Semangat Berkurban: Semangat Menjauhi Kejumudan Intelektual

Semangat Berkurban: Semangat Menjauhi Kejumudan Intelektual

- in Suara Kita
152
0
Semangat Berkurban: Semangat Menjauhi Kejumudan Intelektual

Baru-baru ini kita kembali mendapati informasi mengenai peristiwa yang menggambarkan kejumudan intelektual, di mana terdapat beberapa orang yang mengatasnamakan salah satu kelompok masyarakat dengan agama tertentu melakukan aksi sweeping terhadap sejumlah literatur. Secara sekilas hal ini bisa menunjukkan kepada kita bahwa kejadian di kota Makasar merupakan sebentuk representasi dari banyak-nya pihak yang sangat anti terhadap literasi dan menyenangi populernya semangat-semangat populisme. Pemikiran semacam ini tidaklah hadir tanpa latar yang mendukungnya, apalagi hal ini bukanlah peristiwa pertama.

Bila kita memperhatikan penjelasan dari kelompok yang melakukan aksi sweeping tersebut, maka kita akan mendapati gambaran pemikiran yang senada dengan beberapa kejadian serupa sebelumnya. Dengan menghadirkan ketakutan terhadap pemikiran yang dianggap pemikiran kiri, gerombolan tersebut seolah berkeinginan menghadirkan semacam histeria tentang kisah masa silam yang sejatinya bahkan belum jelas kebenaran yang sesungguhnya.

Dari sini kita mendapati hal menarik, yaitu tidakkah kita perlu juga mengetahui apa sesungguhnya konten dari pemikiran kiri ini. Karena selain kecurigaan dan rasa penasaran merupakan bagian dari sisi seorang manusia, kita juga mengetahui bahwa sejarah manusia adalah sejarah perlawanan. Setidaknya seorang Michael Foucault, seorang filsuf besar dari Perancis, menandaskannya dengan gagasan, “di mana ada represi kekuasaan, maka di situ ada resistensi”.

Selanjutnya mari kita telaah implikasi yang mungkin hadir akibat keadaan semacam ini. Hal demikian bertujuan untuk mewaspadai segala potensi yang kurang baik sebelum kemudian kita mencoba mendekati segala hal yang memungkinkan kita untuk menguraikan masalah. Dari pengamatan seorang Hannah Arendt, filsuf besar yang cukup menyoroti segala penyebab dan implikasi dari fasisme Nazi, memungkinkan kita memahami pandangan kritis tentang manusia dan sisi tergelapnya.

Baca Juga : Idul Adha dan Toleransi Ala Sunan Kudus

Dalam salah satu magnum opus-nya yang populer berjudul Eichman in Jerussalem: a report on the banality of evil, kita diajak untuk masuk dan belajar mengenai cara pandang seorang Eichman, perwira Nazi yang mendapat tuntutan berat dalam pengadilan tentang kekerasan yang dilakukan Nazi terhadap masyarakat Yahudi. Dalam pengadilan tersebut Arendt melihat bahwa seorang Eichman sama sekali tidak merasa bersalah atas segala tindakannya dan perintahnya tersebut. Bagi Eichman apa yang dilakukannya semata merupakan sebuah kewajiban untuk mematuhi perintah. Bagi Hannah Arendt hal demikian bukanlah sebentuk kebodohan melainkan secara sederhana dapat dimaknai sebagai ketidak-berfikiran (Thoughtlessness). Yang pada gilirannya memungkinkan pelanggengan tindak kejahatan atau bisa disebut dengan banalitas kejahatan.

Kontempelasi Berkurban untuk Intelektual

Secara sederhana Thoughtlessness hadir karena absennya keinginan untuk memahami realitas dari pandangan yang beragam, termasuk dari pandangan kritis yang biasa disebut sebagai pandangan kiri. Keadaan ini hadir selain karena hilangnya keinginan juga lantaran mendapat tekanan kuat dari beragam bentuk aktivitas represi. Dalam konteks kasus anti literasi di atas, represi itu hadir dalam bentuk tekanan dan sweeping dari kelompok tersebut. Represi semacam ini tentu potensial untuk mengumandangkan pesan ketakutan terhadap segala hal yang dianggap kritis.

Selain itu bila hal ini tidak dibaca secara komprehensif dan berpotensi meluas, maka kemungkinan hal-hal demikian berulang di tempat lain sangatlah kuat. Perlu diingat bahwa membuat langkah awal-lah yang sulit, sementara membuat langkah selanjutnya relatif lebih mudah. Sehingga tidak ada jalan lain selain mengumandangkan secara simultan aktivitas resistensi terhadap hal demikian.

Dengan memboncengi semangat berkurban, mestinya kita mampu melihat bahwa dobrakan kejumudan intelektual merupakan tuntutan yang mendesak hari ini. Kita mesti paham bahwa agama hadir bukan untuk Tuhan dan juga tidak hadir dalam ruang hampa. Sehingga setiap ritus tertentu dalama agama, sejatinya hadir untuk manusia. Untuk konteks semangat berkurban, kita bisa melihat urgensitas berkontempelasi dalam menghadirkan intelektualitas guna mencegah kejumudan melalui kepasrahan belajar ikhlas berbagi dengan sesama.

Perlu diingat bahwa sebelum kita berbagi, maka hal pertama yang mesti hadir adalah kepemilikan terlebih dahulu. Sehingga setelahnya yang kita miliki tersebut barulah dapat kita bagi. Atas nama kebaikan bersama, maka semestinya kita tidak membatasi diri dalam mengkonsumsi beragam literatur yang ada. Tujuannya agar kita kemudian belajar dengan lebih baik melihat realitas. Sehingga kita bisa semakin berupaya menghindari keburukan dan menghadirkan beragam manfaat bagi sesama, melalui tindakan dan fikiran kita.

Dengan memberangus paradigma lain, melalui sweeping literatur yang dianggap “kiri” sama saja dengan membatasi diri untuk belajar – yang pada akhirnya membatasi pengetahuan yang mungkin kita bagi nantinya. Perlu kita ingat bersama persoalan mengenai manusia tidak mungkin hanya dilihat dari salah satu aspek saja.

Melalui beragam literatur kiri, kita dimungkinkan untuk belajar melihat fenomena kritis yang pada gilirannya memungkinkan kita untuk mempelajari manusia dan segala persoalannya. Tujuannya sekali lagi untuk mencarikan jalan keluar. Bila sudah demikian, apatah lagi yang mesti ditunggu? mari menggunakan semangat berkurban untuk menghentikan kejumudan intelektualitas sehingga apa yang kita bagi bisa lebih berwarna dalam melihat manusia.

Facebook Comments