.

Sikap sederhana KH. Dimyati Rois dapat disimak dalam kisah pisowanan santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ Kudus) kepada KH. Dimyati Rois Kaliwungu. Dikisahkan, saat PTYQ Kudus akan mengadakan Haflatul Hidzaq (Khataman Al-Qur’an), disepakati bahwa Kiai yang dimohon untuk mengisi acara adalah KH. Dimyati Rois. Saat itu pula diutus santri untuk sowan kepada KH. Dimyati Rois di Kaliwungu.

Ketika santri yang diutus untuk sowan sudah sampai di kediaman KH. Dimyati Rois, ia langsung menemui orang yang duduk di depan rumah. Santri ini pun bertanya kepada orang tersebut akan keberadaan KH. Dimyati Rois. Orang yang hanya mengenakan kaos oblong itupun mengabarkan bahwa KH. Dimyati Rois ada dan mempersilakan santri masuk ke dalam rumah. Selang beberapa saat, santri itu pun terkejut manakala mengetahui bahwa orang yang ditanyai adalah KH. Dimyati Rois. Santri ini pun merasa bersalah karena bersikap kepada KH. Dimyati Rois sebagaimana umumnya orang awam. Namun demikian, KH. Dimyati Rois tetap bersikap santai.

Hal senada juga terjadi saat KH. Dimyati Rois akan mengisi pengajian PTYQ Kudus. Beberapa orang duduk di sampingnya, tidak mengetahui bahwa dirinya adalah orang yang akan mengisi mauzah hasanah. Hal ini terjadi lantaran ia bersikap sederhana dalam bersikap dan berpakain. Ia tidak berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang lebih daripada orang lain, termasuk dalam berpakaian saat akan “manggung” sebagai pengisi acara inti.

Sikap sederhana, sabar sabar, baik hati dan ramah, dan mengajarkan ilmu yang sudah diamalkan yang dimiliki KH Dimyati Rois dirasakan oleh orang-orang terdekat, baik santri di Pondok Pesantren asuhannya ataupun jamaah mujahadah. Mereka merasa nyaman dengan “murabbi ruh” yang selalu menebar kedamaian.

Sikap-sikap baik yang telah diteladankan oleh KH Dimyati Rois ini mesti dilestarikan oleh seluruh umat tanpa adanya batasan. Karena dengan begitu, keharmonisan menjalani kehidupan akan dapat dirasakan bersama.

Praktik-praktik radikalisme yang selalu menjadi teror seluruh masyarakat pun akan sirna. Selamat jalan KH Dimyati Rois, ajaran kedamaianmu semoga bisa dilestarikan.

Facebook Comments